24.2 C
New York
06/08/2020
Opini

MENGHARGAI REKAYASA LOKAL

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

SATU  minggu lagi bangsa Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 69. Berbeda dengan kemerdekaan bangsa-bangsa lain, kemerdekaan Indonesia dicetuskan dan diperjuangkan oleh para sesepuh bangsa yang berjuang bersama rakyat di desa dan seluruh pelosok tanah air. Rakyat biasa ikut aktif berjuang mengorbankan segala miliknya dengan ikhlas dan sangat bersyukur bahwa negara dan bangsanya bisa memelihara kemerdekaan itu sampai saat ini dengan penuh kebanggaan.

Oleh karena itu alangkah baiknya apabila dalam suasana mengisi kemerdekaan, diberikan penghargaan yang setimpal kepada rakyat, bukan karena tetap bersyukur atas kemerdekaan yang dicapainya, tetapi karena rakyat tetap ikut berjuang dengan inovasi lokalnya yang luar biasa dalam banyak bidang. Salah satu yang diangkat dalam artikel ini adalah kemampuan rekayasa yang dilakukan oleh penduduk desa biasa, yang sehari hari bekerja sebagai buruh, bernama Pak Ase Saefudin, dari Desa Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Seperti diketahui perbanyakan suatu tanaman dapat dilakukan melalui beberapa cara. Dua cara yang cukup terkenal adalah dengan sistem kultur jaringan dimana melalui sistem ini suatu jenis tanaman dapat diperbanyak melalui sistem ilmiah kultur jaringan yang bisa menghasilkan bibit baru yang mempunyai sifat induknya hampir sempurna. Dalam bahasa awam, melalui sistem ini sepotong “induk” menghasilkan banyak sekali “anak” berupa bibit tanaman baru yang sering mempunyai sifat induknya dengan kualitas lebih tinggi, usia untuk menghasilkan buah lebih pendek dan mempunyai kemampuan daya tahan yang tinggi terhadap hama tanaman.

Cara kedua diantara banyak cara lainnya adalah dengan okulasi, yaitu “mengawinkan” atau prakteknya “menempelkan” dengan rapi sesuatu, misalnya daun, dari suatu jenis tanaman pilihan kepada batang dan akar dari jenis tanaman lain yang mempunyai dua sifat yang berbeda. Dua jenis atau lebih tanaman yang “dikawinkan” itu, seperti juga mengawinkan binatang, bahkan juga perkawinan antar manusia, akan menghasilkan tanaman baru yang membawa sifat dari “orang tuanya”. Perkawinan manusia bisa menghasilkan anak dan cucu yang mengikuti hukum Mendel, kadang ikut sifat bapaknya dan kadang ikut sifat ibunya.

Selanjutnya, dari pandangan bukan seorang ahli pertanian, melihat pengalaman Pak Ase Saefudin, seorang buruh sederhana dari Desa Kayu Ambon, terlihat bahwa anak-anak dari pohon jeruk yang dikawinkannya, atau diokulasi, hampir seragam. Anak-anak itu menghasilkan buah yang sama, besar dan rasanya, frekuensi berbuahnya, serta lamanya “anak pohon” baru itu bertahan hidup dan tetap menghasilkan. Penelitian yang lebih mendalam nampaknya diperlukan, karena Pak Ase Saefudin sendiri, sebagai penduduk biasa yang sederhana, belum mampu menyajikannya dalam bentuk paper ilmiah yang dipublikasikan seperti halnya hasil penelitian akademis.

Apa yang dilakukan oleh pak Ase Saefudin sangat sederhana. Diambilnya batang dan akar jeruk Bagong atau Jerbong, dan daun terpilih jeruk Primong, atau Jermong. Jeruk Bagong banyak tumbuh di Garut dan jeruk Primong asal mulanya dari Thailand. Jeruk Bagong mempunyai akar dan batang yang kuat, sanggup menahan beban andaikan tanaman itu mempunyai buah yang banyak dan berumur relatif panjang. Buah Jerbong kurang enak dan tidak laku dengan harga tinggi. Sebaliknya Jermong, mempunyai tingkat produktifitas tinggi, rasanya enak dan harganya tinggi. Setelah dikawinkan menghasilkan jenis baru, sementara dinamakan Jerlem, atau Jeruk Lembang yang kuat, buahnya banyak, rasanya enak dan laku jual dengan harga tinggi.

Jerlem membawa sifat terbaik dari kedua “orang tuanya” tumbuh bagus di Lembang yang udaranya sejuk. Menyongsong peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun 2014, bibit hasil perkawinan itu, atas ijin Bupati Pacitan, juga di daerah lainnya, melalui fasilitasi Yayasan Damandiri akan dicoba tanam oleh anggota Posdaya di daerah yang udaranya lebih panas. Jeruk baru itu diberi nama Jerdaya yang diharapkan ikut menolong menambah penghasilan keluarga miskin anggota Posdaya.

Menurut perkiraan, karena daerahnya lebih panas, rasa jeruk akan lebih manis tetapi diyakini tidak mengurangi daya tahannya. Kalau rekayasa lokal ini berhasil, jutaan keluarga miskin di desa akan hidup lebih mandiri dan sejahtera. Itulah penghargaan rakyat biasa menyongsong Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014 ini. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).

Related posts

Mempertahankan Kodrat Ibu Pertiwi

Tety Polmasari

Segudang Warisan Masalah Indonesia Pasca Jokowi

Ramli Amin

TABUR PUJA MEMBAWA BERKAH DI TAHUN POLITIK

Tety Polmasari

Leave a Comment