15 C
New York
26/05/2020
Aktual

Jokowi Dituduh Antek Yahudi dan Vatican

JAKARTA (Pos Sore) — Kampanye resmi dua pasangan calon presiden dan wakil presiden masih belum dimulai. Namun kampanye hitam atau kampanye jahat,  termasuk kampanye negatif, yang dilancarkan pihak-pihak tertentu  –  boleh jadi dari para pendukung, boleh jadi juga dari pihak ketiga – terus dilancarkan.

Contoh-contoh kampanye hitam atau negative itu, antara lain dengan menuduh Jokowi sebagai antek Yahudi atau Vatikan, atau dengan menuduh Prabowo sebagai orang yang telengas gampang memukul orang, selain tuduhan ‘’klasik’’ yang selalu diulang-ulang bahwa Capres Gerindra ini adalah pelanggar HAM.

Salah satu contoh kampanye nagatif yang akhir-akhir ini ditayangkan dalam bentuk rekaman video adalah statemen Jusuf Kalla jauh sebelum ia ditetapkan sebagai bakal calon wakil presiden. Kalla seperti terlihat dalam tayangan itu, meragukan kemampuan Jokowi. Sukses jadi walikota Solo, lalu terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta, menurut JK bukan berarti lantas menjadikan Jokowi Presiden, karena hal itu bisa membikin rusak negeri ini.

Kampanye hitam ini, menurut seorang pengamat, Ray Rangkuti, sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan, Sebab, selama dua pekan ini, kampanye hitam ditengarai sudah tidak terkontrol bagaikan bola liar. Terutama menyangkut isu SARA. Itu sebabnya, tak kurang dari Ketua PP Muhammadiyah yang juga Ketua Umum MUI, Din Syamsudin, meminta kampanye hitam yang pada akhirnya hanya akan merugikan bangsa itu dihentikan.

Menurut pengamat lainnya, Maswadi Rauf dari UI, kampanye hitam itu pada akhirnya hanya ingin menjerumuskan dua pasang capres
Sementara kedua kubu pun, sama-sama menyesalkan kampanye hitam ini. Baik dari duet Jokowi-Jusuf Kalla maupun Prabowo-Hatta Rajasa meminta agar kampanye hitam dihentikan.

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menilai kampanye hitam, apalagi yang berbau SARA, berpotensi memunculkan kerawanan sosial. Jika skalanya luas, bahkan bisa berkembang menjadi kerusuhan atau chaos di pilpres mendatang.  Karena itu Paloh tidak akan menolerir jika ada pendukung Jokowi-JK ikut-ikutan melakukan kampanye hitam.
Hal senada disampaikan Ketua DPP Partai Gerindra Edhy Prabowo. Ia menegaskan, capres Prabowo Subianto  melarang keras timnya melakukan kampanye hitam.

Menurut dia, selain kontraproduktif untuk demokrasi, masyarakat sangat cerdas dalam menentukan pilihan. Publik tidak akan mudah terpengaruh oleh kampanye-kampanye hitam. ‘’Daripada kampanye hitam, lebih baik konsentrasi memenangkan pasangan masing-masing, bukan dengan menjatuhkan lawan dengan kampanye hitam,’’ tambahnya.

Intensitas kampanye hitam terasa meningkat beberapa waktu terakhir. Terutama lewat media sosial, personel capres-cawapres, baik dari kubu Jokowi-JK maupun Prabowo Subianto, sama-sama banyak mendapat serangan.

Bedakan, Negatif dan Hitam
Menurur Ray Rangkuti, kampanye hitam atau kampanye jahat terhadap   dua pasangan Capres/ Cawapres merupakan fitnah dan jahat. Sebab kampanye tersebut tidak mempunyai bukti-bukti nyata sehingga menyesatkan.

Namun  Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) ini mengatakan, harus dibedakan antara kampanye hitam dan kampanye negatif.  Kalau kampanye hitam tidak ada fakta, hanya fitnah, sementara kampanye negative disertai fakta, yaitu kesalahan atau kekeliruan calon di masa lalu diungkap kembali.

“Kampanye hitam ini yang menurut saya paling jahat dan menyesatkan. Hal itu sebenarnya tidak boleh dilakukan karena telah menebar finah keji dan tidak berdasarkan fakta-fakta,” kata Ray menjawab Pos Sore.

Ray mencatat, kampanye hitam ini paling banyak ditujukan kepada pasangan Jokowi. Salah satunya dikatakan bahwa Jokowi antek-antek Yahudi, diisukan meninggal, bukan muslim, agen Vatikan dan Israel. “Tuduhan seperti itu semuanya tidak memiliki bukti. Siapa bilang Jokowi bukan muslim, padahal Jokowi pernah jadi imam sholat ko,” tandas Ray.

Di pihak lain, kampanye hitam terhadap Prabowo yang Ray ingat adalah mengenai anak Prabowo yang diisukan macam-macam. Seharusnya masalah anak Probowo tidak dilibatkan dalam isu-isu terkait  kampanye, karena hanya akan menjadi bahan olok-olok saja.

Sedangkan adanya isu pelanggaran HAM masa lalu yang dituduhkan dilakukan  Prabowo, menurut Ray bukanlah kampanye hitam, tapi   kampanye negative. Itu karena  memang ada gugatan pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada Prabowo, namun hingga sekarang tidak jelas juntrungannya.

Ray mendesak  Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)  segera tanggap menyikapi kampanye hitam yang dilayangkan kepada 2 pasangan Capres. “Bawaslu harus segera bersikap, jangan terlalu santai. Padahal orang sudah teriak-teriak, apa mesti nunggu orang bakar-bakaran lagi baru mereka bertindak. Kan tidak begitu harusnya,” tandasnya.

Menjerumuskan Bangsa  

Menurut pengamat Politik, Maswadi Rauf, kampanye hitam semakin mengarah pada ajakan untuk menjerumuskan bangsa ke pertentangan di dalam masyarakat. Tentu saja ajakan-ajakan ini menyesatkan dan mengarah kepada menjerumuskan terhadap pasangan calon presiden. “Bila hal ini terus terjadi akan menimbulkan penyesatan yang tidak mendasar. Oleh sebab itu, menurut saya kampanye hitam harus segera dihentikan,” tegas Maswadi.

Maswadi mempertanyakan mengapa kampanye hitam itu bisa terjadi. “Jangan-jangan orang yang melakukan kampanye hitam ini sedang sakit,” tambahnya.

Bahkan katanya, kampanye berbau suku, agama, ras dan antar golongan juga harus dihindari. Hal itu akan menyulut kepada perpecahan bangsa ini. (lya/ jun)

Related posts

Fachri: Debat Capres Mirip Pildacil

Tety Polmasari

Ditlantas Polda Metro Jaya Gelar Operasi

Tety Polmasari

Haha…Gaji PNS Dipotong untuk Zakat

Tety Polmasari

Leave a Comment