Berkunjung ke Desa Mantabkan Komitmen

Sabtu, 20 Sep 2014
Salah satu Posdaya binaan IPB Bogor di Bogor, Jawa Barat (foto:ist)

Oleh  Prof. Dr. Haryono Suyono

AKHIR  bulan lalu Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Sudharto P. Hadi, MES, PhD, seorang ahli lingkungan yang pada waktu paparan calon Presiden dan calon Wakil Presiden bertindak sebagai moderator debat yang handal, menyempatkan diri menengok ratusan mahasiswa KKN tematik Posdaya di berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Rombongan Rektor yang disertai oleh Ketua LPPM, Prof. Dr. Ocky Karna Rajasa, Ketua LPPM UNNES, dan puluhan Dosen Pembimbing Lapangan itu ditemani juga oleh Ketua Yayasan Damandiri dan beberapa pejabat fungsional dari pemerintah daerah di Kabupaten Magelang dan daerah sekitarnya.

Kunjungan Rektor itu merupakan komitmen yang sangat tinggi bahwa dalam rangka KKN tematik Posdaya yang beberapa tahun ini digelar di seluruh Indonesia, bukan hanya sekedar kegiatan serimonial sederhana tetapi suatu kegiatan operasional dengan berbagai tujuan ganda yang menguntungkan banyak kalangan.

Bagi mahasiswa, yang umumnya sudah berada pada semester ke tujuh atau ke delapan, kesempatan bertugas dalam kelompok bersama masyarakat adalah wujud nyata yang akan dialaminya dalam kehidupan di masa depan. Kelompok perlu percaya satu sama lain dan mengambil sikap yang jelas tetapi dalam kebersamaan, sehingga sebelum suatu keputusan diambil perlu dilakukan musyawarah untuk mufakat. Setiap mahasiswa tidak boleh pergi ke desa, melakukan penelitian dan menyampaikan hasil-hasilnya kepada rekan lainnya dengan sungguh-sungguh karena rekan lainnyapun akan mendengarkan masyarakat juga.

Keterpaduan data yang kemudian menjadi bahan kesimpulan akan dan harus menguntungkan masyarakat desa dan keluarga miskin yang akan dibantunya. Kematangan dan kearifan bergaul dengan masyarakat akan membawa keuntungan yang luar biasa karena akan menumbuhkan kepercayaan dan harapan yang besar bahwa intervensi yang disarankannya akan dianut.

Bagi perguruan tinggi yang mengirim dosen dan mahasiswa akan mendapat keuntungan yang melimpah karena bahan ajar akan diuji di lapangan apakah cocok dan menguntungkan keluarga dan masyarakat luas. Bahan kuliah yang umumnya mengambil referensi dari para ahli di kaliber dunia perlu dilihat dan di test relevansinya dengan keadaan di lapangan. Test-test yang dilakukan oleh mahasiswa bersama masyarakat, bukan oleh mahasiswa sendiri, akan menjadi suatu test hidup yang wajar karena pelakunya adalah pelaku yang sesungguhnya.

Apabila teori dalam kuliah dapat diterjemahkan dengan baik oleh Dosen Pembimbing Lapangan dan dibawakan dengan mulus oleh mahasiswa dan masyarakat luas, maka dengan sendirinya akan menjadi acuan yang lebih meyakinkan untuk kuliah pada periode berikutnya. Apabila tidak cocok, maka kasus-kasus yang bisa ditulis dari pengalaman lapangan akan menjadi bahan kuliah yang sangat berguna dan apabila diikuti dan diramu secara ilmiah, bisa menjadi acuan dan bahan kuliah yang menarik. Bisa saja bahan yang sifatnya lokal itu akan menjadi bahan acuan global.

Bagi masyarakat dan utamanya keluarga miskin, akan mendapat masukan yang sangat berharga dari puluhan bahkan ratusan mahasiswa yang tanpa pretensi apapun akan berusaha dengan cerdas menolong dan memberi petunjuk kepada mereka tentang usaha menjalani hidup dan kehidupan yang lebih sejahtera melalui berbagai teori yang sahih. Rakyat desa akan diajari dan setidaknya melihat bagaimana mahasiswa, tanpa pamrih memberikan yang terbaik kepada masyarakat luas di pedesaan. Mahasiswa dan dosen pembimbing lapangan akan berdebat bukan untuk mendapatkan kedudukan, tetapi mencari cara terbaik agar saran dan acuan yang diberikannya diterima dan dilaksanakan dengan berhasil oleh rakyat banyak.

Dengan contoh-contoh yang rumit hampir pasti gagasan mahasiswa untuk menterjemahkan sasaran dan target MDGs yang diputuskan oleh PBB tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik. Pemerintah sudah terbukti gagal bahwa angka kematian ibu hamil dan melahirkan bukan menurun, tetapi malah melambung tinggi. Para mahasiswa dan dosen pembimbing lapangan perlu memikirkan dan mencari jalan agar keluarga desa muda bisa mengendalikan kelahiran seperti di masa lalu sehingga kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan kematian anak menurun secara drastis.

Pengentasan kemiskinan bukan saja dengan mengentaskan kemiskinan dengan menggusur keluarga miskin, tetapi di desa ternyata lebih ampuh kalau keluarga miskin justru diberdayakan dan diangkat dengan sungguh-sungguh menjadi sahabat keluarga yang lebih mampu, diajari bekerja cerdas dan keras, dan akhirnya mengakhiri budaya miskin menjadi keluarga yang lebih bahagia dan sejahtera karena bekerja cerdas dan keras.

Kunjungan dan keseriusan Rektor Universitas Diponegoro terhadap KKN tematik Posdaya ternyata tidak sendirian. Rektor IPB mempunyai kegiatan Jumling, atau setiap hari Jumat keliling dengan punggawa kampus untuk melihat hasil dari kegiatan mahasiswa KKN tematik Posdaya dan kegiatan Go Field membangun keluarga di desa.

Rektor Universitas Negeri Surabaya mempunyai kegiatan serupa dengan membaur bersama mahasiswa yang sedang membangun dan mengisi Posdaya di desa-desa. Dan masih banyak lagi kegiatan yang ternyata menular dengan baik karena rakyat rupanya memberikan apresiasi terhadap partisipasi kampus dalam pemberdayaan keluarga melalui Posdaya di desa. Semoga membawa perubahan positif dalam mempersiapkan calon pemimpin masa depan bangsa. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015