15 C
New York
26/05/2020
Aktual

KULON PROGO MEMBANGUN MELALUI GOTONG ROYONG

Oleh : Prof. Dr. Haryono Suyono

DALAM  suasana memperingati semangat Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 2014, kita patut mengangkat jempol kepada Bupati Kulon Progo, dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) yang dengan gigih membentuk Posdaya di seluruh desa dan mengajak seluruh rakyat bersatu-padu membangun keluarga yang sejahtera. Kabupaten yang tiga tahun lalu hampir separo jumlah keluarganya miskin, dengan sistem gotong royong diantara semua rakyatnya sekarang sudah bertambah baik. Semangat kebersamaan tumbuh subur karena semua kalangan didorong mengembangkan kepedulian dan aktif berpartisipasi dalam pembangunan.

Bupati dan seluruh aparatnya mengembangkan konsep KAKB, yaitu Kelompok Asuh Keluarga Binangun dimulai dengan mengajak pegawai negeri untuk menjadi penggerak di kalangan keluarga pedesaan. Semua pegawai yang dianggap mampu dianjurkan mengambil satu atau dua keluarga miskin sebagai keluarga asuhnya dengan perhatian pada bidang kesehatan, pendidikan dan kalau mungkin ditolong untuk bisa memulai usaha ekonomi produktif. Dengan cara itu banyak sekali keluarga miskin yang terdaftar “diambil asuh” oleh keluarga yang lebih mampu.

Melalui persetujuan Bulog, beras miskin (raskin) yang biasanya di supply oleh Bulog dikembangkan dengan menggantinya dengan beras yang dibeli langsung dari rakyat sehingga setiap panen, padi rakyat langsung diolah dan dibeli untuk rakyat dengan harga yang wajar. Dengan cara itu petani mendapat harga yang baik dan tidak perlu harus menimbun berasnya untuk memperoleh harga jual yang menguntungkan. Bupati menganjurkan agar rasa cinta terhadap Kulon Progo diwujudkan oleh rakyatnya untuk membeli produk yang asalnya dari Kulon Progo. Kata Bupati : “Cinta Kulon Progo Beli Kulon Progo”, yang intinya adalah bahwa rakyat harus peduli dan membeli produk yang dihasilkan oleh rakyatnya sendiri.

Untuk menolong rakyatnya yang mempunyai hunian kurang memenuhi syarat, Bupati mengembangkan penyaluran zakat dan sadakoh keluarga yang beragama Islam secara terpadu. Hasil pengumpulan zakat dan sadakoh itu diwujudkan dengan membantu penduduk miskin yang dianggap memenuhi syarat dan rumahnya tidak memadai dengan program “bedah rumah”. Dengan cara demikian setiap bulan ada acara bedah rumah yang tidak ada habisnya tanpa harus menguras dana pembangunan pemerintah karena dilakukan secara gotong royong dan mandiri.

Melalui Gerakan kebersamaan di tingkat desa keluarga Kulon Progo juga disatukan dalam Posdaya. Di setiap Posdaya dianjurkan membentuk pusat pendidikan anak usia dini (PAUD). Di setiap PAUD ibu yang mengantar anaknya untuk sekolah diberikan pelatihan ketrampilan tertentu agar kelak bisa membuka usaha ekonomi produktif. Kalau ibunya bekerja maka kakek atau neneknya dianjurkan mengantar cucunya ke sekolah. Dengan cara demikian, setiap keluarga miskin suami-isterinya dua-duanya bekerja, sehingga bisa lebih cepat dapat mengentaskan keluarganya dari lembah kemiskinan.

Di Kulon Progo Bupati telah merestui dan menyediakan fasilitas untuk pendirian warung-warung yang diolah dan dikelola oleh keluarga yang sebelumnya kurang mampu. Warung-warung pedesaan itu mendapat supply kebutuhan warungnya dari pusat kulakan yang mengantar supply barang keperluan rakyat di desa secara langsung. Warung di desa mendapat pinjaman dari Skim Tabur Puja yang juga telah dikembangkan dengan kewajiban menabung bagi pengguna skim tersebut. Dengan skim ini setiap nasabah diharuskan menghidupkan budaya gotong royong, saling peduli dan menolong sesamanya, menabung, menyekolahkan anaknya dan peduli terhadap sesamanya.

Para ibu yang mengembangkan warung dan dilatih ketrampilan meminjam dana untuk mulai usahanya dari koperasi yang ada di desa atau Koperasi Posdaya yang telah terbentuk di Kulon Progo. Para ibu mendapat kesempatan pelatihan untuk membuat kolam lele, kolam ikan, Kebun Bergizi serta kegiatan ekonomi kerakyatan lain yang mudah dikerjakan oleh ibu ibu dengan tingkat pendidikan rendah dan kemampuan yang sangat minimal. Mereka dianjurkan ikut menjadi anggota koperasi agar bisa memperoleh keuntungan ganda, untung karena usahanya sendiri dan untung ikut memiliki usaha yang dikelola oleh koperasinya. Sekaligus dapat memperoleh manfaat dari kegiatan koperasi dalam bidang sosial kemanusiaan.

Sebagian keluarga miskin yang ada di pinggir pantai diajak mempergunakan lahan yang biasanya kurang bermanfaat, yaitu lahan payau, yang tidak digunakan secara ekonomis. Bupati memberi ijin untuk penanaman rumput laut yang cepat memberi hasil hampir tanpa perawatan. Di daerah daratan sedang diusahakan penanaman pisang Cavendish seperti dikembangkan di Posdaya-posdaya di Bandung Barat dengan berhasil.

Kegiatan Kabupaten Kulon Progo yang gegap gempita itu bukan hanya karena komitmen dan program pro rakyat saja, tetapi Bupati dengan tekun membangun budaya peduli semua unsur SKPDnya dengan motivasi yang tinggi. Jaringan keluarga yang tergabung dalam kelompok KAKB dan Posdaya bergerak dengan pembinaan yang teratur. Secara langsung Bupati dan aparatnya melakukan kontrol dan dukungan motivasi yang kuat. Yang berhasil diapresiasi dan yang belum diberikan dukungan moril untuk maju. Kabupaten Kulon Progo membangun dengan persatuan dan kesatuan keluarganya. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Yayasan Damandiri, www.haryono.com).

Related posts

Perppu Kebiri Perlu Pertimbangan Matang

Tety Polmasari

LAPAN Serahkan Citra Satelit kepada 9 Instansi

Tety Polmasari

TAP MPRS Pelarangan PKI Tidak Masuk, Jazuli: PKS Tolak RUU HIP

Akhir Tanjung

Leave a Comment