16.4 C
New York
02/06/2020
Aktual

BMKG: El Nino 2015 Bisa Lebihi Dampak 1997

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia mengalami dampak El nino. Musim kemarau menjadi lebih panjang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramalkan musim kemarau bisa berlangsung hingga Desember. Untuk wilayah Jakarta, musim kemarau hingga Oktober.

El Nino adalah fenomena hilangnya uap air secara signifikan yang masuk ke wilayah Indonesia yang kemudian terjadi pemanasan secara signifikan di wilayah pasifik tengah dan pasifik timur. Tak adanya uap air menyebabkan curah hujan berkurang sehingga beberapa wilayah di Indonesia mengalami kekeringan.

Dampak paling terasa akibat El Nino yakni kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat fenomena alam ini Indonesia pernah mengalami kebakaran hutan yang luasnya mencapai 9,8 juta hektar pada 1997/98 (Data dari Asian Development Bank).

Rupanya, berdasarkan pengamatan BMKG, dampak El Nino 2015 bisa melebihi dampak pada 1997/98 itu. Penguatan El Nino 2015 ini, ditunjukkan oleh kenaikan indeks ENSO (El-Nino Southern Oscillation) dari 1,6 pada Juni dan akan terus meningkat hingga 2,2 pada Desember 2015.

Analisa BMKG melihat dari curah hujan, hingga Desember nanti kekeringan akan melanda provinsi Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung, Bali, NTT, dan NTB. Kekeringan akibat El Nino ini, merupakan yang terparah sejak 30 tahun lalu.

“Wilayah itu mengalami sifat curah hujan di bawah normal dalam 30 tahun terakhir. Suhu permukaan laut di Indonesia memberikan pasokan yang tidak cukup, hal itu dikarenakan menguatnya El Nino,” ujar Kepala BMKG, Andi Eka Sakya, saat memaparkan dampak El Nino, di kantornya, Kamis (30/7).

Andi menekankan, El Nino itu bukanlah gelombang panas seperti yang dikhawatirkan terjadi di India ataupun Pakistan. Namun, El Nino merupakan kondisi meningkatnya suhu permukaan laut yang signifikan di Samudera Pasifik sekitar ekuator yang menyebabkan berkurangnya curah hujan signifikan di Indonesia.

Elnino, kata dia, adalah gejala penyimpangan kondisi meningkatnya suhu permukaan laut yang signifikan di area Samudera Pasifik sekitar katulistiwa khususnya bagian timur dan tengah serta berdampak pada pengurangan jumlah curah hujan secara drastis di Indonesia.

Di Indonesia, dampak dari fenomena El Nino pada 1997 terjadi bencana kekeringan yang luas. Meski kasus Kebakaran hutan terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan namun menjadi sorotan dunia karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga. Kebakaran semakin luas karena keringnya udara dan sedikitnya curah hujan, sehingga api mudah berkobar dan merambat.

“Dampak El Nino 2015 berpotensi melebihi dampak El Nino pada 1997. Dari pengamatan kita tampaknya begitu, sebaiknya ini sesegera mungkin disampaikan ke masyarakat,” katanya. (tety)

Related posts

Buku Putih IDI: Tolak Program Studi DLP

Tety Polmasari

Kementan Optimis Target Swasembada Gula Konsumsi 2019 Tercapai

Tety Polmasari

Perampok Penumpang Ojek Online Diburu

Tety Polmasari

Leave a Comment