Menangi Persaingan Global, Indonesia Harus Fokus

Senin, 30 Mar 2015

JAKARTA (Pos Sore) — Pengamat ekonomi dari Core Indonesian, Hendry Saparini, berpendapat, pemerintah kerap menggenjot investasi asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Padahal tidak selamanya investasi asing memberi manfaat langsung khususnya bagi masyarakat.

Karenanya, ia menilai bila Indonesia ingin memenangi persaingan global, harus fokus mengangkat bidang tertentu sebagai unggulan. Sektor pangan, menurutnya, bisa menjadi unggulan Indonesia.

“Dengan begitu, investasi yang ada pun bisa fokus untuk infrastruktur hulu hingga ke hilir untuk mendukung pangan,’’ kata saat berbicara dalam Seminar Nasional ‘Optimalisasi Penerimaan PAD dalam Rangka Peningkatan Kinerja Daerah’ yang diadakan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI), kemarin.

Untuk bidang pangan, Saparini menilai Indonesia masih cukup unggul. Harga komoditas pangan juga cukup kompetitif, dengan kekuatan lokal dan keberagaman yang masih bagus, yang menurutnya layak untuk menjadi unggulan nasional.

Investasi yang tidak terkelola dengan baik dan tidak fokus kerap hanya menguntungkan dari sisi penerimaan pajak saja. Banyak perusahaan asing mendirikan pabrik dan di Indonesia, namun tidak sedikit pula masyarakat sekitarnya yang hidup miskin.

“Investasi itu harus mempunyai tiga manfaat. Pertama, harus bisa mengentaskan pengangguran. Kedua, industri atau usaha yang dikembangkan harus berdaya saing. Dan yang ketiga adalah bernilai strategis. Artinya kalau investasi asing tidak memenuhi syarat ini jadinya sia-sia,” ujarnya.

Saparini pun menyayangkan pemerintah mendorong datangnya investasi di bidang pembangunan infrastruktur dan farmasi. Padahal ketergantungan baja Indonesia dari impor masih 80%, sedangkan ketergantungan impor bahan baku obat masih 70%.

Direktur Pendapatan Daerah dan Investasi Kementerian Dalam Negeri, Tavipiyono, juga berpendapat, daerah harus pintar mengelola investasi. Menurutnya, investasi harus bisa menjadi daya tahan daerah demi kesejahteraan masyarakat, bukan melulu meningkatkan PAD dan pajak.

“Untuk itu, daerah perlu mempunyai masterplan pengembangan perekonomian daerah dengan mencari keunggulan,” ujarnya. (tety)