PETIK, OLAH, JUAL DAN UNTUNG

Selasa, 16 Sep 2014
Bupati Brebes, Jateng, Hj. Idza priyanti, SE, dengan Ketua Yayasan Damandiri Prof.Dr Haryono Suyono, saat pencanangan gebyar Posdaya di kabupaten itu beberapa waktu lalu.(infopantura.com)

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

SUATU pengembangan Ekonomi Kerakyatan, dalam praktek biasanya dilakukan melalui peningkatkan dari pengolahan kebun dan sawah tradisional menjadi kebun dan sawah modern dengan sistem yang serba modern. Pengolahan hasilnya juga dilakukan dengan tehnologi super modern sehingga diperlukan investasi dengan dana yang tidak kecil. Akibatnya para petani mundur teratur dan “menjual” asset tanah itu seakan seperti “memberikannya” kepada pemodal besar yang bisa dengan mudah menguasai asset yang menjadi satu-satunya penopang hidup petani yang bersangkutan untuk seumur hidupnya.

Cara lain untuk mengembangkan Ekonomi Kerakyatan sedang dilakukan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Rakyatnya bekerja keras melalui Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), menyegarkan pola hidup gotong royong untuk mengukuhkan kerjasama dalam mendampingi dan mengembangkan keluarga sejahtera.

Menurut pelaporan Ibu Dra. Rini Pujiastuti, mantan PLKB yang sekarang sekaligus menjadi pengurus Koperasi Windu Kencana, Posdaya yang dibinanya bersama Pak Komar, Ketua KoperasiNya, sanggup menyegarkan hidup gotong royong, memberikan modal untuk usaha mikro dan kecil kepada keluarga yang mau bekerja cerdas dan keras mengolah berbagai produk dari bahan baku lokal tanpa meninggalkan limbah.

Bagi penduduk yang sempat berkunjung ke atau singgah di Brebes, Rini menyatakan bahwa rasanya kurang lengkap jika tidak membeli telur asin. Sebab, selain menjadi ikon oleh-oleh khas, telur asin Brebes juga memiliki sejumlah keunikan, dibanding telur asin dari daerah lain. Industri telur asin di Brebes tidak saja mengubah telur bebek untuk sekedar dimasak atau digoreng, sekarang diolah dan bisa tahan lebih lama. Usaha industi rumahan ini seakan-akan membuktikan bahwa telur seakan dipanen, atau dipetik, diolah baru dijual dengan harga yang lebih baik dan menguntungkan. Pelaju, artinya petik, olah, jual dan menguntungkan.

Usaha Pelaju dengan mengolah telur itu sejak lama telah sangat meluas hingga tersedia berbagai pilihan jenis dan kualitas telur asin. Masing-masing produsen memiliki kebanggaan sendiri-sendiri yang biasanya dapat dilihat pada kulit telur. Walaupun selera setiap orang berbeda-beda, telur asin yang dinilai berkualitas tinggi memiliki ciri-ciri bagian kuning telur berwarna jingga terang hingga kemerahan, “kering” (dan jika digigit tidak mengeluarkan cairan), tidak menimbulkan bau amis, dan rasa asin tidak menyengat.

Sunarto (42 tahun), salah seorang pelaku usaha telur asin yang beralamat di Kelurahan Limbangan Wetan, mempunyai usaha yang telah dirintis sejak tahun 2010. Usahanya sampai sekarang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, bisa menabung dan merintis pembangunan rumah yang dihuninya. Dinyatakannya, bahwa “Telur Asin yang saya produksi, baru sekitar 1.200 butir telur asin sehari sehingga saya hanya menjual secara eceran untuk para pelanggan di daerah Songgom, Ketanggungan, Tanjung dan Klampok. Daerah-daerah lain belum bisa saya layani karena terbatasnya modal usaha.”

