24.2 C
New York
06/08/2020
Aktual Ekonomi

Hunian Vertikal Banyak Diminati untuk Tempat Tinggal Sendiri

JAKARTA (Pos Sore) — Minat keluarga dan eksekutif muda untuk tinggal di hunian vertikal seperti rusun, apartemen, atau kondominium semakin meningkat. 

Kini properti kelas menengah dengan kisaran harga Rp300 juta hingga Rp 700 juta bukan lagi sekadar lahan investasi melainkan dibeli untuk dijadikan tempat tinggal sendiri.

“Tinggal di hunian vertikal memang sudah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya  banyak dilakukan kalangan atas kini mulai ke kalangan menengah,” kata Ketua Umum Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Rumah Susun Indonesia Madani (P3RISMA) Yusran JB, di sela-sela Silaturrahmi P3RISMA, di Jakarta.

Penyebab terjadinya pergeseran kalangan muda untuk tinggal di hunian vertikal atau apartemen dan sejenisnya antara lain disebabkan terbatas dan tingginya harga lahan untuk mendirikan rumah tapak di daerah perkotaan.

Selain itu, banyaknya kalangan muda yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri juga menjadi pemicu meningkatnya minat tinggal di hunian vertikal.

“Umumnya para mahasiswa Indonesia saat menuntut ilmu di luar negeri tinggal di hunian vertikal sehingga ketika pulang ke tanah air kebiasaan tersebut tetap mereka lanjutkan,” tambah Yusran.

Bagi masyarakat perkotaan yang sibuk dan keterbatasan waktu membuat pilihan untuk tinggal di hunian vertikal atau apartemen dinilai lebih praktis. Hunian ini umumnya tidak terlalu sehingga waktu dan energi yang diperlukan untuk membersihkan dan merapikan ruangan tidak terlalu besar.

Ditambah lagi penghuni bangunan ini juga tidak perlu direpotkan untuk mengurus taman, sarana pembuangan, air, dan keamanan karena semua sudah ada pengelola yang bertanggungjawab untuk mengurusnya.

Fasilitas yang tersedia umumnya cukup lengkap seperti tersedianya sarana fitness center, kolam renang, jogging track, taman bermain, minimarket, restoran, cafe, dan fasilitas lainnya.

“Bagi mereka yang sibuk hal ini tentu sangat membantu karena mereka tidak perlu lagi pergi terlalu jauh dalam  memenuhi berbagai kebutuhan sehari-harinya,” tambah Yusran.

Namun dia, sangat menyayangkan akhir-akhir ini ada sekelompok kecil orang yang kerap membuat suasana gaduh di lingkungan rusun atau apartemen. Orang-orang tersebut mengklim solah-olah mewakili warga di lingkungan apartemen. Padahal sesungguhnya mayoritas warga merasa terganggu dengan kegaduhan yang mereka buat.

Hal ini dikhawatirkan bisa membuat minat masyarakat untuk mau tinggal di hunian vertikal yang menjadi keinginan pemerintah bisa surut kembali.

“Jadi kita juga harus menghargai mayoritas warga yang ingin hidup tenang. Janganlah waktu istirahat mereka di ganggu dengan kegaduhan-kegaduhan yang sebenanrnya tidak perlu terjadi.”     

Yusran mengakui tingkat hunian rata-rata apartemen kelas menengah saat ini sangat tinggi. Unit apartemen kelas menengah  baik yang disewakan ataupun digunakan sendiri oleh pemiliknya hampir tidak pernah ada yang kosong.

Dia berharap kondisi semacam ini bisa terus dipertahankan. Dengan demikian harapan pemerintah untuk mendorong warga di kota-kota besar untuk mau tinggal di hunian vertikal bisa terlaksana dengan baik.

“Saya berharap aparat  bisa bertindak lebih tegas terhadap pihak yang berupaya menghambat program pemerintah untuk mengajak warga mau tinggal di hunian vertikal. Jangan sampai tingginya minat warga untuk beralih tinggal di rusun atau apartemen ini menjadi surut kembali akibat adanya sejumlah orang yang sering menciptakan kegaduhan,” katanya. (tety)

Related posts

Tingkat Konsumsi Ikan Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Tety Polmasari

Budi Karyadi Kirim Tim Investigasi KM Sinar Bangun ke Danau Toba

Tety Polmasari

Kermnaker Gandeng IBM Tingkatkan Daya Saing Pekerja

Tety Polmasari

Leave a Comment