MEMENANGKAN QUICK COUNT

Jumat, 11 Jul 2014
Hasil quick count yang dilakukan RRI

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

DENGAN kemajuan tehnologi informasi dewasa ini, segera setelah pesta demokrasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI tanggal 9 Juli lalu dinyatakan ditutup pada jam 13.00. Media TV, Radio dan media Sosial lainnya secara langsung menyiarkan hasil Quick Count secara bertahap. Kecepatan tahapan penyajian itu sangat tinggi biarpun tergantung pada masuknya laporan sample yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tidak lebih dari dua jam dapat diketahui laporan yang masuk mencapai lebih dari 90 persen. Dengan cakupan laporan setinggi itu, angka presentase perolehan suara dari setiap calon menjadi stabil.

Methoda Sample Survey Polling seperti Quick Count untuk masalah politik dan isu sosial lainnya seperti ini, di Amerika Serikat dan dunia maju lainnya, sudah sangat populer dan maju. Gallup Poll yang berpengalaman lebih dari 75 tahun telah menghasilkan produk survey Quick Count yang memberi petunjuk kepada para politisi berupa analisis tentang berbagai hal untuk membantu memecahkan masalah yang perlu diselesaikan.

Dalam waktu yang sangat panjang itu para konsultan Gallup telah membantu para pimpinan politik dunia berdasarkan data informasi yang diperoleh dari survey yang seksama dan akurat tentang konstituen, pekerja dan konsumen berbagai produk tertentu.

Sampai sekarang perusahaan Gallup mempunyai lebih dari 2000 konsultan professional yang membantu kliennya dari seluruh dunia melalui interaksi langsung, jaringan web atau lebih dari 40 kantor-kantor cabangnya di seluruh penjuru dunia. Laporan yang dipublikasikan secara rutin memuat hasil penelitian yang dilaksanakan di lebih dari 160 negara di seluruh dunia.

Penerbitan Gallup berupa The Gallup Business Journal memuat artikel yang dianalisis dari hasil survey rutin di banyak negara tentang kegiatan perdagangan dan ekonomi global pada umumnya. Jurnal ini disebar ke seluruh dunia. Artikel ilmiah yang dimuat didalamnya biasa dijadikan referensi yang sangat diandalkan. Gallup juga menerbitkan buku dalam berbagai bidang disamping bidang politik yang menjadi andalan utamanya.

Pada waktu lembaga survey ini diperkenalkan di Chicago puluhan tahun lalu, proses penelitiannya masih sederhana tetapi sesungguhnya cukup rumit sehingga tidak banyak saingan yang melakukan kegiatan tersebut. Berpuluh tahun lembaga survey Gallup itu menjadi lembaga yang hampir bersifat monopoli karena rumit dan mahal biaya operasionalnya.

Tetapi kemajuan ilmu dan tehnologi membuat pengembangan lembaga seperti ini relatif mudah dan murah sehingga dalam Pilpres dan PilWapres di Indonesia kali ini, misalnya, terdapat duabelas lembaga survey yang mengumumkan hasilnya melalui minimal dua stasiun televisi di Jakarta. Lembaga survey itu menyajikan hasil Quick Count seperti Gallup Poll yang satu sama lain berbeda-beda. Bahkan RRI sejak beberapa tahun lalu juga ikut melakukan dan menyajikan Quick Count polling politik dengan kecepatan yang sama.

Sesuai perkembangan zaman, Survey Quick Count dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan. Yang pertama untuk membuat peta elektabilitas, yaitu untuk mengetahui kondisi pengaruh suatu partai politik atau jago dari suatu partai politik dalam pemilihan umum. Kedua, peta itu dipergunakan untuk meningkatkan fokus kampanye dalam suatu kampanye, khususnya di wilayah yang dianggap lemah, atau untuk memastikan pembinaan kesetiaan pemilih di daerah yang dianggap kuat.

Ketiga, untuk menilai apakah suatu intervensi politik atau intervensi dalam bentuk apapun, dianggap berhasil atau gagal. Untuk itu, setiap survey atau polling mengambil sample secara ilmiah, yaitu acak dan dengan jumlah sample yang memadai sesuai probabilitas margin of error yang dikehendaki. Makin kecil margin of error yang diminta, makin besar jumlah sample yang perlu diteliti.

Margin of error menentukan besar kecilnya probabilitas akurasi hasil yang dikehendaki. Makin kecil margin of errornya makin akurat hasil yang dapat disajikan. Margin of error adalah toleransi kepercayaan atas hasil suatu survey.

Oleh karena itu dalam penyajian di berbagai media televisi bisa berbeda beda karena perbedaan sample, margin of error atau karena adanya non sampling error. Apabila sama-sama dilakukan secara ilmiah dan akurat, perbedaan data yang disajikan mestinya tidak terlalu signifikan, tergantung dari probabilitas margin of error dengan standard deviasi tertentu.

