Susu Kacang Kedelai, Solusi Bagi Anak Alergi Susu Sapi

Minggu, 9 Agu 2015

alergi

JAKARTA (Pos Sore) — Meski susu sapi merupakan salah satu makanan sumber protein untuk mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak, namun, ada juga anak yang alergi. Pada sebagian anak, asupan susu sapi bisa memicu reaksi abnormal karena interaksi antara satu atau lebih protein susu sapi dengan mekanisme kekebalan tubuh.

“Sejumlah penelitian menunjukkan, sebagian anak yang alergi protein susu sapi berpotensi mengalami gagal tumbuh,” ujar Prof Yvan Vandenplas, pakar di bidang saluran pencernaan makanan dan nutrisi anak dari Vrije Universiteit Brussel, Belgia, dalam acara Nutritalk ‘Nutrisi Awal Kehidupan untuk Atasi Dampak Jangka Panjang Alergi Pada Anak’, di Jakarta, Jumat (7/8).

Sayangnya, alergi protein susu sapi ini tidak memiliki gejala yang spesifik sehingga orangtua tidak memahaminya dan masyarakat jarang melakukan tes alergi.

Menurutnya, penanganan yang tepat dengan memberikan nutrisi yang tepat, yang dapat menekan sensitisasi (tingkat alergi) aman, dan dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Salah satunya dengan memberikan susu berbahan kacang kedelai.

Penelitian oleh Y. Katz pada 2014 menunjukkan prevalensi alergi susu dengan bahan kacang kedelai sangat kecil di antara populasi umum (0,27%), populasi khusus (1,9%), dan anak-anak penderita elergi (2,7%). Prevalensi sensitisasi setelah pemberian susu dengan bahan kacang kedelai juga hanya mencapai 8,7 persen sampai 8,8 persen.

Penelitian Vandenplas di 2014 menunjukkan, meskipun terhadap kandungan tinggi asam fitat dan aluminium pada susu dengan isolat protein kedelai, konsentrasi Hb, protein serum, zinc, dan kalsium serta kandungan mineral tulang pada anak pengonsumsi susu dengan isolat protein kedelai tidak berbeda secara signifikan dengan anak yang tidak mengonsumsinya.

Demikian juga halnya pada tingkat imunisasi dan parameter sistem saraf. Tingkat estrogen pada anak yang mengonsumsi susu dengan isolat protein kedelai ditemukan lebih tinggi.

“Penelitian kami ini menyimpulkan, susu dengan isolat protein kedelai menjadi salah satu opsi yang terjangkau dan aman bagi penanganan alergi protein susu sapi. Pola pertumbuhan, kesehatan tulang, dan fungsi metabolisme, fungsi reproduksi, endokrin, imunitas, dan sistem saraf dari anak-anak pengonsumsi susu dengan isolat protein kedelai tidak berbeda secara signifikan dengan anak yang tidak mengonsumsi susu dengan isolat protein kedelai,” paparnya.

Sementara itu, spesialis Anak dari RSCM, Zakiudin Munasir, menambahkan, pengobatan dan pencegahan alergi makanan pada anak dapat dilakukan dengan mengeliminasi makanan alergen dan menggantinya dengan makanan bernilai gizi yang sama, sehingga tidak terjadi malnutrisi.

“Susu dengan isolat protein kedelai dapat dijadikan pilihan yang aman dalam penanganan anak dengan alergi protein susu sapi, karena dapat ditoleransi dengan baik. Selain itu, di Indonesia susu kedelai merupakan asupan yang disukai karena rasanya bisa diterima,” ujarnya.

Arif Mujahidin, Corporate Affairs Head Sarihusada mengatakan, pihaknya sejak pertama kali menghadirkan susu khusus anak (SGM), selalu sejalan dengan perkembangan. Termasuk dengan perkembangan terhadap anak yang alergi protein susu sapi.

“Yang jelas kita sudah 61 tahun berpengalaman dalam melakukan riset terhadap kebutuhan lokal. Tim product development, walaupun ada di Utrecht Belgia, tapi tetap menyesuaikan dengan kebutuhan anak Indonesia,” ujarnya.

Riset yang dilakukan, tentunya dalam menyesuaikan komposisi serta harga. Dari awal, perusahaan berkomitmen untuk menjaga keterjangkauan masyarakat mengingat 50 persen konsumen Indonesia dari menengah ke bawah. (tety)