KEGAIBAN HUKUM TUHAN

Kamis, 3 Jul 2014

Oleh Mpu Wesi Geni

BAGIAN SATU

MANUSIA-lah yang selalu bersifat gelisah. Telah kodratnya dijadikan demikian. Ada kalanya ia hidup di tempat ramai, ada kalanya pula ia ingin hidup di tempat sunyi. Tapi ada juga yang sebaliknya, hidup di tempat sunyi, juga menempuh penghidupan ramai. Dalam keadaan miskin dan papa, manusia  juga gelisah. Sampai kepada mereka yang kaya raya juga sifat itu akan selalu demikian, sungguh pun dengan corak dan warna yang berbeda.
—–
SEJAK umur tujuh belas tahun Surata lumpuh. Kedua orangtuanya, Bunyamin dan Safiah bagai tertimpa bala sangat  berat. Bagaimana tidak? Anak satu-satunya keadaannya demikian. Ada yang mengatakan penyakit lumpuh Surata karena sanat dimanja di waktu kecil. Otot-otot kakinya tidak banyak digunakan karena selalu digendong dan dipangku oleh pembantu rumah andai pun sebenarnya ketika itu Surata sudah mampu berjalan cepat.

‘’Apa dosa kita Pak?’’ Keluh Safiah. ‘’Tengoklah, anbak kita jadi demikian. Mengapa anak-anak orang lain yang lebih susah tidak nerkeadaan seperti ini?’’

‘’Biarlah , Fiah!’’ Bunyamin menyabarkan isterinya yang sesungguhnya juga menyabarkan diri sendiri. ’’Kita usahakan mengobatinya sampai ke mana sekali pun.’’

Selama Surata lumpuh ia disayangi seperti boneka terbuat dari emas. Sedikit saja ia menangis, Suginemlah yang kena hardik dan omelan. Seekor lalat yang hinggap di hidung Surata dapat menyebabkan ia berteriak seperti ditanduk kambing.

‘’Kau apakan dia Nem?’’ Hardik Safiah sambil berlari-lari menuju kamar Surata yang terduduk kaku.

‘’Tidak ada apa-apa , buk’’ jawab Ginem ketakutan.

‘’Kok tangisnya seperti kena pukul?’’ Bantah Safiah kembali, dan membarut-baru kepala anaknya, membujuk-bujuk. ‘’Kenapa nak? Diapakannya kau oleh si Ginem gila itu?’’

Surata menunjuk kepada Ginem. Tunjukan itu tanpa arti. Sekadar ia melepaskan kekesalan kepada diri sendiri. Surata menjadi puas bila ibunya telah memarahi Ginem habis-habisan.

Dalam pemeriksaan ahli penyakit lumpuh, tidak  nampak  suatu apa pun yang salah dalam jalinan otot Surata. Kini ia telah berumur delapan belas tahun. Guru yang mengajar , terpaksa dipesankan dan digaji setiap bulannya oleh Bunyamin yang terkenal kaya di wilayah Sukabumi. Adakalanya, orang yang membicarakan orang kaya seperti Bunyamin menebak-nebak bahwa Bunyamin mungkin mempunyai dosa besar dahulunya. Kini dosa itu ditebus oleh anaknya.

Ada pula yang mengatakan, mungkin dahulu Bunyamin kena penyakit kotor perempuan, yang kini membuat turunannya cacat. Manusia tidak cukup ahli untuk  menerka-nerka bagaimanakah Tuhan menunjukkan kebijaksanaannya. Dan manusia-manusialah yang selalu menduga-duga yang buruk tentang apa yang ditakdirkan Tuhan.

Seperti  juga sebahagian besar manusia, yang telah berusaha keras di dalam hidup ini tetapi tidak mempunyai kemajuan seperti yang diharapkannya, dan biasannya, manusia akan menuju kepada usaha memperbaiki nasibnya dengan bantuan gaib atau mistik.

Telah lama ia mendengar ada perguruan silat Seribu Jurus Naga di Gunung Walad. Kabarnya perguruan itu dapat menyembuhkan segala macam penyakjit di luar kemampuan dokter biasa. Yang anehnya, cara pengobatannya cukup dengan mempelajari  jurus-jurus silat naga, yang kemudian diteruskan dengan jurus pengobatan. Yang lebih aneh lagi, seseorang baruy memperoleh kemungkinan sembuh dari penyakitnya, bila dalam latihan berat yang pertama sekali ia dapat muntah atau buang air besar yang banyak sekali, seperti di luar kemauannya sendiri.

‘’Percayakah bapak akan pengobatan demikian?’’ Tanya Safiah.

‘’Adakalanya banyak juga harus dipercayta, bahkan terkadang penyakit dokter sendiri diobati oleh dukun . Hanya sang dokter sajalah yang selalu menyembunyikan hal yang demikian. Karena dokter mempunyai nama dan profesi  internasional, dan lebih intelek dari pada dukun,’’ kata Bunyamin, sambil berpikir-pikir dan mematikan punting rokoknya.

Perguruan silat itu terletrak di punggung Gunung Walad,yang seperti seperdua punggung kuda raksasa yang sebagian lainnya ke dalam bumi. Ke sinilah Surata dibawa dengan memakai tandu. Sebahagian badannya diikatkan dengan tanbdu. Sebab itu suara Surata memekik-mekik ketika bverada pada pendakian yang curam. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari pada membawanya demikian, kecuali jika dengan helicopter.

