IBU TUNGGAL PELABUHAN RATU

Kamis, 7 Agu 2014

Oleh Mpu Wesi Geni

Mungkin takdir yang belum memperjumpakan saya dengan dia. Sebagian ada yang mengatakan, Ibu Antakusuma telah nyalin (meninggal). Sebagian  lagi mengatakan Ibu Tunggal telah wafat. Ada yang menyebutkan bahwa beliau menamakan  dirinya Maimunah. Mungkin nama itu mengandung berbagai makna, seperti  juga nama pulau Sumatera, Andalas, Pulau Harapan, Pulau Mas, Pulau Perca dan lain-lain.

——–

KETIKA saya menjumpai Pak Karta di Sukawayana, pada sebuah warung kecil di tepi jalan, ia sangat terkejut mendengar Mpu Wesi Geni dari jauh sampai mengunjungi tempatnya yang terpencil.
‘’Saya datang kemari akan berziarah ke makam Ibu Tunggal,’’ ujar saya dengan ucapan sederhana, seolah-olah kurang biasa saja. Pak Karta tergugup, kemudian langsung masuk ke kamarnya, seolah-olah menenangkan perasaannya yang kelihatan gugup dan terharu sekali.

Saya ulang lagi, ‘’Kedatangan saya kemari telah meminta tuntunan kepada pemerintah setempat.’’

Kususun nama-nama beberapa orang yang telah saya datangi terlebih dulu, karena nama-nama itu telah dapat menghilangkan keraguan tentang identitas kunjungan dan maksud seseorang yang mengunjungi Makam Ibu Tunggal.

Kemudin Pak Karta,bekas pensiunan Polri itu kembali duduk di seberang daun meja di hadapan saya, sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Ia kelihatan berada di dalam kesulitan, dari mana akan memulai cerita mengenai Ibu Tunggal itu.  Langsung saja saya potong, dengan menanyakan di manakah  musholla yang dibangun untuk memperingati kewafatannya.

Suryana yang membawa ojek yang mengantarkan saya, lebih banyak menolong dengan logat Sunda, untuk mengadakan pendekatan kepada pak Karta.

Pak Karta mengatakan bahwa musholla itu ada di belakang warung, lengkap dengan tempat mengambil air wudhuknya, serta sajadah peninggalan Ibu Tunggal, bersama mukena (kain telekung) sembahyang yang selalu dipakai perempuan-perempuan bila beribadah di tempat itu.

Sejenak kemudian, kami ke tepi sungai di belakang warung, menyaksikan musholla yang dibangun dari tepas bambu itu. Tetapi terlihat bersih, dicat putih dengan kapur. Barulah terbuka hati Pak Karta bercerita setelah kegugupannya hilang dan keterharuannya lenyap.

‘’Ibu Tunggal itu makannya berupa  ketan hitam,’’ kata Pak Karta memulai ceritanya. ‘’Dengan lauknya hanya berupa udang-udang kecil yang ditangguknya sendiri di tepi laut.’’

Menurut Pak Karta, satu kilo ketan hitam cukup baginya untuk lima belas hari. Tidurnya sangat sedikit di waktu malam. Bahkan pernah diintip, ia hampir tidak tidur  semalaman penuh,sungguhpun ia masih duduk dengan mata tertutup dan tasbih yang berdetik-detik di ujung jarinya.

‘’Bagaimana keadaan dirinya?’’ Itulah pertanyaan penting  saya kepada Pak Karta.

Ibu Tunggal itu  menurut Pak Karta berumur 50-an tahun. Tetapi tubuhnya bersih dan bercahaya. Lingkaran putih matanya sangat jernih, seperti putihnya mata bayi yang baru lahir.

Pada jari tangan kanannya, ada empat buah cincin yang terbuat dari tempurung kelapa, yang baunya wangi. Pada pergelangan tangan kanan,  ada sebuah gelang yang juga terbuat dari tempurung. Dan pada jari kirinya ada dua cincin tempurung kelapa.

Ketika akan meninggal, ia berwasiat, agar petinya jangan dibuka, sungguh pun sebelumnya kepada Pak Karta sudah pernah mdiperlihatkannya isi peti itu, berisi tujuh pakaian putih perempuan yang terbuat dari bahan halus sekali kainnya. Sebuah keris kecil. Sebuah ikatan kertas yang disebut  sebagai jimus dua kalimah. Sebuah cupu (berupa teko kecil).

Setelah ia meninggal, dua macam di antara barang miliknya, keris dan cupu itu pun hilang. Tidak diketahui, apakah ikut bersamanya ke dalam bumi, atau pergi kepada orang lain yang telah ditentukannya sebagai penerima wasiat.

