City Tour Jakarta, Berwisata Sambil Belajar Sejarah Ibukota Indonesia

Jumat, 2 Mei 2014

Keliling Jakarta dengan bis wisata ‘City Tour Jakarta’ bukan sekedar mengitari jantung DKI Jakarta tanpa arti. Berwisata keliling ibu kota juga untuk membangkitkan nilai-nilai nasional kita karena lokasi-lokasi yang dilalui bus tingkat Jakarta ini mengandung nilai sejarah tinggi.

Jadi berwisata sekaligus menambah pengetahuan sejarah seputar DKI Jakarta yang belum tentu orang Jakarta sekalipun mengetahuinya. Berwisata pun jadi lebih menyenangkan.

Dengan kecepatan 20 kilometer per jam, bus melaju membelah jantung Kota Jakarta. Mengajak penumpang melihat obyek wisata menarik pada rute sepanjang 11 kilometer. Ada beberapa halte ‘City Tour’, yaitu Balai Kota, Bundaran HI, Museum Nasional, dan Juanda. Di halte-halte inilah masyarakat bisa menikmati keliling Jakarta dengan bis wisata yang untuk sementara ini, gratis.

Rute yang dilewati jika dari halte Balai Kota, adalah menyusuri jalan Thamrin, Medan Merdeka, dengan melewati Sarinah, Bundaran Hotel Indonesia, Museum Nasional, Pecenongan, Gedung Kesenian Jakarta, Juanda, Masjid Istiqlal, Monumen Nasional.

Masyarakat pun terlihat antusias berkeliling bis wisata ini. Minggu (27/4) masyarakat bersama keluarga dan anak-anak tampak rela menunggu antrian di sejumlah halte. Di bis wisata ini, masyarakat tak boleh ada yang berdiri atau hilir mudik di sepanjang koridor.

Suasana nyaman langsung terasa begitu melangkahkan kaki ke dalam bus ini. Interiornya terlihat bersih dan apik. Penumpang tidak perlu takut kepanasan karena memiliki fasilitas air conditioner (AC). Terdapat pula layar LCD yang menayangkan pariwisata Kota Jakarta.

Bus ini dikemudikan seorang pramudi (pengemudi wanita), kondektur, polisi pariwisata, dan pemandu wisata. Polisi wisata bertugas menjaga suasana di dalam bus agar tetap kondusif, pemandu wisata bertugas sebagai komunikator yang berinteraksi langsung dengan para penumpang, menginformasikan hal-hal menarik atau yang berkaitan dengan sejarah dari obyek tersebut.

Seperti saat melewati Sarinah, yang merupakan departemen store pertama di Indonesia, yang diresmikan oleh Presiden Soekarno. Atau menyusuri jalan Ir. H. Djuanda, pemandu menjelaskan nama Ir. H. Djuanda digunakan sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya yang telah memperjuangkan teritori lautan di Indonesia. Di perbatasan Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan Majapahit ada patung Dewa Hermes, yang dipercaya sebagai dewa perdagangan.

“Patung ini dibangun sebagai penanda wilayah Majapahit merupakan wilayah perdagangan,” papar pria pemandu wisata di bus tingkat city tour.

Perjalanan berlanjut ke Pecenongan, sentral kuliner di Jakarta. Kemudian melewati Pasar Baru, Gedung Kesenian Jakarta, lalu Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berlokasi berseberangan. Dua tempat ibadah ini simbol toleransi beragama di Indonesia. Kemudian melewati Monumen Masional yang pembangunannya diprakarsai oleh Presiden Soekarno.

“Ada yang tahu berapa tinggi Monas atau Museum Nasional. Diresmikan tahun berapa?” tanyanya pada penumpang saat melewati Monas.

Tak terasa, tidak sampai 1 jam, satu putaran rute city tour pun berakhir. Sungguh menyenangkan. Dengan fasilitas ini, berwisata di pusat kota Jakarta menjadi lebih mudah, murah, dan nyaman. (tety)