25.6 C
New York
12/08/2020
Aktual

Satelit LAPAN A2, Awal Baru Perkembangan Dunia Satelit di Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) – Indonesia sedang mempersiapkan peluncuran satelit LAPAN A2 pada Oktober tahun ini. Satelit ini diciptakan karena Indonesia adalah negara kepulauan dan maritim terbesar di dunia. Luas Laut teritorinya sekitar 5.8 milion km2 yang adalah 75% dari luas wilayahnya.

International Maritime Organization (IMO) meminta Indonesia memberi jalur untuk melintas pelayaran internasional wilayahnya, yakni yang disebut Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) karena lokasi Indonesia di antara 2 samudera dan 2 benua.

ALKI 1 adalah dari selat Malaka hingga selat Sunda, ALKI 2 dari selat Sulawesi hingga selat Lombok. Pada ALKI 1 saja ratusan kapal melintas tiap harinya.

Itu sebabnya, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menciptakan satelit Lapan A2 ini, yang menurut Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin, dipersiapkan untuk mengawasi perairan Indonesia. Satelit ini asli buatan Indonesia. Satelit ini diharapkan siap diluncurkan pada tahun ini, mundur beberapa tahun dari yang ditargetkan, yaitu pada 2013.

Satelit LAPAN-A2 ini memang didesain untuk tiga misi yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio amatir. Dengan berat sekitar 75 kg, satelit LAPAN A2 di antaranya juga membawa muatan Automatic Identification System (AIS) receiver dan Automatic Packet Reporting System (APRS). AIS adalah sistem pemantauan kapal laut yang berbasis komunikasi digital VHF dan GPS.

Berdasarkan aturan Internatioanl Maritime Organization (IMO), sistem ini harus dipasang pada kapal dengan bobot minimal 300 ton. Secara prinsip semakin tinggi sensor tersebut digunakan akan semakin luas cakupannya. Sehingga merupakan sangat potensial untuk ditempatkan di satelit.

Satelit berbobot sekitar 75 kg ini menggunakan kamera digital 4 megapixe, yang akan dipasang pada lensa dengan panjang fokus l000 mm. LAPAN-A2 ini akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari dengan lama waktu melintas sekitar 20 menit.

Pada orbit tersebut AIS LAPAN-A2 akan mempunyai radius deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari maximum 2000 kapal dalam satu daerah cakupan.

Subsistem AIS LAPAN-A2 ini sudah dilakukan pengujikan di daerah Jakarta Utara pada 2012. Dipilihnya Jakarta Utara agar penerima AIS menerima data AIS yang dikirimkan oleh kapal-kapal yang berada di sekitar pelabuhan Tanjung Priok. Pengujian dilakukan untuk melihat kemampuan penerimaan, pengiriman, dan perekaman data AIS yang dilakukan menggunakan sistem muatan AIS satelit LAPAN-A2.

Dari salah satu pengujian yang dilakukan didapat data dari sekitar 78.000 AIS kapal, pada perekaman selama 12 jam. Data tersebut disajikan dalam bentuk seri waktu (time series) pada peta daerah pelabuhan Tanjung Priok Video sehingga berwujud animasi (dengan waktu dipercepat). Hasil pengujian menunjukkan sistem muatan AIS LAPAN-A2 bekerja dengan baik.

Lapan A2 yang akan mengorbit secara ekuatorial nantinya menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial. “Meskipun Indonesia masih pendatang baru di teknologi antariksa, namun adanya Lapan A2 seperti menjadi awal baru perkembangan dunia satelit di Indonesia,” kata Thomas. (tety)

Related posts

Menko PMK Gelar Rakor Antisipasi Banjir dan Tanah Longsor

Tety Polmasari

Tetap Bugar Saat Berpuasa dengan Obat Herbal

Tety Polmasari

Bank BTN Jalin Kerjasama Dengan DITJEN DUKCAPIL

bambang tri

Leave a Comment