16.4 C
New York
02/06/2020
Ekonomi

Pengusaha Desak Pemerintah Turunkan Harga Gas

JAKARTA (Pos Sore) –Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi,Achmad Safiun memdesak pemerintah menurunkan harga gas di angka US$5 per MMBTU. Hal ini penting dilakukan mengingat pelemahan nillai tukar rupiah semakin mengancam keberlangsungan industri di dalam negeri.Jika kondisi ini berlarut-larut, industri akan terancam kolaps dan situasi ini mulai terasa dengan danya penurunan daya saing, ekspor maupun impor.

Ketua Koordinator Gas Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Achmad Widjaya, menilai harga gas industri selama ini dianggap terlalu tinggi diantara negara-negara di ASEAN. Sebab, harga gas industri yang mahal bisa mengancam daya saing industri nasional dengan negara lain.

“Pengusaha minta harga gas bisa ditekan hingga ke level US$5 dolar per MMbtu,” kata Ketua Koordinator Gas Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Achmad Widjaya,di Kementerian Perindustrian,Selasa (31/3).

Menurutnya, jika dibanding negara lain seperti di Singapura harga gas sekitar 4-5 dolar AS per MMbtu, Malaysia 4,47 dolar AS per MMbtu, Filipina 5,43 dolar AS per MMbtu dan Vietnam sekitar 7,5 dolar AS per MMbtu. Di Indonesia justru melambung hingga menyentuh  9,3 dolar AS per MMbtu.

Dengan kondisi tersebut, kata Widjaja, jika harga gas untuk industri semakin tinggi, hal ini bisa mengancam posisi industri nasional dalam pasar bebas Asean atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Selama ini pengusaha terpaksa membeli gas untuk kebutuhan industri sebesar US$9,3.Kalaulah memang,pemerintah dan operator gas tidak berniat menurunkan harga,kata Widjaya, mestinya ada opsi lain dengan memberikan potongan harga kepada pengusaha. Karena, selama ini industri nasional terombang ambing engan persoalan gas ini.

“Kami akan terus mencoba mencari celah agar harga gas industri bisa turun. Kami bertekad akan terus berjuang dan menuntut beberapa Kementerian termasuk Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral, red).  Kalau kami menunggu kajian dari pemerintah pasti lama.”

Senada dengan itu, Safiun menuturkan, harga gas industri nasional tidak bisa dijual dengan harga melebihi 5 dolar AS per MMbtu.

Mestinya pemerintah Indonesia berkaca dari kebijakan pemerintah Malaysia kendati harga gas industri di negeri Jiran ini sudah menyentuh 5 dolar AS per MMbtu namun pemerintah Malaysia menjual harga gas industrinya sebesar 4 dolar AS per MMbtu.

“Jadi pengusaha di Malaysia tahu, bahwa pemerintahnya memberikan bantuan atau added value ke industrinya. Tapi yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya.”

Menanggapi hal ini,Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Harjanto, mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah menteri ekonomi ketika menggelar rapat di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. Salah satu yang dibahas yaitu daya saing industri nasional harga gas.

Menurut Harjanto, pemerintah bakal menggelar simulasi dan analisis baik makro maupun mikro terkait permintaan untuk menurunkan harga gas industri nasional. Sebab, harus ada dasar yang jelas dan realistis untuk mengambil kebijakan tersebut.

“Pak Safiun menyimpulkan kalau harga gas industri 5 dolar AS per MMbtu akan survive, tapi kami berangkat pada kajian yang bersifat akademis dan bisa dibawa ke rakor. Keputusannya belum tahu kapan.”

Seperti diketahui, kebutuhan gas industri pada 2014 mencapai 2.201 MMscfd. Dari sekitar 2.201 MMscfd kebutuhan gas untuk industri, sekitar 1.133 MMscfd digunakan untuk sumber energi yang terdiri dari 485 MMscfd terkait proses/kontak langsung dengan produk dan 648 MMscfd untuk utilitas. Sedangkan sekitar 1.068 MMscfd digunakan sebagai bahan baku.

Pada 2013, dari kebutuhan sebesar 1.200 MMscfd, pasokan gas yang diperoleh sektor industri manufaktur hanya sekitar 700 MMscfd. Bahkan, untuk kawasan industri Medan (KIM), dari kebutuhan 235 MMscfd, kebutuhan yang bisa dipenuhi tidak sampai setengahnya.

Atas dasar itu, makanya, pelaku industri sangat berharap agar pemerintahan Joko Widodo serius memikirkan dan mencarikan solusunya.Karena di DPR sendiri menurutnya, pembahasan soal gas ini juga berjalan di tempat.

“Pemerintah jangan hanya sibuk blusukan dan melakukan acara ceremoni semata. Mestinya, jangan banyak jalan-jalan ke luar negeri,tetapi duduk di kantor fokus membahas persoalan ekonomi bangsa.” (fitri)

Related posts

Harga Sembako RI Termahal Se-Asean

Tety Polmasari

Indofood CBP Pimpin Pasar Makanan Ringan Konsep Tradisional

Tety Polmasari

Tahun 2018 Bank BTN rubah Visi Baru

Tety Polmasari

Leave a Comment