1.3 C
New York
27/01/2021
Aktual

Penguasaan Teknologi Pengolahan Limbah Perlindungan Terhadap Lingkungan Hidup

SERPONG (Pos Sore) — Berdasarkan data statistik, lndonesia menghasilkan limbah tidak kurang dari 38 juta ton per tahun. Sebanyak 14 % di antaranya limbah plastik yang sangat sulit untuk diurai. Limbah yang tidak diolah akan menyebabkan berbagai polusi baik itu udara, air maupun tanah.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai lembaga litbang telah berhasil mengembangkan teknologi yang secara efektif dapat digunakan pengolahan untuk limbah B3 dan limbah radioaktif.

“Teknologi tersebut sudah dimanfaatkan oleh berbagai industri dan rumah sakit di lndonesia yang menghasilkan limbah, khususnya limbah radioaktif,” kata Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Batan, Taswanda Taryo.

Ia menegaskan hal itu di sela Seminar Teknologi Pengelolaan Limbah Xll bertema ‘Penguasaan dan Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Limbah sebagai Wujud Perlindungan Lingkungan Hidup’, Selasa (30/9), di Pusat Penelitian Iptek, Serpong, Banten.

Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan industri dan rumah sakit untuk mengelola limbah yang dihasilkan dan sharing informasi tentang perkembangan pengelolaan
teknologi limbah.

Pengertian limbah atau sampah sendiri, adalah sisa-sisa hasil aktivitas manusia baik dalam melakukan kegiatan keseharian, industri, rumah sakit, penelitian dan pengembangan atau kegiatan lainnya yang mengandung zat kimia dan bisa menimbulkan polusi serta gangguan kesehatan.

Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999, limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan atau kegiatan manusia.

Kepala Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, Suryantoro, menjelaskan, berdasarkan wujud atau bentuknya dikenal 3 macam limbah yaitu limbah cair, limbah padat, dan limbah gas. Berdasarkan sumbernya dikenal 3 macam limbah, yaitu limbah alam, limbah manusia dan limbah konsumsi.

“Limbah yang dihasilkan dari aktivitas manusia tersebut ada yang bersifat bahan (B3) berbahaya dan beracun di antaranya adalah limbah yang bersifat radioaktif,” ujarnya.

Menurutnya, limbah B3 dan radioaktif perlu diolah dengan menggunakan teknologi khusus untuk mencegah agar tidak menimbulkan akibat yang membahayakan bagi manusia dan lingkungan.

Kepala Batan, Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto, menambahkan, berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, BATAN adalah satu-satunya institusi di lndonesia yang secara khusus ditugasi Pemerintah untuk mengolah dan menyimpan limbah radioaktif yang dihasilkan dari aktivitas industri, rumah sakit dan litbang.

“Pengawasan ini didukung oleh Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang memiliki tugas sebagai badan regulasi dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyusunaan bahan nuklir di lndonesia,” katanya.

Pada saat ini sudah ada 7.OOO institusi/lembaga baik pemerintah
maupun swasta di lndonesia yang memiliki bidang usaha berkaitan dengan unsur radioaktif dan memiliki potensi untuk menghasilkan limbah radioaktif.

“Sebagai badan pengawas, Bapeten
wajib melakukan pengawasan terhadap para pengguna unsur radioaktif tersebut untuk mencegah terjadinya kealpaan dan adanya kesengajaan untuk tidak mengelola limbah yang dihasilkan,” tambah Prof. Dr. Jazi Eko lstiyanto, Kepala BAPETEN.

Bapeten diakuinya cukup keras dalam menindak pihak-pihak yang menggunakan teknologi radiasi tanpa izin. Jika ditemukan, pihaknya akan langsung melapor kepada pihak kepolisian. (tety)

Related posts

Prof Zainuddin Maliki Minta Nadiem Perjuangkan Gaji Guru Honorer

Akhir Tanjung

Kembalikan Stamina Usai Liburan dengan Bahan Herbal

Tety Polmasari

Pentingnya SNI Produk Kelistrikan Rumah Tangga

Tety Polmasari

Leave a Comment