0.5 C
New York
27/01/2021
Ekonomi

Butuh Pelabuhan Alternatif,Dukung Pertumbuhan Industri

JAKARTA (Pos Sore)–Menteri Perindustrian Saleh Husen mengungkapkan, untuk mencapai pertumbuhan industri yang pesat dibutuhkan kelancaran logistik ke pelabuhan. Untuk itu dibutuhkan pelabuhan alternatif untuk mendukung karena selama ini masalah transportasi dan logistik menjadi persoalan yang belum teratasi dan masih dikeluhkan dunia usaha.

“Persoalan kemacetan,logistik dan transportasi ini memang belum terselesaikan. Ada usulan di Cilamaya, tetapi semua saya serahkan ke Kementerian Perhubungan untuk menyelesaikan.”

Hal ini diungkapkan Saleh di sela Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015 Kamis,(5/2).Hadir pada kesempatan itu, para pejabat eselon I, asosiasi dunia usaha dan Kadin.

“Persoalan kemacetan,logistik dan transportasi ini memang belum terselesaikan. Ada usulan di Cilamaya, tetapi semua saya serahkan ke Kementerian Perhubungan untuk menyelesaikan.”

Karena, kata Saleh, persoalan kemacetan ini dikeluhkan sudah lama dikeluhkan dunia usaha terutama di sekitar Jawa Barat yang mau melakukan ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok. “Mereka mengeluhkan logisitik menuju Tanjung Priok yang biasa bisa  3 kali jalan sekarang hanya menjadi sekali jalan akibat kemacetan parah.”

Menurutnya, perlu pembangunan pelabuhan alternatif agar pertumbuhan industri bisa tetap terjaga.Dengan begitu, semua sektor bisa tumbuh baik,makin bagus dan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Saleh memaparkan, kelancaran logistik ini penting untuk mendukung pengembangan investasi di dalam negeri. Karena, nilai investasi PMDN sektor industri non-migas pada sepanjang tahun 2014 mencapai Rp 59,03 triliun atau meningkat sebesar 15,37% dari tahun 2013 dan memberikan kontribusi sebesar 39,93% dari total investasi PMDN tahun 2014. Sedangkan nilai investasi PMA sektor industri non-migas mencapai US$ 13,02 milyar atau menurun sebesar 17,9% dan memberikan kontribusi sebesar 45,63% dari total investasi PMA tahun 2014.

Pada 2015,menurutnya, tantangan semakin berat ditambah masih adanya ketidakpastian ekonomi global.Namun, Kemenperin terus melakukan berbagai upaya untuk melaksanakan pembangunan industri nasional dengan sasaran utama. Berupa,pertumbuhan industri pengolahan non-migas sebesar 6,1-6,8%, jumlah tenaga kerja sektor industri sebanyak 15,5 juta orang, kontribusi ekspor sektor industri mencapai 67,3%, dan nilai investasi sektor industri sebesar Rp 270 Triliun.

Arah kebijakan pembangunan industri nasional akan difokuskan pada pengembangan Perwilayahan Industri di luar Pulau Jawa melalui fasilitasi pembangunan 14 Kawasan Industri, fasilitasi pembangunan 22 Sentra Industri Kecil dan Menengah, serta berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan.Termasuk menumbuhan populasi industri dengan target penambahan sebesar 9 ribu usaha industri berskala besar dan sedang dimana 50 persen tumbuh di luar Jawa, serta 20 ribu unit Industri Kecil yang dilakukan melalui mendorong investasi untuk industri, memanfaatkan kesempatan dalam jaringan produksi global, pembinaan industri kecil dan menengah (IKM) agar dapat terintegrasi dengan rantai nilai industri pemegang merek di dalam negeri.

Termasuk peningkatan daya saing dan produktivitas, khususnya peningkatan nilai ekspor dan nilai tambah per tenaga kerja melalui peningkatan efisiensi teknis, peningkatan penguasaan IPTEK/inovasi, peningkatan penguasaan dan pelaksanaan pengembangan produk baru (new product development) oleh industri domestik, serta pembangunan faktor input (peningkatan kualitas SDM industri dan akses ke sumber pembiayaan yang terjangkau), serta fasilitasi dan insentif dalam rangka peningkatan daya saing dan produktivitas. (fitri)

Related posts

Peluncuran Kartu NPWP BTN Pintar

Tety Polmasari

Pelaku UKM Nanti Dicover 3 Asuransi

Tety Polmasari

Wajib atau Sukarela, Miyako: SNI untuk Lindungi Konsumen dan Tingkatkan Daya Saing di Pasar Global

Tety Polmasari

Leave a Comment