Pasokan Beras Petani Cukup Hingga Awal 2015

Rabu, 19 Nov 2014

JAKARTA (Pos Sore) — Plt Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Haryono, memastikan, pasokan beras petani mencukupi kebutuhan hingga awal tahun 2015. Hal itu ditunjang dari surplus neraca beras petani.

“Hitungannya cukup. Masih aman. Jadi tidak perlu impor beras. Tadi saya tunjukan lewat penginderaan satelit. Jadi sekarang data sampai Oktober, sejumlah daerah seperti Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat sudah mulai menanam semua,” paparnya.

Ia menegaskan hal itu usai Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2014 bertajuk ‘Pembangunan Pertanian Menjadi Penggerak Ekonomi dan Terwujudnya Kedaulatan Pangan’ yang ditutup Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto, di Kementerian Pertanian, Selasa (18/11).

Sebagai informasi, Angka Ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, capaian produksi padi tahun 2014 sebesar 70,61 juta ton atau 39,54 juta ton beras. Dengan asumsi tingkat konsumsi beras 124,89 kg/kapita/tahun, maka pada 2014 diperkirakan surplus beras 8,07 juta ton.

ARAM II produksi beras padi tahun 2014 dibandingkan tahun 2013 lalu turun 0,94%. Tahun 2015, pemerintah mematok target produksi padi meningkat menjadi 73,4 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

“Surplus beras petani sebesar 8,07 juta ton itu mampu mencukupi kebutuhan. Untuk mencukupi konsumsi beras masyarakat dibutuhkan 3 juta ton per bulannya,” ujarnya.

Haryono menambahkan, kendati terjadi kemunduran tanam akibat perubahan iklim global, namun wilayah pertanian yang terpapar tidak lebih dari 10%. Wilayah itu seperti sebagian Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

“Januari sudah ada yang mulai panen. Areanya memang tidak besar. Karena puncak panen itu bulan Maret. Masih aman,karena masih tercukupi dari surplus beras petani,” tandasnya.

Karenanya, Haryono berpendapat belum perlu dilakukan impor beras untuk menjaga stabilitas harga beras sampai awal 2015.

“Kalau menurut saya stoknya masih cukup. Kalau ada impor, Bulog pasti ada alasan,” tambahnya. (tety)