Pentingnya ASI, Para Ibu Jangan Terbuai Iklan Susu Formula

Jumat, 12 Sep 2014

JAKARTA (Pos Sore) — Masih banyak ditemui di beberapa fasilitas kesehatan terjadi pemasaran produk pengganti Air Susu Ibu (ASI). Akibatnya, banyak ibu menjadi tidak percaya diri, bahkan kesulitan untuk menyusui buah hatinya.

Kondisi ini jelas sangat merugikan bagi ibu dan tumbuh kembang anak. Mengingat investasi gizi sangat penting bagi pembangunan bangsa Indonesia. Salah satunya dengan pemberian ASI ekslusif sampai 2 tahun.

“Investasi gizi melalui ASI ekslusif akan memproduksi generasi baru yang akan menentukan masa depan Indonesia,” kata Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy, terkait Puncak Perayaan Pekan ASI Sedunia Tingkat Nasional 2014, di Kemenkes, Jumat (12/9).

Di Indonesia puncak PAS 2014 bertema ‘Menyusui: Kemenangan untuk Kehidupan’, digelar di Jakarta pada 15 September 2014. Setiap tahunnya, pada 1-7 Agustus, dunia merayakan PAS, sebagai salah satu bentuk perlindungan, promosi, dan mendukung kegiatan menyusui.

Menurut Doddy, investasi di bidang gizi ini akan turut membantu memutus lingkaran kemiskinan. Selain itu, investasi gizi juga bisa meningkatkan PDB negara sekira dua sampai tiga persen per tahun.

“Investasi satu dolar pada gizi dapat menghasilkan kembalinya 30 dolar dalam peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas enonomi,” tandasnya.

Konsultan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Utami Rusli, menandaskan, ibu harus memahami pemberian DHA dan AHA pada susu formula bayi tidak akan menambah kepintaran seorang bayi. Untuk itu, para ibu diimbau untuk tidak ‘termakan’ sejumlah iklan produk susu formula di televisi.

“Pada 2010 sebanyak 4 penelitian metaanalisa dari 4 orang penelitian besar, dan pada 2012 sebanyak 12 penelitian besar metaanalisa menujukkan pemberian DHA dan AHA pada formula bayi tidak akan menambah kepintaran seorang bayi,” tandas pakar ASI dari Rumah Sakit St. Carolus Jakarta, itu.

Sebaliknya, seorang bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan sampai 2 tahun, berguna untuk meningkatkan kemampuan fungsi kognitif, bahasa, dan motorik seorang anak.

“Pada 2013 dilakukan penelitian terhadap 504 orang bayi di Inggris yang diikuti sampai mereka berusia dua tahun. Mereka menemukan, sejumlah anak yang mendapatkan makanan standar emasnya ini, secara signifikan meningkatkan sejumlah fungsi tersebut,” paparnya. (tety)