24.2 C
New York
06/08/2020
Aktual Gaya Hidup

Indonesia Merdeka 69 Tahun, Rakyat Masih BAB Sembarangan

Ironi. Di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-69 tahun, masih saja ada penduduknya yang buang air besar sembarangan (BABS)! Ada sebanyak 60 juta orang yang melakukannya! Angka ini hampir sama dengan jumlah penduduk Filipina.

Kebiasaan BABS jelas sudah bertahun-tahun terjadi. Kondisi sanitasi Indonesia memang masih jauh tertinggal. Sanitasi di Indonesia hanya lebih baik dari Timor Leste dan Kamboja. Bahkan Indonesia masih jauh dari Malaysia atau Vietnam.

Indonesia sendiri berada di urutan keempat dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk. Ada 42% penduduk Indonesia yang belum mendapatkan sanitasi yang layak. Atau sekitar 60 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.

“Kerugian ekonomi bisa mencapai Rp56,7 triliun pertahun. WHO melansir 94% kasus diare akibat sanitasi buruk,” kata Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Wilfried Purba, di Kemenkes, Selasa (2/9).

Mengapa di usia Indonesia yang ke-69 masih saja ada masyarakat Indonesia yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS)? Ia menegaskan, karena masih melekatnya mitos dan budaya yang berkembang di Indonesia. “Salah satunya, kalau BAB di sungai, kan kotorannya mengalir, artinya tidak berdampak pada yang bersangkutan. Atau mitos, kalau BAB di kolam ikan, ikannya gemuk-gemuk, padahal ini keliru. Ada juga pandangan, kenapa BAB harus di rumah, kan najis,” paparnya.

Target MDGs sendiri pada 2015 harus sudah mencapai 68,87 persen masyarakat Indonesia yang terakses dengan sanitasi layak. Sedangkan target Indonesia agar rumah tangga terakses sanitasi layak dan berkelanjutan sebesar 62,41 persen. Sayangnya, pada 2014 ini baru terpenuhi sekitar 58% persen.

Dampak perilaku buruk BABS ini, membuat virus dan kuman dari tinja tersebar melalui makanan, air, dan pakaian. Ini juga menimbulkan diare yang membuat ribuan anak meninggal setiap hari. Selain itu, pertumbuhan dan kecerdasan anak juga terhambat.

“Dengan sanitasi yang layak ini bisa menyelamatkan 100 ribu nyawa balita akibat diare,” tandasnya.

Inilah yang menjadi tantangan dalam memenuhi target itu, mengingat belum semua masyarakat sadar pentingnya sanitasi layak. Terlebih Kementerian Kesehatan menargetkan ada sebanyak 100 juta jiwa yang mendapatkan air minum layak dan 120 juta jiwa terakses sanitasi.

Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Nugroho Tri Utomo menandaskan, sanitasi, air minum dan kesehatan lingkungan belum dianggap sebagai isu penting dalam kampanye partai politik pada pemilu 2014, padahal persoalan tersebut sangat penting.

“Isu tersebut seolah terabaikan dan belum dianggap sebagai isu penting. Mungkin tidak terlalu seksi, padahal itu sangat dibutuhkan masyarakat. Yang difokuskan hanya pada pengobatan gratis, sekolah gratis,” katanya.

Karenanya, berbagai pihak harus menumbuhkan niat dan komitmen untuk segera menyediakan air minum dan sanitasi yang layak. (tety)

Related posts

Hasil Revolusi Mental Harus Lebih Ditingkatkan Lagi

Tety Polmasari

Mulai Besok, Polisi Gelar Operasi Patuh Jaya

Tety Polmasari

DPR Desak Pemerintah Serahkan Draft RUU KKR

Tety Polmasari

Leave a Comment