Bupati Mojokerto Deklarasikan Posdaya di Daerahnya

Selasa, 2 Sep 2014
Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, bersama Bupati Mojokerto, H Mustafa Kamal Pasa (MKP), SE, Wakil Bupati Mojokerto Dra Hj Choirun Nisa, MPd, yang juga Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Mojokerto dan pejabat daerah serta tokoh masyarakat setempat.

MOJOKERTO (Pos Sore)–Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, mengatakan Posdaya merupakan program yang terintegrasi dengan multipihak dan mampu mengentaskan kemiskinan dengan mengacu pada konsep sederhana, yakni memberikan bantuan pinjaman modal pada masyarakat miskin tanpa agunan.

“Posdaya merupakan program yang terintegrasi dengan multipihak. Meskipun program ini tanpa agunan namun peminjam tetap harus bekerja keras yaitu untuk mengembalikan pinjaman tersebut dengan system tanggung renteng,” kata Haryono saat melakukan acara sosialisasi Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Pendopo Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kemarin.

Acara sosialisasi dihadiri Bupati Mojokerto, H Mustafa Kamal Pasa (MKP), SE, Wakil Bupati Mojokerto Dra Hj Choirun Nisa, MPd, yang juga Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Mojokerto, Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto dr Hj Ikfina Mustofa Kamal Pasa, jajaran Muspida Kabupaten Mojokerto, serta ratusan mahasiswa KKN Tematik Posdaya dari dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Muhammadiah Sidoarjo (Umsida).

Dalam kesempatan itu Haryono mengungkapkan, pengembangan Posdaya telah sukses dilaksanakan di sejumlah daerah, di antaranya Kulonprogo, Sleman, Bantul dan Yogyakarta. “Kita sediakan anggaran di setiap bank yang kita tunjuk, tapi harus dengan cara meminjam. Jadi bukan dikasih duit begitu saja,” jelasnya.

Sebab, menurut Haryono, apabila keluarga miskin diberi uang Rp 300 ribu setiap tiga bulan akan selalu habis. Namun dengan cara meminjam, keluarga itu harus membayar. “Kalau mau pinjam Rp 2 juta boleh tanpa agunan melalui bank yang ditunjuk. Jika selesai pinjam, boleh pinjam lagi, sehingga bergulir dan yang pinjam itu harus bekerja keras untuk mengembalikan uang tadi dan harus bayar bunga,” tuturnya.

Di beberapa daerah, jelas Haryono, ada keluarga kaya yang mau menyicilkan pinjaman selama tiga bulan pertama bagi keluara miskin tersebut. Itu bisa dillihat di daerah Gunungkidul dan Kulonprogo. Para Camat dan orang kaya mengampu keluarga miskin sehingga pinjamannya tidak perlu menggunakan agunan karena yang mengampu keluarga kaya. “Kalo orang miskin apa yang mau diagunkan, mereka cuma mempunyai badannya saja. Memang mereka ada yang mempunyai rumah peninggalan orang tua…tapi ketika kita masuk ke dalam rumah tidak dijumpai apa-apa. Kursi saja tidak punya, apa yang mau diagunkan, kan ga ada,” jelas Haryono lagi.

Karena itu Haryono berharap, dengan adanya program Posdaya ini masyarakat Kabupaten Mojokerto dapat membangun diri dan keluarga untuk lepas dari kemiskinan. Dengan demikian, kabupaten ini akan menjadi contoh kabupaten lain yang masih dianggap miskin.

Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasha menyambut baik sosialisasi Posdaya ini. Dengan membacakan deklarasi Posdaya, Mustofa Kamal Pasha menandai dimulainya progam ini di Mojokerto. “Saya akan terbuka 24 jam bagi mahasiswa yang sedang mengikuti KKN Tematik Posdaya di Kabupaten Mojokerto. Kapan pun diperlukan, kita siap menerima dan terjun ke lapangan untuk bersama sama mendirikan Posdaya di setiap desa,” tegasnya.(jun)