MENDIDIK RAKYAT MEMPERKUAT JATI DIRI DAN PARTISIPASI

Senin, 5 Mei 2014
Illustrasi: Kursi RI-1, siapa yang bakal duduk? (kesbangpol.kemendagri.go.id)

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

AKHIR  minggu lalu bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional dalam suasana bangsa Indonesia melalui Partai Politiknya sedang memilih putra bangsa terbaik untuk dicalonkan sebagai Presiden. Apabila tiba waktunya nanti, seluruh penduduk yang berhak memilih diharapkan tidak membuang kesempatan mempergunakan haknya menentukan pilihannya dengan penuh tanggung jawab.

Alam suasana hiruk pikuk itu diharapkan rakyat tetap tenang memberikan suasana damai uNtuk merenungkan bakal pilihan disertai doa agar pesta demokrasi untuk melakukan pilihan itu mendapat limpahan rahmat dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu ada baiknya renungan itu kita isi dengan pedoman jati diri bangsa agar pilihan yang kita ambil nanti benar-benar menjadi pilihan yang mendapatkan berkah dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus diarahkan untuk makin memperkuat jati diri bangsa.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 kita sepakat bahwa dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa diproklamirkan kemerdekaan bangsa, dengan janji bahwa secara sungguh-sungguh segala sesuatu selanjutnya akan diselesaikan dalam waktu singkat. Ini artinya kita harus berusaha agar segala sesuatu yang menyangkut harkat hidup orang banyak dan hal-hal penting lainnya segera diatur dengan baik dan berkelanjutan. Lebih dari itu kita juga sepakat mengembangkan bangsa ini sebagai bangsa yang berpedoman pada Pancasila dengan menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Kuasa sebagai sila yang pertama. Sila ini diikuti oleh sila kedua yang menyakatan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab.

Oleh karena itu kita harapkan agar dalam minggu tenang secara sungguh-sungguh kita tempatkan dua sila yang pertama tersebut sebagai pedoman yang sangat penting. Tidak boleh ada pikiran yang diarahkan untuk menjadikan bangsa ini tidak lagi sebagai bangsa yang beradab, apalagi menyalahi ajaran agama karena kita sudah komit untuk menjadi bangsa dengan jati diri yang diamanahkan sebagai bangsa yang iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita ingin menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang demokratis, menghargai pendapat orang lain secara terhormat. Bangsa yang dalam penghargaan yang demokratis itu bukan saja menghargai, tetapi memberikan ruang gerak yang sangat terhormat mempertimbangkan setiap pendapat dalam tatanan demokratis yang diunggulkan. Sesunguhnya, demokrasi yang dianut adalah demokrasi dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat, bukan demokrasi sekedar untuk menggelar beda pendapat dan untuk menyepakati perbedaan pendapat semata.

Demokrasi kita adalah musyawarah untuk mufakat, bukan sekedar berdebat atau berbicara mengembangkan perbedaan. Musyawarah itu adalah upaya untuk mencari kesamaan dan berbagai perbedaan yang diharapkan mengisi kekosongan, atau memperbaiki kekurangan yang karena kealpaan manusia bisa terjadi. Perbedaan yang ada dimanfatkan menggalang keputusan akhir yang dimusyarahkan dalam suasana kekeluargaan dan kegotong royongan untuk mencari putusan atau arahan terbaik agar selanjutnya diabdikan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat banyak.

Oleh karena itu, dalam suasana mengenang Hari Pendidikan Nasional dan menyongsong hari pemilihah calon Presiden dan Wakil Presiden, kita memperkuat dan mempertontonkan jati diri bangsa dengan dasar Pancasila melaui penterjemahan langkah-langkah secara konkret dalam bentuk sikap dan tingkah laku. Pemilihan umum perlu dilakukan bukan saja secara damai tetapi justru harus sanggup dijadikan perekat yang sangat kuat bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Kita memilih pemimpin untuk mempersatukan perbedaan dalam kebersamaan guna menyatukan arahan pokok untuk mencapai tujuan kemerdekaan. Pilihan itu adalah kepercayaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemimpinnya agar seluruh potensi pembangunan dapat dipadukan dan diabdikan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.

Presiden dan Wakil Presiden harus bekerja sama dengan para wakil anak bangsa yang beradab melaksanakan demokrasi bermusyarawah menghasilkan rumusan yang bisa dilaksanakan di lapagangan. Keputusan itu, apabila dilaksanakan mengantar rakyat banyak bekerja cerdas dan keras menjadikan masyarakat makin sejahtera.

Oleh karena itu, segera setelah Presiden terpilih dan mulai melaksanakan tugasnya, bersama menteri-menteri pembantunya, berdasarkan garis-garis besar program dan kegiatan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan bangsa, harus dilaksanakan dengan arahan dan bimbingan yang jelas agar rakyat banyak memberikan partisipasinya secara ikhlas. Program itu bukan hanya dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi segera dikembalikan kepada rakyat, dijadikan pedoman, dan dilaksanakan dengan pengantar dan dukungan penuh pemerintah.

Rakyat banyak diberikan bimbingan pemberdayaan yang bersahabat, karena dengan segala macam latar belakangnya, dapat dipersatukan menghasilkan kekuatan yang mandiri dan dinamis untuk disumbangkan sebagai pengantar dan pendamping program dan kegiatan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat banyak. Program yang dihantarkan itu harus menarik penyajiannya agar merangsang partisipasi dan dukungan masyarakat yang luas dan dinamik. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri , www.haryono.com).