Menabur Kesempatan Untuk Entreprenur Desa

Rabu, 29 Jan 2014

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

PADA acara peringatan Ulang Tahun Yayasan Damandiri yang ke 18, tanggal 15 Januari lalu di Yogyakarta, diumumkan bahwa selama beberapa tahun ini telah dapat dibantu sekitar 1,2 juta keluarga menjadi pengusaha baru, disamping keluarga yang sedang berkembang memperluas usahanya. Yang menarik adalah bahwa sejak dua tahun terakhir telah diperkenalkan skim tabungan dan kredit baru, pengganti Takesra Kukesra, dengan nama Tabur Puja, yang membuka kesempatan bagi keluarga pra sejahtera, bergabung keluarga sejahtera, belajar menabung dan mengambil kredit maksimum Rp. 2 juta, tanpa agunan. Keluarga yang bersangkutan disyaratkan harus bersahabat dengan tetangganya sesama anggota Posdaya untuk mengembangkan tanggung renteng sesama rekan-rekannya dalam Posdaya yang sama.

Untuk mendapatkan kesempatan menabung dan mengambil kredit dalam skim Tabur Puja tersebut, setiap Posdaya yang berminat perlu menyegarkan budaya hidup gotong-royong diantara anggotanya agar keluarga yang lebih sejahtera, misalnya keluarga sejahtera III dan III plus, utamanya yang mempunyai usaha ekonomi produktif, dapat membantu keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I, belajar usaha dengan berbagai pelatihan ketrampilan. Akan sangat ideal apabila keluarga atau perorangan yang sudah mempunyai usaha dapat mengajak keluarga pra sejahtera untuk magang dalam usahanya. Magang bukan sekedar ikut dalam kegiatan usahanya tetapi dituntun dan diajari berusaha.

Bisa juga dengan bantuan pihak luar seperti mahasiswa KKN tematik Posdaya, Pengurus Posdaya menyelenggarakan pelatihan usaha dengan guru yang berasal dari pengusaha setempat atau pelatih khusus dengan mengikut-sertakan pengusaha setempat sebagai tenaga pendamping.

Pelatihan ini adalah upaya agar keluarga pra sejahtera dapat belajar ketrampilan untuk memulai usaha. Pendampingan dimaksudkan untuk pada saatnya keluarga yang mempunyai usaha dalam kegiatan Posdaya dapat mendampingi keluarga pra sejahtera yang akan membuka usaha. Pendampingan ini diperlukan karena pembukaan suatu usaha pasti mengalami kesulitan dan pasang surut yang kalau tidak didampingi akan menyebabkan putus asa dan berhenti berusaha.
Pendampingan oleh pengusaha setempat itu dimaksudkan agar pengusaha itu merasakan bahwa usaha yang baru tumbuh bukan saingannya, tetapi adalah usaha bersama dalam kerjasama Posdaya untuk mengangkat keluarga pra sejahtera yang kalau tidak ditolong akan jatuh miskin dan memerlukan pertolongan yang panjang dan melelahkan. Padahal kalau didampingi membuka usaha, dikemudian hari akan menjadi keluarga mandiri yang tidak perlu lagi ditolong seumur hidupnya.

Yang menarik perhatian dari pengumuman pada saat Rapat Kerja Mitra Yayasan Damandiri itu adalah bahwa di sekitar Jabodetabek, melalui Koperasi Sudara Indra, seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, melalui Bank UMKM, dan daerah lainnya, telah dihimpun dana sekitar Rp. 3,6 milyar berupa tabungan Tabur Puja dari keluarga yang semula termasuk dalam kategori pra sejahtera. Kepada mereka, sampai dengan bulan Desember 2013, telah disalurkan kredit Tabur Puja secara kumulatif kepada 365.642 keluarga atau nasabah, dengan jumlah kredit secara kumulatif sebanyak Rp. 515,222 milyar dengan rata-rata untuk setiap nasabahnya sebesar Rp. 1,409 juta.

Kesempatan menabung bagi setiap keluarga pra sejahtera yang menggeluti usaha itu sekaligus menjadi kesempatan untuk memupuk modal pribadi dan meningkatkan kemampuan untuk mengumpulkan agunan agar di kemudian hari bisa menjadi pengusaha mandiri. Sebagai pengusaha mandiri, disertai kemampuan secara pribadi mengumpulkan dana tabungan itu, maka keluarga yang bersangkutan bisa masuk dalam kategori yang lebih mampu sehingga dapat mengambil pinjaman lebih dari batas maksimum Tabur Puja, yaitu lebih dari Rp. 2 juta. Kesempatan ini mendorong setiap keluarga yang menjadi nasabah sekaligus menabung dengan rajin. Biarpun jumlah tabungannya tidak seberapa, tetapi kegiatan menabung itu merupakan pelajaran berharga untuk berpikir visioner agar bisa menjadi pengusaha yang lebih besar dengan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Skim Tabur Puja tersebut merupakan praktek yang sangat mengena untuk pengentasan kemiskinan dengan sistem kerja cerdas dan keras sekaligus menyegarkan budaya gotong-royong diantara keluarga yang bergabung dalam Posdaya. Keluarga dengan usaha tersebut, di daerah tertentu seperti di Kulon Progo, Bantul dan Pacitan, mulai mengembangkan warung di rumah masing-masing. Ada yang mengembangkan warung bersama beberapa keluarga, ada pula yang mengembangkan warung secara pribadi. Keluarga mengembangkan warung secara bersama menjadi seakan seperti koperasi biarpun belum memiliki tanda daftar atau menggabungkan dirinya dalam bentuk koperasi yang berbadan hukum. Mereka mengetrapkan prinsip-prinsip koperasi dan diharapkan di masa depan akan menjadi koperasi atau usaha bisnis yang berbadan hukum dan mengembangkan usahanya secara mandiri dengan kepercayaan bank yang tinggi.

Prinsip-prinsip itu menjadi bagian dari proses pemberdayaan dalam bidang ekonomi dengan usaha warung, pengembangan rumput laut di daerah air payau di pantai-pantai dengan memanfaatkan lahan yang tidak banyak gunanya. Juga sedang dikembangkan tambak udang sistem Busmetik, yaitu tambak udang dengan lahan terbatas, dengan plastik dan panennya sekitar 100 hari dari saat benur ditabur. Di daerah daratan dicoba, sesuai dengan kondisi lokal jenis pertanian seperti penanaman pisang cavendish, singkong dan pengolahannya, tambak lele dengan pengolahannya, dan pertanian maupun perikanan sesuai dengan kondisi lokal. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Damandiri, www.haryono.com).

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015