16.5 C
New York
19/09/2020
Aktual

Pengentasan Kemiskinan Bukan Bagi-bagi Duit

SURAKARTA (Pos Sore) — Kreativitas ekonomi biru Posdaya dibentuk secara mandiri untuk melatih kebersamaan. Tugas utamanya untuk menyegarkan budaya gotong royong. Seperti yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dari Posdaya berbasis Masjid, kini bisa membangun  Posdaya Masjid.

Di depan peserta Penyegaran LPM/LPPM Perguruan Tinggi Regional Jawa Tengah 1-3 dan Jawa Timur 1 di Surakarta, kemarin,  Ketua Yayasan Damandiri, Haryono Suyono mengingatkan, Posdaya yang mengacu Inpres nomer 3 tahun 2010 memiliki program setara dengan program pemerintah, yaitu pengentasan kemiskinan. Namun dalam hal ini, banyak pihak yang keliru, yang mengartikan  program pengentasan kemiskinan itu tolok ukurnya adalah bagi-bagi duit.

Menurut Haryono, Posdaya masjid kini marak, karena tanpa duit dan kemiskinan bisa diturunkan. Karenanya, kalau beberapa kemiskinan memang bisa terselesaikan dengan Posdaya, segera kita kerjakan blue economy atau  ekonomi kerakyatan.

Kreativitas Lokal

Haryono menyinggung hasil penelitian  Gounter Pauli, penggagas blue economy asal Swedia tentang green economy,  yaitu bagaimana manfaatkan ekonomi tanpa merusak lingkungan.

Green economy sangat populer di  Barat, tapi merugikan di negara berkembang, seperti Indonesia yang dituduh banyak mengubah hutan menjadi kebon kelapa sawit. Sementara , blue economy yang digagas Gounter Pauli adalah penggunaan bahan baku  dan kreatifitas lokal. Di Indonesia, ternyata pada masyarakat lokal selalu ada orang yang punya sifat entertainment/ kreatif.

Blue economy menjamin kebutuhan dasar setiap anggota yang ada di desa. Teknologi diterapkan sedemikian rupa sehingga teknologi rumit itu bisa dipakai orang biasa. Contohnya, penanaman gandum di Himalaya tapi rakyat sekitarnya tetap miskin. Dengan sedikit perubahan cara mengolah hasil tanam, rakyat sekitarnya jadi makmur, hasil gandumnya pun berlipat.

Dalam kaitan ini Haryono mengharapkan,  hasil temuan perguruan tinggi terkait teknologi tepat guna seyogianyalah dapat memberi manfaat langsung bagi penduduk miskin. Seperti mengubah sampah menjadi kompos, namun mesin komposnya  seharusnya tidak menggunakan daya listrik yang tinggi. Tapi di bawah 450 watt karena umumnya rumah tangga miskin memasang listrik dengan kapasitas 450 watt saja.

Haryono mengingatkan, orang-orang kreatif harus bisa memotivasi anggota Posdaya itu kerja keras, kerja cerdas. Mahasiswa harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lokal. Inti kreativitas adalah memecahkan masalah.  Mahasiswa harus melakukan penelitian awal tentang desa yang akan menjadi binaannya.

Saat ini sudah dikembangkan 250 lahan pabrik tahu, mengolah tanpa limbah. Produk modal kapital ini butuh Rp 20 juta, sehingga satu kelompok yang terdiri 5 – 10 orang bisa mendapat kredit Rp2 juta.
Bahan baku dari kedele ini butuh mesin yang bisa memanfaatkan cairannya untuk susu kedelai, sisa tahu yang tak terpakai diolah menjadi perkedel, air tahu bisa dijadikan dan wedang tahu. Produksi tahu ini menggunakan mesin sederhana seperti kulkas kecil. Uniknya, tahu tidak dikeringkan dengan obat tertentu, tapi cukup dengan air garam.

Yayasan Damandiri juga mengajak keluarga-keluarga miskin menanam rumput laut di pantai air payau. Sumbangan bibit rumput laut ini rencananya akan digelar perdana Agustus di Pacitan diresmikan Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. (jun)

Related posts

Iwan Yakin Ma’ruf Mampu Pimpin Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah

Akhir Tanjung

Keterlibatan Perempuan dalam Lembaga Penyelenggara Pemilu Masih Minim

Tety Polmasari

POSPENAS 2016: Keseimbangan Jasmani dan Ragawi

Tety Polmasari

Leave a Comment