Apabila populasi suatu daerah dianggap normal, atau rata rata elektabilitasnya hampir sama, pengambilan sample secara acak (random sampling) biasa, dengan mudah menghasilkan estimasi yang baik. Namun apabila populasinya tidak normal, misalnya suatu daerah dianggap pengaruh suatu partai sangat dominan, perlu dilakukan sistematika tertentu agar dapat dihindari bias yang mempengaruhi hasil sample survey tersebut. Two stage systematic random sampling akan menghasilkan estimasi yang lebih baik. Berbagai syarat itu nampaknya telah dipenuhi oleh lembaga survey yang hasil-hasilnya dilaporkan secara terbuka pada tanggal 9 Juli 2014 yang lalu.

Dengan demikian, untuk mendapatkan laporan hasil suatu Quick Count dengan angka yang menggembirakan bagi seorang calon, karena samplingnya random, adalah dengan menjamin bahwa elektabilitas calon itu di semua wilayah tinggi. Kalau sample terpilih kebetulan jatuh di daerah yang elektabilitas calonnya rendah, biarpun hanya kebetulan terbatas pada sample di daerah tertentu itu, hasil Quick Count yang di blow up untuk mewakili daerah sekitarnya akan menunjukkan angka rendah.

Kalau sample mengena daerah dengan partisipasi tinggi, padahal kasus seperti itu tidak merata, akan terefleksi berupa hasil survey dengan angka yang bagus. Kasus seperti ini biasanya oleh suatu lembaga survey dicegah dengan sistem pengambilan sampling secara sistematis dan acak.

Namun, apabila tujuannya hanya untuk mendapatkan hasil Quick Count sebagai bahan “penyihir” bagi calon pemilih pada umumnya, sebuah lembaga survey yang tidak professional dapat menolong suatu partai politik dengan mengadakan Survey berseri secara berkelanjutan. Responden untuk survey itu dipilih secara random tetapi bersifat tetap.

Dari survey pertama akan kelihatan sample mana yang elektabilitasnya rendah. Sample-sample yang skor elektabilitasnya rendah dijadikan sasaran intervensi khusus secara sistematis dan berkelanjutan. Sample yang elektabilitasnya rendah itu diintervew, atau diselidiki secara seksama apa penyebabnya. Catatan kelemahan sample yang electibilitas rendah itu dijadikan bahan untuk merencanakan dan melakukan intervensi, apapun bentuknya, secara fokus dan arahan yang sistematis.

Kalau itikad suatu partai politik baik, intervensi itu dilakukan dengan menyesuaikan visi, misi, program atau pendekatan yang sesuai keberatan seorang sample, yang kemungkinan mewakili konstituen setempat. Apabila visi, misi atau pendekatannya dianggap sudah baik, sebuah intervensi dapat dilakukan dengan mengundang seorang tokoh yang dapat dipercaya untuk mempengaruhi sample atau kelompok yang dianggap mempunyai sikap atau pilihan yang belum menguntungkan tersebut. Tokoh-tokoh penggerak itu melakukan pendekatan kepada sample dan tokoh yang mengelilinginya agar sikap dan tingkah lakunya terhadap seorang calon meningkat dan mantab positif.

Upaya melakukan perubahan sikap dan tingkah laku itu bukan hanya ditujukan kepada seseorang yang menjadi sample, tetapi terhadap lingkungannya yang bisa mempengaruhinya di kemudian hari. Kalau hanya sample itu saja yang diarahkan berubah, dikawatirkan dikemudian hari bisa berbalik memberikan jawaban negatif pada saat dilakukan Survey untuk seri berikutnya.

Setelah dilakukan intervensi kepada sample dan lingkungannnya dengan baik, diadakan Survey berikutnya untuk menunjukkan elektabilitas yang meningkat. Kalau strategi itu berhasil, maka strategi intervensi dapat diperluas ke daerah lainnya. Tetapi, apabila sebuah partai politik secara sengaja hanya ingin membuat Survey Quick Count untuk menunjukkan hasil yang baik, melalui system dan cara tersebut dengan mudah dapat ditunjukkan hasil yang sangat impresif dengan mengetrapkan usaha yang sederhana, murah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Apabila strategi kedua itu dipergunakan, hampir pasti penghitungan “real count” yang bersifat menyeluruh, jujur dan akurat, akan berbeda dengan prediksi hasil suatu Survey Quick Count yang direkayasa. Tanpa berprasangka strategi pragmatis kedua yang terjadi di Indonesia, marilah ditunggu hasil penghitungan resmi, jujur dan akurat, dan tidak fanatik atau berprasangka terlalu jauh terhadap hasil Quick Count yang berbeda-beda dewasa ini.

Kalau kita terlalu fanatik, jangan jangan mendapatkan seorang Presiden dan Wakil Presiden yang bukan dipilih oleh rakyat, tetapi merupakan hasil putusan MK. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Sosial, www.haryono.com).

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015