Membangun Keluarga Pedesaan

Senin, 1 Sep 2014
Illustrasi: LPPM IKIP PGRI Semarang saat membentuk relawan pendampingan Posdaya.

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

REKTOR  Universitas Diponegoro di Semarang, Prof. Dr. Sudharto, yang bulan lalu menjadi moderator untuk memimpin penyajian calon Presiden dan Wakil Presiden RI, tidak saja bertanya kepada para calon tentang strategi pembangunan keluarga di pedesaan, tetapi secara konsekuen telah memerintahkan kepada Kepala LPPM Universitasnya, Prof. Dr. Ocky Karnarajasa, untuk bekerja sama dengan seluruh Dekan dan Dosen mempersiapkan pengiriman mahasiswa semester ke tujuh dan delapan untuk mengadakan gerakan pembangunan keluarga yang ada di pedesaan.

Perintah itu bukan hanya dilakukan sambil lalu, karena seminggu lalu, dalam upacara yang digelar di kampus yang sangat terkenal itu, Rektor lengkap dengan jajaran Dekan dan Dosen Pembimbing lapangan telah melakukan upacara pelepasan tidak kurang dari 3009 mahasiswa yang selama lebih satu bulan akan tinggal dan bekerja bersama rakyat desa memulai pembangunan keluarga dan membantu mencari jalan guna mengentaskan kemiskinan.

Dalam upacara yang megah itu, Rektor memberi kesempatan kepada Ketua Yayasan Damandiri untuk ikut memberi pembekalan kepada lebih dari tigaribu mahasiswa dan Dosen Pembimbing itu dengan tema pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan sumber daya manusia, yaitu mendidik rakyat di desa mampu mempergunakan kesempatan mengembangkan semua sumber daya yang tersedia melimpah di pedesaan. Proses pemberdayaan sumber daya manusia pedesaan perlu dikembangkan dengan tidak menganggap keluarga di desa sebagai keluarga bodoh dan malas, tetapi justru bisa, dengan perhatian dan dukungan yang diperlukannya, keluarga sederhana itu dengan sentuhan sedikit saja menjadi keluarga yang dinamik dan maju.

Dalam pembekalan yang diberikannya, ditekankan bahwa para mahasiswa, sesuai dengan perhatian yang diminta oleh Stephen Covey, perlu memiliki lima jenis kepercayaan yang perlu menjadi bekal bagi setiap mahasiswa untuk bisa mengumpulkan kekuatan dan berpikiran positif. Dijelaskan bahwa setiap mahasiswa perlu mengembangkan percaya diri yang kuat agar tidak ragu-ragu mendorong dan membantu keluarga di pedesaan untuk maju pesat. Keduanya, perlu membangun kepercayaan antar sesama rekan mahasiswa agar terbangun kerjasama gotong royong antar mahasiswa untuk membantu secara maksimal keluarga di pedesaan.

Ketiganya, kepercayaan kepada institusi agar segala sesuatu, kalau perlu, dapat dikembalikan dan didukung penuh oleh Universitas Diponegoro sehingga masyarakat mantab mengikuti petunjuknya. Keempatnya adalah kepercayaan kepada masyarakat agar tidak timbul anggapan bahwa masyarakat diangap bodoh, malas apalagi dianggap tidak mau menerima perubahan menuju ke situasi yang lebih baik. Dan terakhir adalah kepercayaan bahwa gagasan serta petunjuk mahasiswa KKN adalah demikian baiknya sehingga dapat diyakini sebagai sesuatu yang laku jual. Artinya bahwa petunjuk atau pendampingan itu begitu berharga sehingga penduduk desa tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang murahan dan tidak usaha diikuti dengan baik.

Melalui bekal lima jenis kepercayaan itu diharapkan setiap mahasiswa tampil beda ke pedesaan dan dengan mantab dan percaya diri mendengarkan rakyat dan keluarga desa serta dengan percaya diri yang kuat bisa mengarahkan aspirasi yang dianggap tepat untuk dikerjakan bersama dengan penduduk desa dan kekuatan pembangunan lainnya di desa. Kalau perlu setiap kelompok mahasiswa bisa “menjual” aspirasi masyarakat yang dianggap relevan kepada seluruh jajaran SKPD, atau pimpinan pembangunan lainnya, termasuk jajaran pemerintah pada tingkat desa, kecamatan dan kabupaten.

