Bambu Alternatif Substitusi Ketergantungan Serat Impor

JAKARTA–Kementerian Perindustrian tengah berupaya mengembangkan tanaman bambu sebagai alternatif pengganti serat untuk kebutuhan produksi tekstil dan alas kaki yang selama ini mengandalkan impor.
Konkretnya Kemenperin juga sudah membentuk Tim Pengembangan Bambu Nasional yang berada di Dirjen Kerjasama Industri Internasional Agus Tjahayana.

 “Karena kita sangat ketergantungan akan serat impor,makanya,kita terus kembangkan. Selama ini lebih dimanfaatkan untuk bahan baku furnitur.”

Ini harus dilakukan apalagi Indonesia kaya dengan tanaman pohon bambu.”Hanya saja sekarang kita berebut dengan permintaan untuk bahan baku bangunan,”kata Ashari, Minggu (25/5).

Sejauh ini,katanya, pengembangan bahan baku bambu untuk serat alam sudah mulai dikembangkan di Bogor.”Karena kita sangat ketergantungan akan serat impor,makanya,kita terus kembangkan. Selama ini lebih dimanfaatkan untuk bahan baku furnitur.”

Selain itu, katanya,penggunaan bambu untuk pembangunan,pagar juga lebih besar ketimbang diolah menjadi serat alami. “Kita sekarang tinggal pilih,kita gencar siapkan on farm dulu, agar suplai bahan baku lebih cepat.Makanya perlu penciptaan bahan baku bambu agar bisa  tumbuh lebih cepat.”

Jika intensifikasi berhasil,maka kata Anshari, ke depan industri hilir juga akan tumbuh lebih banyak.Disisi lain, dengan banyaknya tanaman bambu, maka bencana alam seperti longsor juga bisa diminimalisir.

Sementara itu, Taufiq Rahman salah seorang produsen sepatu berbahan baku serat bambu menyesalkan belum adanya ketersediaan serta bambu di dalam negeri. “Saya sudah sampaikkan ke menteri dan ketika itu dipertemukan sama Dirjen Industri Agro Benny Wachjudi ketika itu.Tetapi hingga saat ini belum ada perkembangannya.”

Anshari mengakui kendati sudah punya timnas pengembangan bambu di lini bahan baku dan produk,namun belum masuk ke serat.

Padahal,menurut Taufiq,kompetitor bahan baku bambu tidak banyak hanya sebatas utuk kebutuhan bahan bangunan.”Kita lihat tren ke depan, kebutuhan serat bambu tumbuh 40 persen setiap tahun.Serat  bambu juga lebih bagus dan kuat ketimbang serat impor.”

Dengan pangsa bambu dunia senilai US$40 miliar dolar, saat ini masih dikuasasi China.Padahal Indonesia bisa mengambil kue ini mengingat lahan untuk menanam bambu cukup luas mencapai jutaan hektar di Indonesia justru tak terserap dengan baik.

“Kami mau ada investor untuk menyuplai bambu. Karena di Goa ada lahan 30 hektar, Ogan Komerin Hulu juga siap lahan. Jika ada investor di Kalimantan ada 100 ribu hektar siap tanam.Kita tantang pemerintah kembangkan serat bambu.”

Taufiq mengungkapkan, kebutuhan bambu bisa untuk keperluan apa saja.Dibanding kapuk produksi akan lebih murah,tak perlu pupuk,lahan khusus. “Tetapi kami masih impor dari China dengan harga US$4 per kg.Dari sisi kualitas serat bambu bisa 3,5 kali lipat menyerap keringat dan bau dibading kapas. Kami setaip tahun butuh 5 ton serat bambu.” (fitri)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!