Sail Raja Ampat ‘Rusak’ Taman Nasional Lorents Papua

Rabu, 9 Apr 2014

JAKARTA (Pos Sore) — Sail Raja Ampat di Pantai Waisei Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat, dipastikan digelar pada 21 Juni 2014. Sebagaimana sail-sail sebelumnya, even ini bertujuan menggerakkan pembangunan dan menjadi ajang promosi Indonesia pada dunia tersebut.

Ada sejumlah kegiatan dari Sail Raja Ampat 2014, di antaranya Pelayaran Lingkar Nusantara, Ekspedisi Riset Kelautan, Reli Kapal Layar (yacht rally), olahraga bahari, Festival Danau Sentani 2014, dan pameran potensi daerah.

“Kesiapan sudah mencapai 70%, mulai dari perpanjangan lintasan bandara, pembangunan dermaga dan infrastruktur jalan, hingga sarana tempat menginap peserta,” kata Kepala Deputi bidang Koordinasi Strategis Bidang Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kemenko Kesra, Haswan Yunaz, dalam acara ‘Deputy Meet The Press’, di Gedung Kemenko Kesra, Selasa (8/4).

Terkait hal ini, Menko Kesra, Agung Laksono, mengingatkan agar pembangunan infrastruktur jalan mempertimbangkan tata ruang setempat. Pembangunan jalan diharapkan tidak melintasi Taman Nasional Lorents Papua yang merupakan cagar alam warisan dunia versi UNESCO.

“Kami menolak karena nanti akan merusak komitmen kita untuk menjaga itu, kita akan carikan solusinya,” tandas Agung.

Hingga saat ini, dana yang telah dihabiskan untuk kesiapan Sail Raja Ampat tersebut sebanyak Rp 1,2 triliun dengan Rp 103 miliar dari Pemda Papua Barat dan sisanya ditanggung pemerintah pusat.

Haswan mengungkapkan, Taman Nasional Lorentz Papua, saat ini terancam dicoret Unesco sebagai warisan dunia. Penyebabnya, adanya proyek pembangunan jalan untuk mempermudah akses ke Sail Raja Ampat 2014 pada 21 Juni 2014. Tropical Rain Forest of Sumatra yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Taman Nasional Gunung Leuser, juga terancam dicoret.

“Karenanya, Indonesia diberi batas waktu 5 tahun untuk mempercantik 2 cagar tersebut,” tandasnya.

Penyebab bakal dicoretnya taman nasional di Sumatera karena adanya pengungsi tsunami yang menetap di 3 taman nasional tersebut dan perambah yang membangun perkebunan sawit di taman nasional tersebut.

“Jika 2 cagar alam di Indonesia dicoret dari Unesco akan berdampak pada penurunan jumlah turis. Sebab turis-turis itu berpatokan pada Unesco saat datang ke Indonesia. Kita akan kehilangan turis-turis yang datang ke Indonesia,” katanya.

Selain itu, ekosistem alam akan terancam. Pemerintah saat ini masih bernegosiasi dengan Unesco dan mengundang badan PBB itu untuk melihat dan memberi pertimbangan tentang kondisi yang sebenarnya. (tety)