Keselamatan Penerbangan Dibahas dalam Pertemuan Regional Asia Tenggara

Rabu, 29 Apr 2015

JAKARTA (Pos Sore) – International Airport Transport Association (IATA) mencatat lalu lintas penerbangan di Asia Tenggara menempati ke-5 terpadat di dunia. Yang harus diingat, tren penerbangan ini juga dibarengi dengan keselamatan penerbagan. Karena pada kenyataannya operasional penerbangan di Indonesia dan sebagian negara di kawasan Asia Tenggara sangat dipengaruhi oleh gangguan tropis seperti turbulensi, thunderstrom, badai tropis, dan aktivitas gunung api.

Tidak dipungkiri, perkembangan industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara terbesar di dunia. Pertumbuhan ekonomi dan industri pariwisata belakangan ini, dinilai sebagai pemicu berkembangnya industri penerbangan di Asia Tenggara. Pada 2025, diperkirakan tren penerbangan sebanyak 42% berada di kawasan Asia.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, DR. Andi Eka Sakya, M.Eng, mengingatkan pentingnya keselamatan penerbangan di kawasan ini. Terlebih di kawasan Asia luas lautannya lebih besar daripada pulau-pulau sehingga tantangannya lebih besar dibandingkan di kawasan Eropa.

“Tragedi Air Asia QZ8501 baru-baru ini mengingatkan kita kembali betapa kondisi cuaca di rute penerbangan berpengaruh serius terhadap penerbangan,” katanya dalam pertemuan ‘Regional Forum on Meteorological Services for Aviation Safety in Southeast Asia, di kantor BMKG, Kemayoran, Rabu (29/4).

Pentingnya keselamatan penerbangan ini dibahas dalam pertemuan hasil kerjasama BMKG dengan World Meteorological Organization (WMO) itu. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi dan membangun satu mekanisme kolaborasi di antara stakeholder penerbangan mencakup otoritas meteorologi, air traffic services, dan airlines. Tentu juga untuk meningkatkan pelayanan meteorologi penerbangan sebagai kontribusi terhadap keselamatan, keteraturan, dan efisiensi penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Suprasetyo, dalam kesempatan itu menegaskan, tantangan besar dari pelayanan meteorologi penerbangan adalah memastikan keselamatan, keteraturan, dan efisiensi penerbangan. Semua ini untuk mendukung manajemen ruang udara yang fleksibel, peningkatan kewaspadaan situasional, dan pengoptimalan secara dinamis perencanaan rute penebangan.

“Karena itu, pentingnya kerjasama di kawasan Asia Tenggara untuk memastikan semua penyedia informasi meteorologi penerbangan di kawasan Asia Tenggara agar dapat mengimplementasikan modul MET pada Global Air Navigation Plan (GANP) dan Aviaton System Block Uprgades (ASBU) ,” katanya yang dalam kesempatan itu mewakili Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan.

Menurutnya, mekanisme kerjasama antar komunitas penerbangan di kawasan Asia Tenggara, meliputi otoritas meteorologi, air traffic services, dan airlines, perlu dikembangkan untuk meningkatkan pelayanan meteorologi penerbangan sebagai kontribusi terhadap keselamatan, keteraturan, dan efisiensi penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia sendiri, kata Andi, sudah memiliki 23 stasiun meteorologi penerbangan yang telah mengimplementasikan Quality Management System, tersertifikasi ISO 9001: 2008. Personil meteorologi penerbangan di 23 stasiun tersebut telah melewati uji kompetensi personil meteorologi penerbangan yang sesuai dengan standar International Civil Aviation Organization (ICAO) dan WMO.

Negara di kawasan Asia Tenggara sebagai anggota WMO dan ICAO wajib melaksanakan program WMO dan ICAO yang terkait dengan meteorologi penerbangan. Di antaranya, Kompetensi Personel Meteorologi Penerbangan dan Quality Management System (QMS).

ICAO telah mengembangkan GANP untuk membantu stakeholder penerbangan di setiap negara menentukan prioritas pembangunan hingga 15 tahun ke depan. GANP mencakup ASBU yang di dalamnya mencakup modul meteorologi. (tety)