Proses pengembangan kedekatan kepada masyarakat itu, demikian disampaikan, harus mampu melahirkan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang kali ini ditargetkan sebanyak 500 buah di pedesaan. Pos ini secara langsung perlu mendapatkan petunjuk agar dapat hidup dan berjalan dengan lancar sepanjang jaman. Lebih-lebih lagi perlu disadarkan bahwa upaya pembangunan sumber daya manusia bukan perkerjaan ringan yang dengan mudah bisa menimbulkan frustasi dan tidak peduli lagi terhadap upaya yang sedang dijalankan

Oleh karena itu kepada setiap mahasiswa dianjurkan untuk tidak mencari desa dengan perangkat desa yang sulit atau mempersulit pengembangan Posdaya atau sulit menerima gagasan yang diperkenalkan, tetapi mencari desa yang dengan mudah dapat menerima gagasan dan mau bekerja sama dengan seluruh jajaran KKN tematik Posdaya. Usaha yang mudah itu akan menambah percaya diri dan memperlancar garapan berikutnya.

Lebih dari itu, setiap mahasiswa dianjurkan untuk menggunakan bahasa sederhana tanpa merubah tujuan yang telah digariskan. Delapan sasaran MDGs tidak perlu diperkenalkan dengan bahasa Inggris sebagai bahan baku yang dirusmuskan oleh PBB, tetapi di Jawa Tengah dan kabupatennya, bisa diganti dengan bahasa Jawa yang mudah ditangkap dan langsung bisa dimengerti artinya. Oleh karena itu dianjurkan untuk meringkas delapan sasaran MDGs itu menjadi lima tujuan pokok, Maton, Waras, Wasis, Wareg dan Mapan, dua M mengapit tiga W.

Masyarakat desa diajak menganut M pertama, yaitu Maton, artinya menyegarkan dan meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mendalami dan melaksanakan Pancasila melalui langkah nyata dengan mempraktekkan budaya peduli, ikhtiar gotong royong saling membantu sesama keluarga tetangganya. Prakteknya diwujudkan melalui upaya gotong royong diikuti pola yang menganut hidup penuh cinta kasih sesamanya dan saling melindungi. Selanjutnya dikembangkan kegiatan W pertama, yaitu Waras, yang artinya setiap keluarga diajak memelihara kesehatan agar bisa berumur panjang dan memberikan manfaat kepada rakyat banyak. Oleh karena itu setiap anak diwajibkan mengikuti pola W yang kedua, yaitu Wasis, artinya setiap anak usia sekolah disekolahkan agar mempunyai kecakapan dan ketrampilan sehingga bisa memanfaatkan kesempatan yang terbuka.

Lebih lanjut dianjurkan untuk mengikuti W yang ketiga, yaitu Wareg, artinya setiap keluarga didorong dan dibantu bekerja sehingga bisa mengentaskan kemiskinan dan mempunyai tingkat pendapatan yang memadai. Dan akhirnya M yang kedua, yaitu Mapan, artinya setiap keluarga dianjurkan memelihara lingkunannya yang nyaman dan memberi manfaat untuk kehidupan yang sehat, damai dan sejahtera.

Terjemahan yang sederhana itu merupakan bekal bagi para mahasiswa untuk dengan mudah mengajak masyarakat mengikuti gerakan dengan sasaran dan target MDGs dengan cara mengingat dan melaksanakan pola-pola sederhana dan mudah dilaksanakan. Di kemudian hari, setelah pemahaman itu, keluarga desa bisa diajak berkembang dengan sasaran dan target yang lebih rumit. Proses tahapan itu akan menjamin bahwa target pemberdayaan yang lebih rumit dapat dicapai oleh setiap keluarga sederhana di pedesaan. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri)