Produk Anak Bandung Dipakai Pemusik Dunia

Jumat, 24 Jan 2014

KETIKA sebuah merek mulai menyeruak ke permukaan orang akan mencari tahu dimana merek ini diproduk. Dalam negeri? Luar negeri? Tidak sedikit yang terkecoh jika hanya membaca nama yang berbau asing. Sebut saja produk busana bermerek Petersaysdenim, sepintas orang akan menyangka bahwa ini adalah produk luar negeri, ternyata itu adalah produk Bandung yang digarap oleh seorang pemuda yang terhimpit tekanan ekonomi.

Peter Firmansyah yang kini sudah beromset milyaran rupiah berasal dari keluarga sederhana yang hanya mengandalkan hasil kerja seorang ayah.

Namun bencana datang seketika ketika ayahnya harus menerima SK PHK dari perusahaan dimana di bekerja sehingga mengakibatkan keluarga Peter hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Peter kecil menjadi akran dengan kemiskinan, padahal di usianya yang masih remaja dan masih duduk di banhgku SMP memiliki berbagai keinginan selayaknya anak seusianya.

Sewaktu duduik di bangku SMA, Peter terbiasa pergi kekawasan perdagangan pakaian di Cibadak yang oleh warga Bandung diplesetkan menjadi Cimol alias Cibadak Mall. Di situ Peter mencari produk pakaian bermerek tapi dengan harga yang murah.

Selepas SMA Peter merlanjutkan pendidikan ke sbuah universitas swasta di Bandung, namun biaya masuk perguruan tinggi yangsangat berat membuat Peter tak bisa melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi tersebut. Kecewa atas ulah Peter, orang tuanya mengusir Peter dari rumah.

Peterpun mulai berusaha menghidupi diri sendiri, dengan bekerja sebagai karyawan toko. Penghasilannya disisihkan sedikit demi sedikit sebagai modal. Berbekal keahliannya membuat pakaian, Peter selain menjalankan tugas utama sebagai karyawan toko, dia pun memenuhi pesanan busana. Dalam sebulan Peter bisa merampungkan 100 potong jaket, sweeter atau kaos. Keuntungan yang diperoleh antara Rp10 ribu – Rp20 ribu per potong.

Kebiasaannya mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima membawa Peter ke suatu dunia fesyen (fashion) dengan berbagai model dan gaya. Kini peter sudah memiliki usaha dan memproduksi sendiri berbagai jenis busana yang diekspor ke manca negara.

Tak butuh waktu lama Peter merambah dunia tersebut. hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun sejak dia membuka usaha pada November 2008. Kini busana seperti jins, kaos dan topi yang meggunakan merk Petersaysdenim sudah mendunia bahkan ada pemusik bule yang menggunakan produksi perter tersebut.
Sebut saja kelompok musik Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes dari AS. I’am Commiting a Sin dan Silverstein dari Kanada serta Not Called Jins dari Jerman dengan bangga mengenakan produksi Peter saat menggelar pertunjukan. Bahkan dalam situs resmi group band ini, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Tak pelak lagi Petersaysdenim kini bersanding dengan merek-merek terkenal lainnya seperti Gibson, Fender, Peavey dan Machbeth sebagai sponsor pemusik pemusik tersebut.

Peter yang gemar membuat perubahan pada produksinya terus bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, bahkan harga produksinyapun sangat bersaing dengan merek lain yang sudah duluan memelan pasar.Harga Jins produksi Peter mulai dari Rp385 ribu, topi mulai dari harga Rp200 ribu tas Rp235 ribu dan kaos mulai dari harga Rp200 ribu.

Hasrat Peter terhadap busana bermutu numbuh saat dia duduk di bangku SMA. Hasrat itu membawa Peter memilih bekerja menjadi pegawai toko pada 2003. Disitu dia banyak melihat para konsumen dari berbagai kalangan dengan busana beraneka ragam dan tentunya dengan harga bervariasi. Harga celana jins yang mereka kenakan saja, kata Peter, berkisar tiga jutaan. Sementara yang saya kenakan hanya yang bisa saya beki di pedagang kaki lima, lanjut Peter. “Sayapun berniat untuk mengembangkan usaha di bidang ini setelah melihat peluang yang ada di depan mata saya,”

Peter tak luput dari pengalaman pahit yang menderanya. Pada 2008 dia ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senikai Rp14 juta. Pesanannya tidak dikerjakan [adahal suah menerima uang muka Rp 7 juta. Peter juga pernah mengalami pengalaman yang tidak kalah pahitnya pada 2007. Pesanan Jins senilai 30 juta tidak dibayar oleh si pemesan.

Namun pengalaman pengalaman pahit itu tidak menyurutkan langkahnya untuk maju, Peter kini sudah bisa mandiri bahkan mampu membiayai pendidikan tiga adiknya, satu diantaranya sudah sampai ke Perguruan Tinggi. Pengalaman pendidikan yang tersendat karena faktor biaya memacu Peter untuk mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan ke perguruan tinggi. Peterpun bisa membelikan mobil untuk orang tuanya sekaligus merenovasi rumah mereka di jalan Padasuka, Bandung. “Sampai saat ini saya tetap yakin bahwa kesuksesan saya tidak lepas dari peranan dan doa orang tua serta kerja keras. Saya memang ingin membahagiakan orang tua,” katanya.

Merk Petersaydenim berasal dari Peter Says Sorry, yang merupakan sebuah Group Band dimana Peter berperan sebagai vocalist.

Lantas bagaimana Peter menemukan pasar yang kini sudah dalam genggamannya? Tanpa segan dia menyebutkan menggunakan jejaring sosial seperti facebook, tweeter dan surel untuk promosi dan berkomunikasi. Saat ini, katanya, dia sering berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim melalui jejaring sosial tersebut. Peter berpesan ‘siapapun dia kalau punya keinginan dan bekerja keras pasti Tuhan akan membuka jalan menuju kesuksesan’. Bravo Peter ….