Pak Koko telah bersdia-sedia menyambut orang terhormat, Bunyamin dan keluarganya itu. Penyambutan yang sederhana dengan rumah di atas gunung, dengan peralatan serba sederhana pula. Di halamannya terbentang sebuah lapangan belajar silat, yang tanahnya agak merah dan kusut, bekas dipergunakan setiap hari.

Ketika Surata sampai dengan tandu, seorang anak laki-laki berumur sebelas  tahun, sedang berguling-guling di tanah, seperti badannya laksana pohon pisang yang bergulingan dari atas bukit.

Suatu pemandangan aneh menurut penglihatan Surata dari atas tandu, anak laki-laki berpakaian kumal bergulingan di tanah. Tentu akan kena penyakit kudis, dan eksim. Karena tanah tidak selalu bersih. Sedangkan telapak kaki Surata bersih laksana telapak tangan, tidak pernah menyentuh tanah.

‘’Pak Kokoh,’’ ujar Bunyamin, ‘’terimalah anakku di sini! Aku hanya bermohon, agar anakku bisa sembuh, dengan jalan apa pun.’’

‘’Itu semuanya permohonan kepada Tuhan, pak Yamin,’’ jawab Kokoh dengan sedikit rasa bangga. “Karena Dia yang lebih bijaksana.’’

Kemudian pak Kokoh meminta kepada salah seorang pengajar silat, perempuan berusia dua puluh tahunan, yang pandai bermeditasi dengan alam gabib. Sejenak pembantu guru silat  muda itu bersila, dan memejamkan matanya di atas tikar. Sedang Bunyamin dan Safiah nampaknya canggung untuk bersila di atas lantai. Karena  kaki mereka tak pernah selalu dibawa patah bersila, selain selalu terjuntai di atas kursi.

Ketika guru silat muda membuka matanya, ia menggeleng-geleng, kemudian berkata, ‘’Asal saja cukup kesabaran dan kerendahan hati, tentu akan berhasil.’’

‘’Di antara seluruh syarat, sabar  itulah yang sulit,’’ balas Pak Kokoh.

‘’ Seperti pak Yamin lihat sendiri, tempat di sini terpencil di atas gunung. Berlainan sekali mungkin dengan rumah sendiri yang serba lengkap dan serba terlayani Mungkin Surata tidak sabar mencocokkan diri dengan suasana di sini!’’

‘’Aha…tidak pak Kokoh,’’ balas Bunyamin. ‘’Saya akan menguasai anak saya, agar ia teguh menghadapi segala kesulitan sekiranya pun terjadi.’’

Seluruh tali yang mengikat Surata dilepaskan. Ia merutuk, karena sebagian lengannya  berbekas tali yang kuat terikat ke tandu tadi, kini kelihatan memerah. Sedangkan anak-anak yang belajar silat memperhatikan saja kecengengan anak laki-laki itu.

‘’Alangkah baiknya jika ada seorang kerabat dekat Pak Yamin, yang akan melihat jalannya pengobatan yang akan saya lakukan,’’ kata Pak Kokoh lagi. Tetapi Bunyamin menjawab, bahwa seluruh kebijaksanaan telah diserahkan pada Pak Kokoh untuk menyembuhkan anaknya.

‘’Sebenarnya belum cukup itu saja. Jika kebetulan pengobatan ini nampak seperti kasar pelaksanaannya, mungkin akan menimbulkan pubasangka yang tidak tidak.’’

YAng hendak dikatakan Pak Kokoh, ia takut Surata tidak sanggup menyesuaikan diri dengan kehidupan gunung yang sederhana sekali, tanpa ada orang yang akan memanjakannya. Ketika Ginem ditawarkan Bunyamin, sebagai mengurus pelayanan Surata, ditampik oleh pak Kokoh. Dengan alasan, sebaiknya Surata dibiarkan berusaha untuk berdiri  dan mengatasi kesulitannya sendiri. Jangan terlalu dibimbing.

Dikatakan juga oleh pak Kokoh bahwa sebagian besar penyebab penyakit Surata itulah pokoknya. Selain sebab itu, ada pula sebab yang tersembunyi di tangan Tuhan.

Pada hari itu Surata tinggal bersama orang kumal-kumal nyang sedang belajar silat. Sebenarnya Silat 1000 Jurus Naga itu tidak dipelajari dengan sengaja. Masing-masing mendapat petunjuk gerak di dalam hati. Bagaimana jurus silat itu keluar, seperti pembawaan masing-masing setelah terlebih dulu melalui  petunjuk menyerahkan diri kepada Tuhan sepenuhnya.

Bunyamin meninggalkan Surata dengan perbekalan sekadarnya, karena Pak Kokoh juga tak mengizinkan perbekalan yang berlebih-lebihan, untuk mengajar manusia itu kembali berdiri dengan peralatan sederhana tetapi dengan kepercayaan penuh pada dirinya kembali.

Tetapi ketika makan siang, Surata melirikkan matanya kepada piring kaleng, wadah nasi yang disodorkan kepadanya. ‘’Ah…ini bukan anjing,’’ rutuk Surata. ‘’Di rumah aku tidak pernah dihina begini.’’ (bersambung/ras)