Elit Politik Jangan Jadi Provokator

Jumat, 11 Jul 2014
Ketua Komisi Pemilihan Umum Husni Kamil Manik

JAKARTA (Pos Sore) –  Tujuh dari 11 lembaga survey yang melakukan hitung cepat (quick count) hasil Pilpres 7 Juli 2014 mengunggulkan pasangan Jokowi – JK, sementara empat  lembaga survey lainnya mengumumkan hasil berbeda, yaitu mengunggulkan pasangan Prabowo – Hatta.  Kedua pasangan pun sama –sama mengklaim diri sebagai pemenang. Bahkan, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati, terlihat sudah tidak sabar dengan menyatakan Jokowi sebagai presiden terpilih.

Itulah gambaran umum yang terjadi  pekan ini usai pencoblosan hari Rabu (7 Juli 2014) terkait Pemilihan Presiden 2014. Kendati kondisi keamanan secara nasional terlihat masih kondusif, namun  kondisi itu bisa saja berubah seketika apabila para elit politik tak bisa menahan diri. Dalam kaitan ini, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sendiri dengan tegas meminta agar masyarakat tak langsung mempercayai hasil hitung cepat perolehan yang dirilis berbagai lembaga survei.

“Bawaslu juga meminta agar masyarakat Indonesia jangan langsung  menelan mentah-mentah, percaya terhadap apa yang diumumkan itu, tapi sabar menunggu hasil yang akan ditetapkan KPU,” ujar anggota Bawaslu Nasrullah di Gedung Bawaslu, Jakarta Pusat, Kamis (10/7).

Sebenarnya,  bukanlah sesuatu yang aneh apabila  sebagian besar lembaga survey mengeluarkan hasil hitung cepat yang mengunggulkan pasangan Jokowi- JK sebagai bakal pemenang di dalam Pilpres 2014. Hal yang sama, tentu juga berlaku kepada empat lembaga survey yang meyakini hasil perhitungannya, yang tentu saja dengan metode dan teknik survey yang sesuai kaidah-kaidah ilmiah.

Yang  menjadi persoalan dan memerlukan perhatian serius dari kedua kubu calon presiden adalah, tipisnya perbedaan di antara keduanya. Selisih angka perolehan suara kedua calon presiden tidak terlalu jauh, berkisar antara 53,37 persen dengan 46,43 sebagai rentang tertinggi dan berkisar 49,05 dengan 50,95 sebagai rentang terendah.

Bila Sama dan Berimbang

Tipisnya perbedaan  perolehan suara kedua pasangan, membawa konsekwensi probability tersendiri, yang bisa saja membawa kenyataan yang berubah atau berbalik ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan perhitungan final kelak. Dan ini berbahaya, jangan sampai nanti rakyat yang sudah termakan dan yakin bahwa pilihannya menang, justru mendapati kenyataan sebaliknya, Urusannya bisa runyam.

Karena itu, sebagaimana dikemukakan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, sebaiknya tim suskses dari ke dua kubu Capres menahan diri hingga keputusan KPU keluar  22 Juli nanti. ‘’Dengan perbedaan ini , sebaiknya masing-masing elit politik menahan diri untuk tidak mudah memberi komentar yang bernada provokator,’’ kata Siti.

“Benturan antar pendukung sangat memungkinkan, apalagi kekuatan capres cawapres sama dan berimbang. Jika saling tidak puas, maka bisa diterjemahkan oleh grass root  (massa di tingkat bawah-red) dengan sangat seru, dan keliru,” kata Siti menjawab Pos Sore, kemarin.

Siti Zuhro menekankan, sekarang ini sebaiknya semuanya menenangkan diri atau cooling down,  tunggu hasil dari KPU 22 Juli mendatang. Hal itu disebabkan karena semua lembaga survey rentan dipercaya oleh masing-masing kubu. “Untuk itu kedua kubu sebaiknya tidak mengumbar hasil lembaga survey. Mereka  sebaiknya diam, sehingga akan menimbulkan suasana yang tenang di masyarakat,” tambahnya.

