Pada Konferensi Perubahan Iklim ke 20 di Peru

Dunia Butuh Komitmen Negara Maju

Kamis, 4 Des 2014
Pembukaan COP 20

JAKARTA (Pos Sore) — Konferensi tahunan perubahan ikilm atau Conference of the Parties (COP) ke-20 dari Kerangka Kerja untuk Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) yang berlangsung di Kota Lima, Peru, telah dibuka secara resmi pada Senin (1/12) waktu setempat. Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Christiana Figueres mengatakan dunia membutuhkan komitmen dari semua negara untuk melakukan aksi nyata dalam penanganan perubahan iklim. “Dunia sekarang butuh aksi nyata untuk perubahan iklim seperti garis Nazca yang tak lekang oleh waktu,” katanya dalam sambutan pembukaan konferensi seperti dikutip dari siaran pers UNFCCC. Christiana menekankan empat isu utama dalam COP ke-20 yang berlangsung pada 1 – 12 Desember 2014. Empat isu utama untuk dibahas dan dicapai kesepakatannya dalam COP20 yaitu tercapainya draft perjanjian penanganan perubahan iklim global sebagai pengganti Protokol Kyoto periode komitmen kedua sebelum 2020, kejelasan komitmen target penurunan emisi dari setiap negara baik mitigasi maupun adaptasi, aksi global bersama dari semua pihak untuk meningkatkan dan mengakselerasi solusi penanganan perubahan iklim. Selain itu dibahas kejelasan mengenai mekanisme distribusi pendanaan dari Green Climate Fund (GCF) bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dan dibahas pula pengelolaan dana perubahan iklim dilakukan oleh GCF yang merupakan badan resmi dibawah UNFCCC. Sedangkan Menteri Lingkungan Peru, Manuel Pulgar-Vidal, yang dipilih menjadi Presiden COP ke-20 juga meminta semua negara pihak UNFCC untuk berkomitmen memberikan dana bagi GCF. Pendanaan menjadi salah satu isu utama dalam konferensi, dimana negara-negara rentan dampak perubahan iklim menagih kepastian realisasi komitmen mobilisasi pendanaan dari negara maju sebesar 100 miliar USD per tahun sampai 2020 seperti yang dijanjikan pada COP-15 di Kopenhagen, Denmark, pada 2009.

“Pendanaan tersebut sangat penting untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi di negara berkembang hingga 2020.”

Pendanaan tersebut sangat penting untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi di negara berkembang hingga tahun 2020 untuk membantu dunia menjaga peningkatan suhu rata-rata tidak lebih dari 2 derajat Celcius dibandingkan dengan tingkat suhu sebelum Revolusi Industri. Jumlah komitmen tersebut sebetulnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan pengurangan emisi dan adaptasi perubahan iklim di sekitar 129 negara berkembang yang menjadi Pihak UNFCCC. Sebelumnya, pada 28 November 2014, pemerintah Spanyol mengumumkan komitmennya untuk memberikan dana sebesar 120 triliun Euro kepada GCF. Ini melengkapi komitmen Pemerintah Kanada untuk memberikan pendanaan sebesar 300 juta dolar Kanada kepada GCF.

“Dengan komitmen Spanyol dan Kanada, maka telah ada 22 negara yang memberikan komitmen pendanaan bagi GCF, dengan total sebesar 9,7 miliar dolar.”

Dengan komitmen Spanyol dan Kanada, maka telah ada 22 negara yang memberikan komitmen pendanaan bagi GCF, dengan total sebesar 9,7 miliar USD. “Komitmen Spanyol membangun momentum positif dalam konferensi COP. Kami emngajak semua negara yang belum berkontribusi untuk bergabung dan berinventasi di GCF,” kata Direktur Eksekutif GCF, Héla Cheikhrouhou seperti dikutip dari siaran pers UNFCCC. Pancing Negara Maju Sedangkan Kepala Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim yang juga Kepala Delegasi RI untuk COP ke-20, Rachmat Witoelar mengatakan Indonesia memancing komitmen dari negara maju untuk berkontribusi dalam GCF. “Pledges kontribusi dari negara maju ke Green Climate Fund dengan kontribusi yang kecil saja, 250.000 dolar Amerika Serikat, namun diapresiasi oleh negara-negara maju karena dianggap memberikan inspirasi dan motivasi,” ujar Rachmat dalam siaran pers DNPI.

“Pledges kontribusi dari negara maju ke Green Climate Fund dengan kontribusi yang kecil saja, 250.000 dolar Amerika Serikat, namun diapresiasi.”

GCF yang dibentuk dari keputusan konferensi COP-16 di Cancun, Meksiko tahun 2010, saat ini sudah operasional. GCF telah menerima komitmen pendanaan toal 9,7 miliar USD dari negara maju, dan juga negara berkembang seperti Korea Selatan, Indonesia, dan Meksiko. Beberapa negara lain diperkirakan akan ikut berkontribusi dan menambah pundi-pundi GCF sehingga menjadikan dana ini sebagai dana multilateral utama untuk membantu aksi perubahan iklim di negara-negara berkembang. Saat ini DNPI bekerjasama dengan Sekretariat GCF melakukan beberapa kegiatan untuk meningkatkan kapasitas lembaga nasional (pemerintah) dan non pemerintah untuk mengakses pendanaan GCF termasuk menyiapkan proposal proyek dan program yang terbaik.(fent)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015