Anak Alergi Protein Susu Sapi, Akibatkan Gangguan Tumbuh Kembang

Sabtu, 8 Agu 2015

JAKARTA (Pos Sore) – Sejumlah penelitian menunjukkan, sebagian anak yang alergi protein susu sapi berpotensi mengalami gagal tumbuh kembang dan berdampak jangka panjang terhadap tingkat kesehatan saat dewasa.

Pakar di bidang saluran pencernaan makanan dan nutrisi anak dari Vrije Universiteit Brussel Belgia, Prof Yvan Vandenplas, menjelaskan, pada sebagian anak, asupan susu sapi bisa memicu reaksi abnormal karena interaksi antara satu atau lebih protein susu sapi dengan mekanisme kekebalan tubuh.

“Sayangnya, alergi protein susu sapi ini tidak memilikii gejala yang spesifik. Karena tidak adanya gejala yang spesifik, kurangnya pengetahuan, dan jarang dilakukan tes alergi, kesulitan deteksi kasus alergi protein susu sapi merupakan hal yang sering terjadi,” kata Vandenplas pada acara Nutritalk bertajuk ‘Nutrisi Awal Kehidupan untuk Atasi Dampak Jangka Panjang Alergi Pada Anak, yang diadakan Sarihusada, di Jakarta, Jumat (7/8).

Vandenplas mengatakan, prevalensi anak di dunia yang menderita alergi semakin meningkat karena berbagai penyebab. Di Amerika Serikat (AS) saja, penelitian yang dilakukan Robbins KA pada 2014 terhadap 6.189 anak berusia 2-17 tahun menunjukkan, secara signifikan anak-anak yang memiliki alergi makanan dengan sejarah alergi susu sapi memiliki rata-rata tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh rendah dibandingkan anak dengan alergi makanan tanpa sejarah alergi susu sapi.

Penelitian lain oleh Santos pada 2010 memperlihatkan, prevalensi anak yang tetap menderita alergi makanan semakin tinggi di level usia yang hampir sama jika dibandingkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Host pada 1990.

Pada tahun itu diketahui, sebanyak 44 persen anak tetap menderita alergi makanan pada usia satu tahun, 23 persen pada usia dua tahun, dan 13 persen di usia tiga tahun. Sedangkan pada 2010, sebanyak 91 persen anak tetap menderita alergi makanan pada usia satu tahun, 66 persen pada usia dua tahun, 45 persen pada usia lima tahun, dan 32 persen di 10 tahun.

Karena itu, meningkatkan pengenalan dan pengetahuan terhadap gejala alergi susu sapi serta penanganan alergi secara tepat sangat penting untuk menekan dampak jangka panjang.

“Pemberian nutrisi dengan indikasi yang tepat yang dapat menekan sensitisasi (tingkat alergi) aman, dan dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,” tandasnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Spesialis Anak dari RSCM, Zakiudin Munasir, mengatakan, satu dari 25 anak di Indonesia menderita alergi protein susu sapi dengan gejala paling umum pada pernafasan (51,5 persen) dan kulit (48,7 persen). Sisanya, gejala pada pencernaan 39,3 persen dan gejala-gejala lain seperti pada mata dan susunan saraf pusat atau sakit kepala.

Menurutnya, pengobatan dan pencegahan alergi makanan pada anak dapat dilakukan dengan mengeliminasi makanan alergen dan menggantinya dengan makanan bernilai gizi yang sama, sehingga tidak terjadi malnutrisi.

Susu dengan isolat protein kedelai dapat dijadikan pilihan yang aman dalam penanganan anak dengan alergi protein susu sapi, karena dapat ditoleransi dengan baik. Selain itu, di Indonesia susu kedelai merupakan asupan yang disukai karena rasanya bisa diterima. (tety)