MEMBAYAR SEKOLAH DENGAN SAMPAH

Selasa, 24 Mar 2015
Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono bersama salah satu pendiri Yayasan Dana Kemanusiaan Gotong Royong Siti Hediati Haryadi yang juga anggota DPR RI menyaksikan pameran produk Posdaya di Bantul beberapa hari lalu.

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

PARA ahli lingkungan dari Negara maju pernah menganjurkan agar sampah bisa dikembangkan melalui system tiga R, yaitu Reduce, Reuse dan Recycle, artinya sampah bisa dikurangi melalui cara memilih mana yang bisa dipergunakan kembali, atau dimanfaatkan untuk keperluan lainnya karena dianggap masih banyak manfaatnya. Moto tiga R itu dianggap sebagai nasehat yang dikembangkan ke seluruh dunia. Kampanye tiga R menjadi sangat populer dikalangan para pengabdi lingkungan dan bergerak membawa segala macam solusi di banyak Negara.

Dalam kampanye besar-besaran itu dianjurkan agar para ibu rumah tangga tidak membeli produk yang memerlukan pengemasan yang berlebihan agar hanya dihasilkan sampah yang terbatas. Bahkan para produsen dianjurkan untuk mencantumkan “hemat bungkus” pada produk yang dijualnya. Dianjurkan secara luas membuang sisa-sisa makanan untuk dijadikan pupuk sehingga jumlah sampah menjadi berkurang.

Dalam hal “Reuse”, dianjurkan agar para ibu rumah tangga membawa tas atau tempat belanja sendiri dari rumah agar tidak perlu mengambil barang yang harus bungkusan karena nantinya bungkus itu dibuang menjadi sampah. Pembungkus yang dibawa dari rumah bisa dipergunakan kembali dan tidak perlu harus memakai pembungkus dari toko. Dengan sendirinya bungkusan yang dibawa sendiri dari rumah bisa dipergunakan berulang-ulang tanpa menghasilkan sampah.

Dalam hal “Recycle” dianjurkan agar barang-barang seperti alat pembungkus pada waktu belanja tidak langsung dibuang, tetapi di recycle, artinya diolah lagi untuk bisa dipergunakan pada keperluan lainnya. Dengan cara itu maka bisa dipelihara lingkungan yang bersih dan bebas dari polusi.

Mulai dari pengalaman di beberapa daerah dalam kerjasama dalam Posdaya, keluarga yang tergabung di dalamnya menggarap sampah tanpa harus menghafalkan teori yang dianjurkan dalam kampanye dunia itu. Di beberapa Posdaya di Surabaya, misalnya, keluarga anggotanya merubah daerahnya yang gersang menjadi sangat rimbun dengan memanfaatkan sampah yang dihasilkan keluarga anggotanya menjadi pupuk. Mereka membuat berbagai macam pupuk, ada pupuk cair
yang diolah dari sampah dapur dicampur air yang biasa dibuang dalam proses masak memasak. Pupuk cair itu dipergunakan memberi “makan” tanaman bunga sehingga menghasilkan bunga yang indah dan biasanya dipasang di depan rumah merubah pemandangan yang biasanya gersang menjadi lebih menarik.

Sisa-sisa dedanunan dan sampah lainnya diubahnya menjadi pupuk kompos dan dipergunakan untuk memberi “makan” tanaman yang secara gotong royong dipajang sepanjang jalan sempit di kampungnya. Kalau biasanya jalan gersang itu menjadi ajang anak-anak tanggung berkelahi, sejak dipinggirnya ditanami tanaman hias yang dipupuk dengan kompos buatan bersama, maka penduduk sekitar akan berteriak kalau ada anak-anak tanggung rebut-ribut mau berkelahi di
lorong yang berubah menjadi jalur taman yang indah. Kampung yang semula tidak pernah mendapatkan penghargaan, berkat sampah yang diolah berhasil menjadi kampung idaman dengan setumpuk penghargaan dari Walikota Surabaya yang sangat peduli keindahan.

Peristiwa di beberapa Posdaya di Surabaya itu segera disebar luaskan ke Posdaya di daerah lainnya. Beberapa pimpinan Posdaya diajak meninjau kegiatan rekannya di Surabaya dan mulai dari saat itu masing-masing Posdaya merasa bahwa merekapun bisa mengolah sampah. Bahkan ada yang segera berkata bahwa olahan mereka jauh lebih baik dari yang mereka lihat di Posdaya yang dicontohkan. Ada yang merubah kertas koran bekas menjadi lintingan tali. Tali-tali dari koran bekas itu dililit-lilit menjadi hiasan yang punya harga tersendiri dan laku jual.

Di Bekasi dengan pengalaman yang menarik, Ketua Posdaya Ibu Isti Bahar, segera menjadikan Posdayanya pusat Bank Sampah dengan segala aktifitasnya. Sebagai Bank, Posdaya itu memperlakukan “sampah” sebagai “uang”. Setiap anggota Posdaya menyetorkan sampah yang telah dipilih dan disortir sesuai nilai sampahnya kepada pusat Bank Sampah. Setiap setoran, seperti halnya uang di Bank, dicatat dengan baik oleh administrator dalam buku induk dan buku tabungan sampah yang dibawa oleh pemiliknya. Hasil bank sampah ini lumayan dan bisa dipergunakan untuk ditukarkan dengan uang. Uang itu bisa menambah belanja dan bahkan bisa untuk mencicil keperluan keluarga lainnya.

Di Bandung Barat, salah seorang Ketua Posdaya Plamboyan, Ibu Nani, mendirikan juga Bank Sampah. Dalam waktu singkat bank yang didirikannya berkembang dengan pesat sehingga hari ini Bunda PAUD ini setiap selesai mengajar, langsung diundang keliling untuk membantu Posdaya di sekitar kabupaten Bandung Barat mengelola Posdaya, menanam pisang Cavendish dan sekaligus mengajar pengurus posdaya lain mendirikan Bank Sampah.

Ajaibnya hasil Bank Sampah yang baru saja berdiri telah dipergunakan oleh anggota Posdaya di wilayahnya untuk membayar anak-anak keluarga anggota membayar iuran anak balita mengikuti kegiatan pada beberapa PAUD, mengambil kredit keperluan modal, serta membantu cicilan kredit yang dipergunakan untuk buka warung Posdaya di
rumahnya. Keluarga prasejahtera yang miskin tidak lagi menggantungkan diri pada belas kasihan, tetapi dengan sampah yang mereka kumpulkan dan pilah-pilah sesuai nilai ekonominya, bertambah maju dan sampahnya menghasilkan berkah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015