Kue Serabi Buatan Sarjana Teknik Mesin

Jumat, 4 Apr 2014

KESIBUKAN laki-laki muda ini diawal Juni tahun lalu menjadi pemandangan tersendiri di sebuah toko yang terletak di jalan T. Iskandar, Lambhuk, Kota Banda Aceh. Mondar mandir ke sana ke mari sambil sesekali melepas senyumannya membuat suasana di toko kecil itu menjadi sejuk.

Dia sangat sibuk melayani para pengunjung. Tujuh meja plastik yang di taruh di halaman toko dipenuhi puluhan gadis remaja yang terus membolak balik daftar menu. Beberapa saat kemudian, pelayanpun dipanggil untuk menentukan olesanan mereka. Begitulah suasana saban hari di tempat ini. Disitu dihidangkan Surabi Bantai, penganan tradisional yang dikemas dengan konsep modern di Banda Aceh. Bagi kebanyakan orang Aceh kue serabi sudah sangat familiar. Penganan berbahan baku tepung yang dimakan dengan kuah santan. Berbentuk bulat, dengan permukaan kenyal.

Siapa sangka lezatnya Surabi Bantai itu ternyata lahir dari sentuhan tangan dingin pemuda lulusan Teknik Mesin. Alih-alih ingin membuat mesin, eh malah ia membuat kue. Pemuda itu bernama Rivai Fadli. Lahir di Aceh Jaya, tahun 1985.

Bagi Rivai kuliah hanya untuk membuka wawasan dan membentuk pola pikir. Bukan berarti ketika kuliah mengambil jurusan hukum anda harus menjadi seorang pengacara. Ia sendiri justru lebih tertarik bergelut di dunia bisnis, meskipun ia tak mengantongi ijazah ekonomi.

Omset yang didapat dari bisnis kuliner ini setiap bulan mencapai Rp90 juta. Bila dikurangi biaya produksi dan operasional lainnya, laba bersih yang masuk ke kantongnya berkisar Rp35 juta – Rp45 juta perbulan. Membangun usaha mandiri memang tak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan dan kesabaran. Jatuh, bangun dalam membangun usahanya dialami Rivai. Pria yang sudah menikah ini tiga kali mengalami kegagalan. Namun ia tak menyerah justru baginya gagal itu adalah pelajaran tambahan agar ia lebih siap menyambut kesuksesan.

Dan kini apa yang diucapkan terbukti sudah. Bisnis kuliner surabi bantai adalah satu-satunya eksperimen yang berakhir manis. “Saat itu saya jalan-jalan ke Bandung. Usaha ayam panggang baru saja saya tutup. Jadi saya refresing ke sana, siapa tahu dapat ide baru. Di kota Bandung saya melihat, mempelajari bagaimana orang di sana mengelola bisnis kuliner sederhana tapi laku. Saya lihat di Bandung banyak makanan-makanan tradisional yang konsep penjualannya secara modern,” jelas Rivai. Sesekali ia meminta izin karena harus melayani para pengunjung.

Di kota Bandung saya melihat, mempelajari bagaimana orang di sana mengelola bisnis kuliner sederhana tapi laku. Saya lihat di Bandung banyak makanan-makanan tradisional yang konsep penjualannya secara modern

Dari hasil observasi itu maka timbullah ide untuk membuat kue tradisional Aceh dengan konsep madern. Dan pilihannya jatuh pada kue serabi. Kenapa serabi? “Serabi salah satu kue tradisional yang paling mudah ditemukan di Aceh,” jawab Rivai serius. Sejak pulang dari Bandung, Rivai giat belajar membuat kue serabi. Berbekal tips-tips dari buku dan internet ia terus mencoba. “Tiga bulan kerjaan saya hanya bikin kue serabi. Pertama buat rasanya aneh banget,” katanya mengenang masa lalu.

Dengan modal awal Rp15 Jutaia membeli peralatan seperti gerobak, peralatan masak, tepung dan beberapa buah meja serta kursi plastik. Ia memilih lokasi di depan pertokoan dekat dengan jalan utama Lambhuk. Awal berjualan orang-orang penasaran makanan jenis apa surabi bantai. Apalagi tersedia dalam beraneka rasa. Ada rasa coklat, rasa keju, saos, sosis dan telor. “Pertama buka orang pada ketawa, bingung, penasaran. Kok ada ya, serabi rasa sosis. Akhirnya mereka coba, dan ternyata enak, besoknya bahkan mereka minta ditambah rasa-rasa yang lain,” ujarnya.

Bagi Rivai masukan dari pelanggan menjadi ilmu yang berharga. Bahkan ia sangat senang kalau ada pelanggan yang cerewet. Dengan begitu ia bisa tahu apa kekurangan dari makanan yang ia sajikan. “Saya suka dikritik, kalau tidak dikritik saya tidak tahu apa kekurangan masakan saya. Misal hari ini ada pelanggan yang bilang ‘serabinya terlalu lembek’, ya besoknya saya buat jangan terlalu lembek,” katanya membuka konsep dalam berbisnis.

Satu tahun kemudian, Rivai memindahkan gerobaknya ke tempat yang lebih bagus. Kini ia menyewa satu unit toko dua lantai. Di tempat yang baru nama surabi bantai semakin meroket. Kini surabi bantai sudah punya langganan tetap. Dan satu hal lagi yang harus diberi apresiasi, kini ia memiliki 12 karyawan. Ke depan Rivai berniat untuk membuka outlet surabi bantai di Banda Aceh. Targetnya usai lebaran tahun ini. Mimpi besar lain yang ia tanam adalah menjadikan surabi bantai salah satu usaha berbasis franchise. Semoga mimpi itu terwujud. Sukses dan maju terus Rivai … (hasyim)