MENYONGSONG INDONESIA SEHAT

Sabtu, 6 Sep 2014
Seorang penerjun melakukan aksi terjun payung dalam gladi bersih peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2013 di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, tahun lalu (foto: antaranews.com)

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

MINGGU depan, tepatnya tanggal 9 September 2014, kita memperingati Hari Olah Raga Nasional 2014. Setelah Negara Republik Indonesia berusia lebih dari 69 tahun, ada baiknya kita merenung apa makna Hari Olah Raga Nasional dan berpikir lebih jernih memberikan peran yang lebih penting pada pembinaan olah raga untuk kemajuan seluruh anak bangsa Indonesia yang lebih sehat dan nyaman. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dikembangkan untuk menyambut Hari Olah Raga Nasional kali ini.
Pertama-tama kegiatan Olah Raga tidak boleh dipisahkan dari upaya untuk meningkatkan kualitas anak bangsa dengan strukturnya yang makin menua.

Kita perlu mengajak tiga generasi, tua, dewasa dan muda, dari berbagai wilayah untuk berpartisipasi dan mengambil peran yang positif dalam pembinaan olah raga. Keluarga Indonesia dewasa ini sudah banyak yang memiliki empat generasi, yaitu kakek dan nenek sebagai generasi pertama, keluarga dewasa sebagai generasi kedua, anak-anak sebagai generasi ketiga sekaligus sebagai cucu-cucu generasi pertama, dan cucu-cucu dari anak generasi kedua sebagai generasi keempat, yang adalah cicit-cicit dari generasi pertama.

Kegiatan Olah Raga, dalam rangka memacu peningkatan kualitas anak bangsa, perlu melibatkan partisipasi seluruh generasi secara aktif dengan menyajikannya dalam suasana ceria karena diselenggarakan secara menarik, enteng dan mudah, kontinue dan merangsang perbaikan mutu jasmani dan rohani pesertanya. Upaya itu telah dilaksanakan antara lain dengan menutup jalan-jalan protokol tertentu pada hari libur untuk kegiatan jalan kaki bersama, naik sepeda bersama, atau kegiatan di luar rumah dari penduduk di perkotaan. Kegiatan semacam itu di pedesaan belum banyak dikerjakan karena umumnya pemerintah kabupaten, kecamatan dan pedesaan, belum merasa perlu menempatkan kegiatan itu dalam agendanya. Kegiatan di daerah perkotaan bisa terjadi karena awalnya dimulai oleh kelompok-kelompok peminat yang kemudian “terpaksa” difasilitasi oleh pemerintah kota.

Oleh karena itu, Kementerian Pemuda dan Olah Raga perlu mengembangkan program, atau setidak-tidaknya menganjurkan kepada Pemerintah Daerah dan Organisasi Masyarakat lainnya, untuk menjadikan kegiatan Olah Raga menjadi minimum tiga kategori kegiatan sebagai berikut. Pertama, kegiatan Olah Raga untuk penyegaran yang dapat diikuti oleh empat, tiga atau dua generasi sekaligus sehingga hasilnya adalah keadaan jasmani dan rohani yang makin sehat dan mengantar keluarga yang bersangkutan makin akrab, hidup gotong royong dan ceria karena bisa bergembira dan berolah raga ringan bersama-sama. Kegembiraan seluruh anggota keluarga di alam terbuka akan membantu kebugaran yang menggembirakan karena sekaligus perlu diikuti dengan penyediaan ruang publik dengan tata lingkungan yang segar dan nyaman.

Kedua, perlu dilakukan pengembangan Olah Raga massal dengan tujuan mencari bibit-bibit terpendam untuk selanjutnya dibina dan dikembangkan menjadi kader-kader yang dapat ditingkatkan menjadi olahragawan professional untuk mampu bertanding membawa nama baik bangsa. Kegiatan olah raga ini harus bersifat massal dan perlu penggarapan yang lebih gegap gempita. Pemerintah daerah sampai ke tingkat RT, RW dan pedesaan dilibatkan mengajak anak muda bangsa yang jumlahnya tiga kali lipat dibandingkan dengan anak muda di tahun 1970-an, secara langsung terjun pada kegiatan olah raga di kampung dan pedesaan. Kegiatan massal itu bukan untuk mengejar kejuaraan tingkat nasional, tetapi sebagai awal peningkatan perhatian dan cakupan kesertaan yang memberi kesempatan kepada anak muda maupun penduduk dewasa, membangun peningkatan apresiasi, kesadaran, pengetahuan dan akhirnya ikut serta dalam kegiatan olah raga berprestasi.

Peningkatan kesadaran akan berbuah pada peningkatan pengetahuan yang membawa dampak pada meningkatnya apresiasi terhadap kegiatan olah raga berprestasi. Apresiasi itu selanjutnya dirangsang menjadi partisipasi aktif bagi setiap warga dalam kegiatan olah raga berprestasi. Kegiatan olah raga secara massal menambah populasi olah ragawan yang semula tersembunyi. Akan banyak penduduk yang semula tidak mengira mempunyai bakat dan kemampuan olah raga menjadi tergugah dan tiba-tiba terkejut bahwa pada dirinya terdapat bakat terpendam. Kalau bakat yang terpendam itu dipupuk, tidak mustahil akan terlahir olahragawan baru yang bisa dikaderkan untuk menjadi juara dalam suatu cabang olah raga tertentu.

Dan ketiga adalah Olah Raga berprestasi yang perlu dikelola dengan sungguh-sunguh untuk menghasilkan anak bangsa yang dapat diandalkan dalam kancah pertarungan dan persahabatan antar bangsa. Kesungguhan mengelola pusat-pusat pelatihan olah raga berprestasi itu sebaiknya diserahkan kepada Organisasi Profesi dengan dana yang mencukupi yang secara terus menerus menggali bakat dari kegiatan Olah Raga Massal yang melibatkan keluarga dari segala penjuru tanah air. Pembinaan yang dimulai dari usia sangat dini dan secara terus menerus akan mengangkat harkat dan martabat bangsa. Selamat Berhari Olah Raga Nasional. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin)