HMPI dan Bulan Menanam Pohon 2014

Menanam Pohon dan Kemandirian Ekonomi

Rabu, 26 Nov 2014
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dianugerahi sertifikat dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

UPAYA Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang rusak/gundul, baik di dalam kawasan hutan atau di luar kawasan hutan tahun ini tetap menjadi agenda Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sebelumnya (Kementerian Kehutanan) telah menjadikan upaya itu menjadi agenda tahunan. Bahkan bisa dibilang gerakan menanam pohon sudah menjadi budaya masyarakat dan pelaku usaha yang didorong pemerintah.

Menanam pohon telah menjadi gaya hidup (lifestyle) bangsa Indonesia untuk membangun negeri yang lebih hijau.  Bagi bangsa Indonesia saat ini “tiada hari tanpa menanam pohon”.

“Menanam pohon telah menjadi gaya hidup (lifestyle) bangsa Indonesia untuk membangun negeri yang lebih hijau.”

 

Setiap hari selalu ada unsur masyarakat peduli lingkungan  melakukan penanaman pohon.

Dengan gerakan menanam pohon ini, diprediksi dalam kurun waktu 25 – 30 tahun mendatang, Indonesia menjadi hijau kembali.   Ini lebih cepat dari perkiraan para ahli yaitu dengan tingkat kerusakan hutan saat ini dibutuhkan waktu 120 tahun untuk mengembalikannya.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.24/2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia,  setiap tahun pada 28 November dilakukan peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN). Sebagai tindaklanjut dari Keppres tersebut, pada tahun 2008 dilaksanakan Gerakan Penanaman Serentak 100 Juta Pohon dan Gerakan One Man One Tree pada 2009 dengan target 230 juta pohon dan terealisasi sebanyak 250 juta pohon.

Lalu pada peringatan HMPI dan BMN 2009 Presiden RI mengamanatkan untuk melakukan Penanaman Satu Milyar  Pohon setiap tahun.

Berdasarkan data dari setiap provinsi, realisasi penanaman pada 2010 sebanyak 1,3 milyar pohon, lalu pada 2011 sebanyak 1,5 milyar pohon, selanjutnya 1,6 milyar pohon (2012) dan  1,8 milyar pohon tahun lalu (2013).

Peringatan HMPI dan BMN diselenggarakan setiap tahun, baik di Pusat maupun di Provinsi, Kabupaten/Kota. Peringatan HMPI dan BMN di tingkat Pusat di pimpin oleh Presiden RI dan lokasi peringatan berbeda setiap tahun.  Kali ini (2014) peringatan HMPI & BMN akan dipusatkan di Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah pada hari Jumat, 28 November 2014.

Lokasi tersebut dipilih dengan pertimbangan masih adanya lahan kritis di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Keduang, DAS Solo, dimana Sub DAS ini masuk prioritas dalam pengendalian erosi dan sedimentasi Daerah Tangkapan Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri.

“Kali ini (2014) peringatan HMPI & BMN akan dipusatkan di Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah pada hari Jumat, 28 November 2014.”

Tema peringatan HMPI dan BMN  2014 adalah “Hutan Lestari Untuk Mendukung Kedaulatan Pangan, Air dan Energi Terbarukan”, yang merupakan salah satu program prioritas Kabinet Kerja 2014 – 2019.

Pada acara tersebut diagendakan penyerahan penghargaan Penanaman Satu Milyar Pohon  2013 oleh  Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada jajaran BUMN/BUMS, Rektor Perguruan Tinggi/Sekolah dan Pimpinan Organisasi Masyarakat peduli penanaman pohon.

Ayo Menanam

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menekankan pentingnya peringatan HMPI dan Bulan Menanam Pohon untuk mengajak masyarakat menanam.

“Ini penting agar lebih membangkitkan semangat serta motivasi seluruh masyarakat Indonesia untuk menanam dan memelihara pohon serta membudayakannya dalam rangka menjaga ekosistem hutan yang baik, serta merehabilitasi hutan dan lahan di seluruh Indonesia,” katanya.

“Ini penting agar lebih membangkitkan semangat serta motivasi seluruh masyarakat Indonesia untuk menanam dan memelihara pohon serta membudayakannya”

Menteri juga meminta jajarannya melakukan kampanye publik lebih gencar untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menanam pohon. “Kampanye kreatif seperti melalui film perlu diperluas. Bukan saja untuk masyarakat tapi juga penyelenggara negara,” kata Siti.

Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Hilman Nugroho menjelaskan evaluasi bukan hal tabu untuk dilakukan demi meningkatkan kualitas gerakan menanam.

Hilman menekankan, gerakan menanam penting terus digelorakan untuk merehabilitasi lahan kritis dan meningkatkan tutupan hutan.

“Secara ekonomi, menanam juga punya manfaat besar. Bibit yang ditanam bisa menghasilkan kayu yang laku dengan harga tinggi saat dipanen.”

 

Menurutnya, hutan punya fungsi dan peran untuk menjaga kesesimbangan hidup. “Hutan itu bisa menyerap dan menyimpan karbon yang bisa menjaga dari perubahan iklim. Hutan juga menjaga fungsi tata air. Tidak ada air, tidak ada kehidupan,” katanya.

Secara ekonomi, menanam juga punya manfaat besar. Bibit yang ditanam bisa menghasilkan kayu yang laku dengan harga tinggi saat dipanen. Apalagi, saat ini permintaan produk kayu yang dihasilkan dari hasil penanaman sangat tinggi karena dinilai lebih ramah lingkungan.

Ketersediaan Bibit Yang Cukup

Menanam Pohon didukung oleh ketersediaan bibit secara nasional mulai 2012. Program Kebun Bibit Rakyat (KBR) menjadi pendukung utama ketersediaan bibit tersebut.

Pada 2011 terbangun 10.208 unit KBR yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Tahun ini (2014) KBR ditarget terbentuk 15.000 unit per tahun. Setiap KBR diharapkan memproduksi sebanyak 50.000 batang bibit pohon multi fungsi per tahun.

Namun, karena bibit yang dihasilkan 30 ribu unit KBR masih belum memenuhi kebutuhan, maka sejak 2012 dibangun persemaian permanen sebanyak 50 unit di 33 propinsi yang dapat menghasilkan bibit sebanyak 750.000-1 juta bibit setiap unit setiap  tahunnya. Bibit tersebut disebar dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Namun disadari, gerakan menanam tidak bakal sukses jika hanya pemerintah yang bekerja. Untuk itu kerjasama dengan berbagai pihak pun dijalin. Mulai dari organisasi masyarakat, TNI, hingga lembaga pendidikan.

Penanaman pohon yang menjadi wujud kepedulian bangsa kepada kritisnya lahan dan hutan jadi salah satu aksi mitigasi perubahan iklim. Penanaman pohon berperan besar dalam mengurangi laju  deforestasi. Angka deforestasi turun dari 3,51 juta hektar/tahun pada  1990-2000 menjadi  450 ribu hektar/tahun sejak 2009.

Manfaat Ekologi dan Ekonomi

Mengacu data Ditjen Planologi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2000-2006, saat laju deforestasi mencapai 1,125 juta hektar/tahun, penurunan deforestasi terjadi sebesar  675 ribu hektar/tahun.

Dengan asumsi potensi volume 1 hektar adalah 197 m3 (memakai perhitungan potensi volume dari hutan sekunder) setara dengan 725 ton CO2e maka penurunan emisi yang terjadi akibat penurunan laju deforestasi tersebut adalah  sebesar 0,489 Giga ton CO2e = 489 juta ton CO2e .

Jika dihitung dengan pohon yang sudah tertanam dari program menanam mulai 2009 hingga 2014 yakni 5,54 milyar pohon, maka karbon  yang akan terserap sebanyak 44 juta ton CO2e.

Penanaman pohon tak semata memberikan efek ganda bagi keberlangsungan ekosistem dan lingkungan masyarakat, namun sejatinya harus juga memberikan efek ekonomi bagi rakyat.

Pemerintah juga sudah menghitung seberapa besar manfaat menanam bagi ekonomi masyarakat.

Penanaman pohon yang didorong pemerintah memang memiliki unsur pemberdayaan masyarakat.   Gerakan menanam pohon bagaikan  taburan benih untuk tumbuh kembang kewirausahaan masyarakat di bidang kehutanan.

Dengan adanya manfaat yang dapat dinikmati langsung secara ekonomi,  motivasi masyarakat dalam  menanam pohon semakin meningkat. Menanam pohon memang memiliki nilai yang cukup besar untuk  mendukung perekonomian bangsa Indonesia.

Menanam pohon mengelola hutan lewat skema Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa,  Hutan Tanaman Rakyat dan Hutan Rakyat Kemitraan, aspek ekonomi dilibatkan untuk membantu masyarakat. Ada 6,97 juta hektar yang disiapkan untuk dikelola rakyat dalam skala kecil.

Jika setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan izin pemanfaatan hutan rata-rata seluas 15 hektar, maka akan ada sejumlah 465.000 KK yang melakukan usaha di bidang kehutanan atau terserap 1.860.000 orang tenaga kerja (1 KK sama dengan 4 tenaga kerja).

“Mengetahui manfaat dari menanam pohon, sangat dipastikan seluruh elemen bangsa akan mendukung penuh.”

Dengan asumsi setiap hektar menghasilkan 200 kubik (m3) kayu dengan harga Rp500 ribu/m3, maka setiap hektar lahan dapat menghasilkan 100 juta rupiah.

Dengan tanaman pohon berdaur 7 tahun, setiap KK memiliki jatah tebang 2 hektar per tahun yang berarti penghasilan keluarga di pedesaan dapat ditopang sebesar Rp200.000.000,- per tahun atau lebih kurang Rp16.000.000 per bulan.

Dengan angka sebesar itu bisa diukur nilai manfaat yang bisa didapat rakyat. Kemandirian ekonomi bisa tercipta. Betapa besarnya potensi ekonomi dari hutan untuk kesejahteraan rakyat.

Menanam pohon tak hanya upaya meningkatkan kepedulian seluruh komponen bangsa terhadap pentingnya fungsi pohon dalam menyerap karbon,  menurunkan emisi gas rumah kaca, mencegah bencana banjir longsor dan kekeringan, namun juga upaya  mendukung perekonomian bangsa, untuk mencapai pembangunan Indonesia yang ramah lingkungan.(Fenty Wardhany)