Asalkan Untuk Kepentingan Bangsa Bukan Kepentingan Pribadi

Menperin : Saya Buka Pintu Lebar Tanpa Protokoler Bagi Pengusaha

Selasa, 28 Okt 2014
Menteri Perindustrian,Saleh Husein (kiri) bersama Mantan Menteri Perindustrian periode 2009-2014, MS Hidayat, saat acara lepas sambut dan serah terima jabatan, di Kemenperin,Selasa (28/10).

JAKARTA (Pos Sore) –Menteri Perindustrian,Saleh Husin mengungkapkan, sebagai menteri yang baru menjabat ia membuka pintu selebar-lebarnya kepada asosiasi dunia usaha untuk membahas dan mengembangkan industri demi kesejahteraan rakyat.

“Saya akan membuka pintu lebar asalkan untuk kepentingan bangsa dan negara dan produk kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.Jangan ketemu tanpa protokol untuk kepentingan probadi.Jangan.”

Bahkan ia menjanjikan kepada asosiasi untuk bertemu dengannya tanpa melalui prosedur protokoler lazimnya selama ini terjadi.”Saya akan membuka pintu lebar asalkan untuk kepentingan bangsa dan negara dan produk kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.Jangan ketemu tanpa protokol untuk kepentingan probadi.Jangan,” tegas pria kelahiran Rote Nusa Tenggara Timur, di sela serah terima jabatan dengan MS Hidayat,di Kemenperin, Selasa (28/10).Hadir juga pada kesempatan itu, sejumlah pejabat eselon I dan pelaku usaha.

Menurutnya, untuk kepentingan masyarakat ia siap bertemu agar industri bisa berkembang pesat dan disegani terutama di Asean.Ia juga berjanji akan melanjutkan program sebelumnya yang belum berjalan. Ia juga tetap meminta kepada MS Hidayat untuk terus memberikan dukungan dan masukan agar bisa merealisasikan program yang ada.

MS Hidayat yang menjabat Menteri Perindustrian periode 2009-2014 perpesan agar peningkatan dan penumbuhan industri perlu terus didorong mengingat industri merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Saat ini kontribusi sektor industri terhadap ekonomi mencapai lebih dari 23%, yang merupakan sektor terbesar penyumbang ekonomi nasional. Kedua, kebijakan pengembangan industri merupakan terjemahan visi dan misi Bapak Presiden RI menjadi program aksi mewujudkan dan menjabarkan Trisakti, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya.

Dalam bidang ekonomi, Trisakti tersebut ditujukan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan mewujudkan perekonomian yang inklusif berbasis ilmu pengetahuan teknologi dan keunggulan sumber daya manusia. Penjabaran program dalam Nawa Cita yang terkait sektor industri adalah meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Di samping program-program tersebut, sesuai sidang pertama Kabinet Kerja, Menperin ditugaskan segera melaksanakan Quick Wins, antara lain,  Re-disain Road Map Industrialisasi sejalan dengan Trisakti dan NawaCita, hilirisasi hasil tambang keproduk jasa dan industri, hilirisasi produk-produk pertanian menjadi produk agro industri,pembangunan 10 kawasan industri di luar pulau Jawa, melalui kerjasama pemerintah dan swasta, Expo dan pemberian penghargaan terhadap inovasi produk-produk industri dan kampanye sistematis dan kreatif untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kegiatan industri dalam mendukung Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).
Termasuk penguatan struktur industri melalui keterkaitan antara industri hulu (dasar) dan industri hilir (light).

Pada kesempatan itu, MS Hidayat juga memberikan 7 buah buku kepada Saleh Husin sebagai bentuk pertanggungjawaban dan kesinambungan kerja Menperin.(fitri)