Mengenai kualitas telur asinnya, Sunarto memberi komentar, “Banyak pelanggan yang saya kirim bilang, telur asin buatan saya rasanya enak, gurih, majir dan tidak amis, serta harganya juga terjangkau. Bahan telur asin yang saya beli memang dari pengepul telur mentah, namun ada resep yang membedakan rasa dan gurihnya setelah diolah dan siap untuk di jual”. Sunarto tanpa was was memberikan resep jitu dalam memilih telur yang bagus dan berkualitas tinggi. Selain itu kelezatan rasa telur asin Brebes dipengaruhi pula oleh kandungan pakan bebek, yang mengutamakan ransum pilihan, protein tinggi dan alami. Pengolahannya tanpa pengawet, sehingga diperoleh rasa tradisional yang khas. Hal inilah yang membedakan telur asin Brebes dengan telur asin daerah lain.

Menurut Sunarto “proses pembuatan telur asin pada prinsipnya sama, yaitu telur bebek dibungkus adonan pengasin yang terbuat dari garam, abu gosok, dan tanah liat. Setelah disimpan 14 hari, telur dicuci dan direbus, lalu di pasarkan. Harga telur asin yang diproduksi Sunarto adalah sekitar Rp. 2.700 per butir. Dengan harga tersebut ia memperoleh margin keuntungan sebesar Rp. 600,-. Khusus pada hari Lebaran, Sunarto mampu mengolah hingga 2 ribu butir dalam sekali produksi sehari. Lebaran lalu, harga telur asin naik menjadi Rp 2.700 sampai Rp 3.000 per butir. Setelah Lebaran, permintaan pasar akan normal kembali dengan harga Rp. 2.500 sampai Rp. 2.700.

Telur asin Brebes memiliki beberapa varian yakni Telor Asin Udang, Telor Asin Rebus, Telor Asin Pangon, Telor Asin Panggang, dan Telor Asin Bakar/Asap. Namun untuk Sunarto hanya memproduksi telur asin jenis asin rebus dan asin asap. Sekarang, modal usaha yang dipergunakannya guna memperlancar usahanya berasal dari Pinjaman Tabur Puja Posdaya yang diketuai oleh Ibu Rohayati, sebesar Rp. 2.000.000,-. Dana yang bisa diakses oleh anggota Posdaya itu disediakan oleh Yayasan Damandiri tanpa agunan. Dengan modal itu Sunarto bisa menaikkan pasokan permintaan pelanggan.

Keberhasilan itu dijelaskan oleh Ibu Rohayati selaku Ketua Posdaya Limbangan Wetan, “Kredit Tabur Puja digulirkan untuk mendorong dan memotivasi keluarga-keluarga miskin yang tergabung dalam Posdaya untuk bekerja keras memaksimalkan usahanya. Karena usaha mengolah telur itu melibatkan banyak keluarga pra sejahtera, maka keluarga-keluarga itu bekerja bersama memanfaatkan Skim Tabur Puja.”

Untuk mendapatkan Kredit, keluarga yang bersangkutan harus mau menabung. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masa depan dan sekaligus meningkatkan taraf kehidupannya agar menjadi sejahtera dengan kemandirian. Dengan demikian, Skim Tabur Puja, mendukung anggota Posdaya mengembangkan usaha bersama dan menjadi salah satu sumbangsih dalam mendorong upaya percepatan pencapaian target MDGs dan upaya menghidupkan budaya gotong royong.

Biarpun Skim pinjaman rendah, hanya sebesar Rp. 2.000.000,-, tetapi diberikan tanpa agunan dan tanggung renteng antar anggota Posdaya. Jasa yang diberikan sebesar 18% per tahun, dan disamping menabung, setiap keluarga harus mengetrapkan kegiatan kelompok Posdaya seperti memelihara kesehatan lingkungan, menyekolahkan semua anak usia sekolah, menolong keluarga pra sejahtera ikut aktif dalam usaha yang dikerjakannya. (Prof. Haryono Suyono, Ketua Damandiri)