Bedah Buku ‘Laut dan Kebudayaan’ Upaya Wujudkan Poros Maritim Dunia

Selasa, 9 Des 2014

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia memiliki potensi kelautan dan kebudayaan sangat besar dan berlimpah yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan letak yang strategis di daerah khatulistiwa dan terletak di antara 2 benua dan 2 samudera serta memiliki keanekaragaman budaya dengan lebih dari 500 suku yang berbeda, menjadikan Indonesia memiliki kekayaan laut yang melimpah dan memesona keindahannya.

“Dalam pengelolaan sumberdaya laut, berbagai komunitas masyarakat hidup dan menetap di sekitar kawasan laut guna memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraannya. Mereka hidup dengan corak budaya yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi adat-istiadat yang dianutnya, yang pada gilirannya menciptakan suatu kekayaan khasanah budaya Indonesia yang menarik dan mempengaruhi pola kehidupannya,” kata Menko PMK Puan Maharani, saat membuka ‘Bedah Buku Laut dan Kebudayaan’, Selasa (9/12/2014), di Museum Nasional.

Dalam sambutannya yang dibacakan Deputi Menko PMK Bidang Koordinasi Kebudayaan, Pariwisata, pemuda dan Olahraga Haswan Yunaz, Puan menambahkan, tradisi dan budaya tersebut mengalir hampir di semua aktivitas kehidupan yang kemudian membentuk sebuah jati diri bangsa.

“Sebagai wujud jati diri bangsa tersebut, Indonesia pernah jaya pada saat kerajaan-kerajaan yang berbasis maritim menguasai negeri ini seperti Majapahit, Sriwijaya, Gowa dan Luwu di masa lalu,” katanya.

Buku Laut dan Kebudayaan ini dianggap sebagai momentum penting dan simbol dari bangkitnya usaha untuk melestarikan potensi kelautan Indonesia.

“Ruang laut kita 75 persen menjadi bagian terpenting dari Republik Indonesia yang menyimpang banyak potensi karena laut itu disebut archipelago,” tambah Endjat Djainudrajat, Direktur Nilai Sejarah dan Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurutnya, peluncuran buku ini memberikan gambaran awal terhadap potensi kelautan Indonesia yang belum optimal. Baik potensi ekonomi, industri jasa maritim dan sumber daya non kelautan.
.
Buku yang ditulis Muchlis Paeni, Achmad Fediyani Saifuddin, Abdul Muis, Martono Yuwono dan Arif Satria ini merupakan tindaklanjut dari hasil kegiatan seminar sehari tentang Laut dan Kebudayaan yang digagas Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada 10 Desember 2012. (tety)