15 C
New York
26/05/2020
Aktual

Pejuang Ekonomi Bangsa Di Tanah Harapan

PADA hakekatnya pembangunan kawasan transmigrasi merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan pembangunan daerah. Percepatan pembangunan di kawasan transmigrasi merupakan kebutuhan dan tuntutan untuk meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat sekitar.
Dalam kurun waktu 63 tahun, melalui program transmigrasi tercipta sekitar 2,2 juta kepala keluarga atau sekitar 8,8 juta orang miskin dan pengangguran telah mendapatkan peluang usaha dan berhasil meningkatkan kesejahteraannya.

Hingga saat ini tercatat dua eks lokasi pemukiman transmnigrasi yang berkembang menjadi ibukota provinsi, yakni Sulawersi Barat dan Kalimantan Utara. 104 pemukiman transmigrasi berkermbang menjadi ibukota kabupaten/kota, 382 pemukinan transmigrasi menjadi ibukota kecamatan, 1.183 pemukiman menjadi Desa Definitif dan 3.082 menjadi Pradesa.

Oleh karenanya program transmigrasi ini menjasdi salah satu solusi yang bisa dibanggakan menjadi program nasional, membangun masyarakat dari pinggiran dan merupakan salah satu program yang sangat memasyarakat artinya melalui program transmigrasi akan memberikan hak warga dalam meraih hidup yang lebih baik. Masyarakat bisa mendapatkan lahan sekaligus diberikan pendampingan untuk terwujud seuatu kemandirian bagi masyarakat transmigrasi dan masyarakat desa-desa sekitarnya di kawasan transmigrasi.

Menumbuhkan kembangkan wirausaha di Kawasan Transmigrasi

Transmigrasi tidak hanya sekadar memindahkan orang dari satu pulau ke pulau lain untuk menetap dan berusaha, tetapi transmigrasi juga menjadi sebuah model pembangunan kawasan untuk merningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan permbangunan daerah. Semua pihak harus berupaya mendorong perubahan paradigma pembangunan daerah dari “Membangun Dearah Menjadi Daerah Membangun” melalui pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan di kawasan transmigrasi.

Strategi pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi ditempuh antara lain melalui proram menumbuhkembangkan kewirausahaan, jiwa kewirausahaan harus dimiliki oleh para transmigran. Dengan memiliki jiwa kewirausahaan maka peningkatan taraf hidup warga transmigran adalah suatu keniscayaan. Melalui program ini, di masa mendatang akan bermunculan wirausahawan-wirausahawan baru dari kawasan transmigrasi, kehadiran wirausahawan transmigrasi yang kuat dan tangguh karena mereka mampu tumbuh dalam kondisi serba keterbatasan, akan menjadi kawasan transmigrasi semakin kuat perekonomiannya, lapangan kerja baru akan terciptra sejalan dengan perkembangan percepatan pembangunan di kawasan transmigrasi akan lebih terpacu.

Kenyataan membuktikan bahwa di banyak lokasi, transmigran yang berhasil hakekatnya bukan hanya fokus pada bidang produksi tetapi juga melaksanakan kegiatan-kegiatan usaha lain seperti industri rumah tangga, berdagang, usaha di bidang jasa dan bidang usaha lain.
Dirjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kemnakertrans RI Ir Roosari Tyas Wardani, MMA dalam kesempatan acara pembukaan Workshop Wirausaha Transmigrasi di Sentul, Bogor, di hadapan peserta workshop menyatakan komitmennya untuk terus mendorong tumbuh dan berkembangnya pusat-pusat perekonomian baru di daerah dan memfasilitasi berbagai sarana utama dan sarana pendukung.

Kawasan transmigrasi tersebut ditargetkan tidak hanya menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru tetapi juga menjadi sentra-sentra produksi berbagai produksi atau komoditas unggul pertanian melalui peran wirausaha transmigrasi.
Saat ini Ditjern P2MKT dalam periode RPJM 2010-2014 telah berhasil mencetak sebanyak 10 ribu transmigran menjadi wirausahawan (enterpreneur). Bahkan melalui program penumbnuhan dan pengembangan kewirausahaan di pemukiman/kawasan transmigrasi telah terbentuk Lembaga Himpinan Wirausaha Transmigrasi (HW-Trans) di 20 kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM).

