24.2 C
New York
04/06/2020
Aktual

Menggali Sejarah Kerajaan Cantung

cantung

JAKARTA (Pos Sore) — Pernah mendengar nama Kerajaan Cantung? Mungkin belum pernah. Hanya sedikit yang mengetahui kerajaan yang berada di Kalimantan Selatan itu. Kalau pun ada yang mendengar, hanya sebatas angin lalu.

Padahal, di kerajaan ini menyimpan catatan sejarah perjalanan bangsa. Dahulu Cantung dan Batu Licin (1780) adalah Kerajaan. Pecahan dari kerajaan Tanah Bumbu dengan rajanya Ratu Intan I.

Agar masyarakat lebih mengetahui kerajaan ini, Lembaga Kerukunan dan Kerakatan Kerajaan Cantung Kalimantan Selatan mengadakan ‘Lokakarya Menggali Sejarah Kerajaan Cantung untuk Menemukenali Nilai Budaya dan Kesejarahan Kalimantan Selatan’, di gedung Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Rabu (17/6).

Dalam lokakarya itu, terungkap di jaman kolonial Belanda, kerajaan Cantung dan Batu Licin menjadi satu wilayah pemerintahan swapraja yang dikepalai seorang bumiputra bagian dari afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe, dikuasakan kepada Pangeran Syarif Hamid.

Dalam sejarahnya Cantung dipimpin seorang Raja yang arif dan bijaksana bernama Pangeran Koesoemanegara, di bawah kepemimpinanya kerajaan Cantung dikenal cukup aman dan makmur disertai pesatnya perkembangan pengajaran Agama Islam bagi masyarakat.

Namun keadaan tersebut tersandung dengan politik jahat pemerintah Hindia Belanda, melakukan siasat licik terhadap Pangeran Koesoemanegara, dengan memaksa pelepasan kekuasaan kerajaan hingga membawa Pangeran Koesoemanegara beserta keluarga dibuang ke Pulau Jawa, yaitu di Bondowoso, Jawa Timur (1864-1900).

Sebagai Keluarga besar Pangeran Koesoemanegara dari keturunan ke 4 (empat), Hendri Nindyanto, berkeinginan melakukan internalisasi sesuai petuah sejak datu nenek dan orang tua, yaitu ‘Rakat-rakat bekeluarga, rakat-rakat di kampung’ (bahasa Banjar).

“Melalui lokakarya ini adalah langkah awal keluarga besar Pangeran Koesoemanegara mengungkapkan sejarah perjuangannya,” katanya.

Pihaknya Ingin berkontribusi mendorong penguatan silaturahim antara keturunan Pangeran Koesoemanegara dengan masyarakat Kecamatan Kelumpang Hulu dan sekitarnya melalui berbagai kegiatan yang mampu menciptakan pranata sosial secara harmonis.

“Ini sebagai upaya meningkatkan rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan yang mengikat utuh,” ungkapnya.

Menurut sejarah, di wilayah Kabupaten Kotabaru dahulu terdapat banyak kerajaan atau kesultanan. Yaitu, Kerajaan Bangkalaan, Sampanahan, Tjingal, Manunggul, Batu Licin, Pagatan, Kusan, Kesultanan Paser serta Cantung.

“Tentunya untuk provinsi Kalimantan Selatan akan banyak penyebarannya di setiap wilayah kabupaten. Ini menunjukkan tatanan kemasyarakatan dan peradaban masyarakat pada jamannya telah berlangsung dengan dipimpin oleh seorang raja atau sultan sebagai panutannya,” paparnya.

Karena itu, pihaknya berharap, melalui lokakarya yang menghadirkan narasumber dari kalangan Pejabat Pemerintah Pusat yang menangani bidang kebudayaan dan kesejarahan, Tokoh Masyarakat Kalimantan Selatan, Akademisi, dan Sejarawan, serta Generasi Muda, ini dapat membuka cakrawala dan wawasan tentang pentingnya pelestarian adat dan budaya peninggalan leluhur.

“Selain itu, dapat menjadi solusi pengembangannya untuk masa depan dalam rangka memperkuat jatidiri bangsa. Mari kita Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah,” tambahnya. (tety)

Related posts

John Dykes Kembali di Fox Sports Asia

Tety Polmasari

Wujudkan Masyarakat Sejahtera, Kelas Menengah Perlu Direvitalisasi

Tety Polmasari

Techniques for Choosing a good Good cause

Tety Polmasari

1 comment

andika rachmad 25/09/2017 at 22:21

doa untuk Almarhum H.Hendri Nindyanto sh….Alfatehah

Reply

Leave a Comment