Ritual Rutin itu Sudah Berlalu

Jumat, 11 Apr 2014

RITUAL  Rutin itu Sudah BerlaluRITUAL lima tahunan bangsa Indonesia itu usai sudah. Inilah pemilihan umum untuk memilih calon-calon anggota legislatif yang keempat sejak era reformasi bergulir menggantikan era Presiden Soeharto. Tanggal 9 April 2014 yang baru saja kita lewati dapat dikatakan sebagai momentum ‘’berubah atau tidaknya’’’ nasib bangsa Indonesia   ke depan, walau kita masih  harus  menunggu pemilihan presiden Juli atau  September mendatang.

Lazim di negara demokrasi,  setiap momentum  pemilu selalu melahirkan sejumlah harapan – — bahkan harapan-harapan besar yang  tak jarang  muluk-muluk  –  walau tren  atau kecenderungannya selalu pula melahirkan kekecewaan demi kekecewaan. Inilah rumusan yang dapat kita tangkap atau kita simpulkan terhadap  pemilihan umum itu sendiri. Karenanya, sah-sah saja jika kemudian, ada pihak yang begitu berharap dari setiap pemilu, ada pihak yang relatif biasa-biasa saja, bahkan ada pihak yang  pesimis sama sekali.

Salah satu kelompok dari pihak yang pesimis adalah sekelompok mahasiswa di Malang, Jawa Timur,  yang hanya dua hari sebelum hari  H pemilihan, melakukan aksi teatrikal; mengkritik pelaksanaan pemilu yang dinilai lebih sering menjadi ajang  pesta pora kaum berduit untuk mendapatkan suara rakyat kecil. Selanjutnya, rakyat akan kembali dilupakan dan ditinggalkan.

Aksi teatrikal itu sendiri disebut bertujuan mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih cerdas. Ajakan  simpati,  tapi agak kontradiktif. Pemilu dikritik sebagai ajang pesta pora kaum berduit. Tapi di pihak lain masyarakat bukannya diajak memboikot pemilu atau menjadi golput, mamun diajak menjadi pemilh cerdas.

Memang,  bagi seorang warga negara yang baik, bagi umumnya rakyat yang masih berharap, tak ada jalan lain selain menyadari bahwa untuk mengubah nasib, atau untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, adalah dengan ikut serta di dalam proses perubahan itu sendiri. Jika pemilu diartikan sebagai sebuah proses untuk perubahan ke arah yang lebih baik, maka tak ada jalan lain bagi rakyat selain berpartisipasi di dalamnya.

Pertanyaannya,  seberapa jauh atau seberapa besar pengaruh sikap masyarakat sebagai pemilih cerdas  terhadap kemungkinan perubahan nasibnya atau perubahan nasib bangsa ini. Pertanyaan ini menjadi sangat relevan, apabila kita mencermati performance masing-masing partai peserta pemilu itu .

Pengalaman lima tahun terakhir, bahkan sepuluh tahun sejak SBY berkuasa, secara substansial –  dapat  diukur dari idealisme partai yang seharusnya berpihak kepada rakyat – performance partai-partai peserta pemilu  itu  nyaris tak ada perbedaan. Bahkan, monoton. Ini, antara lain dapat dilihat dari sikap partai terhadap masalah-masalah yang dihadapi rakyat sehari-hari. Nyaris sama.Ketika pemerintah SBY  mempraktikkan  politik semua  bisa diimpor  – sampai-sampai ke cabe, bawang, dan garam — tak ada Parpol yang keberatan.

Ketika pemerintah menaikkan BBM tanpa diiringi perbaikan/ perubahan ke arah konversi energi secara nasonal dan massal, semua Parpol setuju  (kalau pun ada yang menolak, tak jelas ujungnya).  Ketika pemerintah berunding dengan para petambang asing yang arogan dan pemerintah cenderung menerima, semua partai diam. Banyak contoh yang dapat ditunjuk. Semua serba seragam. Semua serba yes.

Sudahlah pasti, di alam politik  semua serba yes ini, nasib rakyat tak akan berubah. Nasib bangsa yang pernah dikhawatirkan akan mengalami negara gagal, tak akan semakin baik. Pemilu  sekonyong-konyong bukan pertandingan kalah-menang.  Pemilu hanya sekadar ritual rutin,  sekadar kontes, yang melahirkan oligarkhi politik, sekumpulan orang-orang yang mengatur negara serta rakyat sesuai kesepakatan mereka semata. Soal perbaikan nasib rakyat, nanti saja pada pemilu lima tahun mendatang. Dijanjikan. (***)