HW-Trans ini dibentuk sebagai wadah para peloror wirausaha dalam menjalankan fungsi pendampingan, mitra, fasilitator kewirausahaan, akses permodalan, teknologi dan implementasi usaha di kawasan transmigrasi. Melalui wadah ini juga telah dimasyarakatkan Gerakan Pengembangan Pelopor Wirausaha masyarakat transmigrasi melalui inkubasi bisnis. Keberadaan pelopor-pelopor wirausaha tersebut diharapkan dapat mempercepat transformasi pertumbuhan ekonomi kawasan dan konsumtif menjadi kawasan transmigrasi yang produktif.

Tekad jajaran Ditjen P2MKT dalam mengembangkan kewirausahaan ini tidak semata-mata diorientasikan hanya pada capaian target-target kuantitatif, aspek kualitas melalui peningkatan teknis kewirausahaan yang profesional dan dukungan pendanaan dari sektor terkait menjadi pertimbangan penting yang akan menyertai upaya peningkatan kapasitas SDM pengelola dan kelembagaannya, serta stimulan bantuan peralatan usaha mandiri dan sarana/prasaranya.

“Wirausaha Kuat Transmigrasi Sejahteras”

Masyaraklat transmigrasi sebagai suatu entitas yaitu masyarakat yang berada/bermukim di kawasan transmigrasi meliputi transmigran di kawasan transmigrasi meliputi transmigrasi di kawasan transmigrasi maupun masyarakat di desa-desa sekitarnya yang berasal dari berbagai daerah dengan ragam latar belakang merupakan masyarakat baru yang diharapkan dalam pengembangan SDM menjadi lebih berkeserasian.

Masyarakat baru yang terbebas dari berbagai kepentingan dengan tampilan bersahaja dan tatapan kooperatif yang boleh disebut “Sang Pejuang” ini, diharapkan mampu memecah kesunyian hamparan lahan yang semula hanya merupakan onggokan semak belukar ataupun ilalang liuar menjadi kerimbunan tanaman-tanaman pangan, perkebunan dan kegiatabn produktif lainnya.

Dinamika pembangunan yang semakin sumringah dan menggembirakan dengan ditaburi senyum para penghuninya ini merupakan buah dari pemberdayaan masyarakat yang intensif dan inovatif dengan institusi pembinanya Ditjen P2MKT berangsur-angsur namun penuh dengan kepastian bahwa perbaikan struktur perekonomian kawasan transmigrasi mulai menunjukkan arah perkembangan yang semakin beragam dan berimbang antara sektor primer, sekunder dan tersier. Terlebih lagi dengan semakin tumbuh kembangnya para usahawan dari komunitas masyarakat transmigrasi. Maka harapan tegaknya sebuah kemandirian relatif akan bisa diwujudkan.

Wakil Presiden Yusuf Kalla dalam kesempatan memberikan kuliah perdana di Sekolah Tinggi Kewirausahaan Indonesia di Bandung Jawa Barat menyatakan bahwa populasi wirausaha minimum 2 persen dari total penduduknya, maka wilayah tersebut akan sejahtera masyarakatnya.

Ditjen P2MKT telah memberikan andil dalam meletakkan landasan bagi tumbuhkembangnya ekonomi kerakyatan di kawasan-kawasan transmigrasi melalui peran wirausaha transmigrasi. Meskipun dalam wujud kesederhanaan dan masih dilingkupi keterbatasan, namun setidak-tidaknya para wirausaha transmigrasi yang tumbuh telah diletakkan sebuah fondasi ekonomi dan iklim usaha yang kondusif di pemukiman/kawasan transmigrasi. Ini semua adalah prakarsa-prakarsa cerdas sertas produktif dalam mengaktualisdasikan potensi jati diri masyarakat transmigrasi untuk menjadi wirausaha transmigrasi yang kuat.

Sejarah telah mengajarkan berbagai gejolak ekonomi hingga krisis multi dimesi yang menerpa Indonesia, tidak akan pernah menbghanyutkan atau menenggelamkan bangunan ekonomi rakyat yang tanpa proteksi ini. (hasyim)

Related posts

Kopi Indonesia Terbaik di Dunia

Tety Polmasari

Haryono Menantang STIAMI Terjunkan Mahasiswa ke Desa

Tety Polmasari

Pengedar Sabu Ditangkap di Kalijodo

Tety Polmasari

Leave a Comment