Hal senada dikemukakan pengamat politik Fadjroel Rahman,yang meminta kedua kubu harus tenang dan sabar. Mereka harus menunggu pengumuman KPU 22 Juli. “Masyarakat juga sudah mengetahui mana lembaga survey yang kredibel dan tidak. Untuk itu sebaiknya jangan mengklaim lebih dulu bahwa dirinya menang,” tegasnya.

Untuk itu, kedepan Fadjroel berharap memperbiiki sistem pilpres. Diantaranya KPU harus bisa lebih ketat lagi memilih lembaga survey yang kredibel. “Jangan sampai ada lembaga survey yang tidak kredibel ikut-ikutan. Ini kan bisa mengacaukan hasilnya,” harapnya.

Ucapan Selamat

Dua kubu calon presiden, masing-maasing berbekal hasil hitung cepat sejumlah lembaga survey, sama mengklaim sebagai pemenang. Kubu Jokowi sendiri bahkan secara khusus berkumpul di tugu Proklamasi, di mana Jokowi juga melontarkan pernyataan dan terimakasihnya kepada segenap jajaran pendukung dan rakyat Indonesia.

Keunggulan pasangan Jokowi-JK versi hitung cepat ini tak urung, membuat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan ucapan selamat kepada Jokowi dan JK.

“Saya mengucapkan selamat kepada Ir. Joko Widodo dan saudara Jusuf Kalla,” ujar Megawati seraya mengucapkan terima kasih kepada kalangan media dan juga untuk para relawan.

Meski penetapan Jokowi sebagai presiden baru akan dilakukan secara resmi oleh KPU, Megawati nampaknya sangat bersemangat dalam memberikan ucapan selamat.

Megawati  sebagaimana dikutip bisnis.com, menyebutkan ucapan selama kepada Jokowi sebagai presiden terpilih dan kepada Jusuf Kalla sebagai wakil presiden terpilih karena sampel data yang masuk menurut pantauan tim pemenangan Jokowi-JK sudah berada di angka 81%.

Sementara itu, di tempat terpisah Prabowo juga melontarkan klaim sebagai pemenang Pilpres 2014. Satu jam setelah Joko Widodo menyampaikan klaim kemenangan, Prabowo Subianto juga menyampaikan klaim yang sama. ”(Hasil hitung cepat) menunjukkan bahwa kami, Prabowo-Hatta, telah menerima dukungan dan mandat dari rakyat Indonesia,“ kata Prabowo.

Ia menyatakan lembaga survei yang digunakan oleh partainya menunjukkan bahwa mereka memenangkan pemilu.

Untuk Mengimbangi

Menurut Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo -Hatta, Tantowi Yahya, sejak awal pihaknya tidak ingin mengklaim sebagai pemenang Pemilu Presiden 2014 berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga. Namun, menurut dia, sikap Joko Widodo-Jusuf Kalla yang terlebih dulu mengklaim sebagai pemenang menjadi pemicunya.

“Kenapa kami tidak mendeklarasikan kemenangan dengan ikut serta mengajak para pendukung kami? Itu karena kami mengimbangi Jokowi-JK. Opini dari publik sudah tergiring dan semua orang akan berpikir Jokowi-JK sudah menang,” kata Tantowi, Rabu malam.

Menurut dia, sikap mengklaim kemenangan dari hasil hitung cepat adalah sesuatu yang tidak bijak dan tergesa-gesa. Pasalnya, hasil hitung cepat bisa saja meleset dari hitungan yang sebenarnya. “Pesan kami, harus tetap tenang, sabar, harus menghadapi semuanya dengan kesejukan, menjunjung tinggi asas yang kita ikuti bersama sembari kita menghormati proses yang dijakankan KPU,” ujarnya.

Menurut Siti, proses demokrasi yang saat ini terjadi bukan semakin baik, tapi menurun karena tidak adanya trust building. Bahkan ada kubu yang menggaungkan rasa saling curiga, saling tidak percaya dan saling tidak menghormati.

“Mereka  baik Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK, saat ini saling mengklaim memenangkan Pilpres 2014 berdasarkan hasil hitung cepat yang diselenggarakan beberapa lembaga survey. Untuk itu diharapkan  kepada masyarakat untuk mengesampingkan hasil survey tersebut,” katanya. (dus/jun/lya)