16.4 C
New York
02/06/2020
Aktual

Agar Indonesia Mandiri, BATAN Bangun Irradiator Gamma Merah Putih

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia sering mengalami kesulitan mengekspor produk pangan seperti sayuran dan buah-buahan, dikarenakan produk tersebut begitu sampai di negara tujuan berkualitas rendah bahkan sudah membusuk.

Untuk menjaga kualitas produk, negara-negara di Eropa dan Timur Tengah misalnya mensyaratkan produk yang masuk ke negaranya harus diiradiasi terlebih dahulu agar memiliki kualitas yang dipersyaratkan.

“Problem eksportir adalah begitu sampai ke Timur Tengah sayuran kita sudah tidak bagus. Dari sayuran segar, biasanya 60%nya hilang (membusuk) pasca panen,” jelas Deputi BATAN bidang Pedayagunaan Teknologi Nuklir, Anhar Riza Antariksawan saat konferensi pers di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Jakarta.

Sementara, Indonesia hanya mempunyai dua fasilitas irradiator gamma, satu milik BATAN untuk kegiatan riset, dan satu lagi milik PT. Relion Sterilization Services untuk kegiatan komersial yang berlokasi di Cibitung, Jawa Barat. Produk yang akan diiradasi sampai harus mengantri di PT. Relion, sedangkan di BATAN sendiri hanya bisa melayani terbatas karena irradiator sebagian juga digunakan untuk kegiatan riset.

Karena itu BATAN akan membangun fasilitas Irradiator Gamma Merah Putih yang merupakan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas pangan dan sterilisasi alat kesehatan.

“Diberi nama merah putih untuk menunjukkan semangat bahwa irradiator yang diprediksi 85% menggunakan produk lokal ini tidak kalah bagus dari negara lain,” kata Anhar.

Irradiator yang akan dibangun di Puspiptek, Serpong ini adalah fasilitas nuklir dengan sumber radiasi gamma terkendali. Sinar gamma terkendali dapat digunakan untuk proses sterilisasi dekontaminasi bahan dari bakteri pembusuk.

Iradiasi pada makanan, lanjut Anhar, dilakukan dengan prosedur tepat sehingga tidak merusak kandungan vitamin atau protein, tidak meninggalkan radiasi dan tentunya aman untuk kesehatan. Radiasi gamma yang dipancarkan dari unsur pemancar gamma dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mengatasi permasalahan di bidang industri tersebut.

Dibandingkan teknologi konvensional, penggunaan radiasi memiliki keunggulan diantaranya produk dapat diproses dalam keadaan terkemas dan siap dipasarkan, dapat digunakan untuk produk dalam jumlah besar, target pemusnahan mikroba pada tingkat tertentu atau menyeluruh dapat dilakukan pada seluruh bagian produk, tidak menimbulkan kerusakan pada produk karena teknologi ini merupakan proses dingin dan tidak menimbulkan residu bahan kimia.

Irradiator yang menghabiskan dana 80 miliar ini diperkirakan akan rampung pada 2017 dan dapat digunakan pada 2018. Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan idealnya irradiator dibangun di daerah-daerah pelabuhan seperti di Lampung dan Jawa Barat sebagai lalu lintas komoditas ekspor agar sumber radiasi dapat digunakan secara efektif.

“Tiongkok memiliki 27 irradiator gamma, India 17, Indonesia idealnya punya minimal 5 irradiator gamma”, katanya.

Harapannya, investor dapat melirik teknologi ini karena dinilai sangat menguntungkan dari sisi ekonomi dan kemandirian bangsa untuk kegiatan skala industri besar. “Mindset kita juga harus diubah, kalau selama ini pengusaha hanya berpikir yang penting laku di dalam negeri, kalau bisa diekspor ke luar negeri dengan kualitas bagus kenapa tidak?” tegasnya. (tety)

Related posts

Bantu Pemda Tanggulangi Covid-19, M Toha Tawarkan Rumah Aspirasi Sebagai Penampungan

Akhir Tanjung

Polda Metro dan Kodam Jaya Kirim Bantuan Ke Palu

Tety Polmasari

Peluncuran Tabungan BTN Berhadiah Emas

bambang tri

Leave a Comment