Sedangkan seluruh peti berikut isinya, termasuk cincin dan gelang tempurung yang misterius, diserahkan kepada Haji Jenan dari Tangerang.

Pak Karta sendiri tidak mengetahui dengan pasti alamat Haji Jenan itu. Tetapi karena ia mematuhi wasiat Ibu Tunggal, barang-barang itu diserahkannya saja kepada seorang haji dimaksud.

Saya sendiri sampai saat ini belum sempat menyelusuri di manakahpenerima wasiat itu berada sebenarnya. Kepada Pak Karta saya tanyakan, kepada dirinya sendiri apakah yang ditinggalkan Ibu Maimunah yang telah nyalin itu.  ‘’Ia hanya meninggalkan sebuah nyiru penampi beras bersama tujuh utas pendek tali ijuk yang hitam,’’ jawab Pak Karta.

Kutanyakan lebih jauh, apakah boleh barang peninggalan Ibu Tunggal itu dipunyai orang lain. Dijawab Pak Karta, bahwa khusus dua jenis barang itu memang diwariskan kepadanya.

Hanya sebuah lagi yang tinggal, yaitu kasur tidur Ibu Maimunah, yang tetap tergulung di sudut musholla, yang menurut Pak Karta, apabila datang seorang tua  terakhir yang meminta benda itu, harus diberikan.

‘’Itu makanya tadi saya terharu…pak,’’ ujar Karta. ‘’Karena saya telah merasa bahwa bapaklah yang akan meminta kasur tidur ini.’’
‘’Memang benar,’’ jawab saya. ‘’Kedatangan saya kemari untuk membawa kasurnya itu, sebagai wasiat kepada saya.’’

Tanpa ragu, Pak Karta kemudian mengemasi tilam itu dengan senang hati, dan berkata,’’Kini genaplah wasiatnya saya ikuti, dengan harapan agar ia tetap membimbing saya kepada jalan yang memang benar, seperti yang dikehendakinya.’’

Bersama Suryana, tilam tadi kami ikat di belakang motor Yamaha. Sebelumnya kami mengiringkan Pak Karta ke kaki bukit Sukawayana,untuk menziarahi makam Ibu Tunggal alias Ibu Maimunah yang kami tuju. Makam itu masih sangat sederhana, hanya bertuliskan di atas permukaan semen beton makam, beliau berpulang pada malirebon, Sukabumi, Cianjur dan kecamatan sekitar Pelabuhan Ratu mengunjunginya.

Demikian juga setelah ia meninggal. Masih saja ada orang yang menyelusuri kehidupan Ibu Tunggal Pelabuhan Ratu itu.
Sejak bulan yang lalu, saya sendiri bagai terpanggil oleh berita-berita gaib, agar berkunjung ke Pelabuhan Ratu. Yang pada akhirnya, saat cerita ini saya buat, saya bertirakat di samping Guha Pasir Besi (Gedung Manik Taman Srimegandari), yang mana nama itu juga dibubuhkan menurut bimbingan puteri gaib Mayang Sari.

Dan rasanya, saya jadi terpanggil menyusuri kabut-kabut alam gaib di sekeliling Pelabuhan Ratu. Karena inilah salah satu pelabuhan yang memakai nama RATU di belakangnya. Tilam pemberian Ibu Tunggal pun terus saya pakai untk tidur dan beribadat, sehingga pada suatu saat datanglah seruan yang berbunyi: Tak boleh tidur di tilam ini selain orang yang beribadat.

Salah satu ucapan Ibu Tunggal:Akulah yang nyilih di seluruh kepulauan ini. Ditentukan menurut tempat di mana aku harus datang lagi.

Ada pula cerita tentang seorang kiyai yang menemui Ibu Tunggal dengan membawa sesalin pakaian laki-laki, dengan ucapakan: Sebenarnya Ibu Tunggal ini seorang laki-laki dengan penyalinan seorang perempuan.

Tetapi, makna cincin tempurung  4 di jari tangan kanan dengan  sebuah gelang  dan dua cincin tempurung di jai kiri, hanya orang jauh hari pulalah yang tahu maknanya. Dan uang yang terdapat di dalam pundi-pundinya Rp 107,39 (seratus tujuh ribu tiga puluh sembilan rupiah).

Semoga akan tergugah hati orang bijak bestari menyingkap  Ibu Tunggal yang misterius yang pusaranya ada di Sukawayana ini, dan akan tetap ada orang yang merasa bersedekah dengan memperindah makamnya. (Ikut terus kisah selanjutnya/ras)