Cegah Konflik, Mahasiswa Harus Kedepankan Kebhinekaan Indonesia

Kamis, 27 Agu 2015

JAKARTA (Pos Sore) – Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tengara, menggelar seminar bertema ‘Meluruskan Kiblat Kebhinekaan Indonesia (Sultra dalam Harmoni Kebhinnekaan dan Merujuk Kasus Tolikara)’ pada Rabu (26/8). Seminar yang dibuka Wakil Dekan III Fakultas Teknik UHO, Yuspian Gunawan ST MT, ini sengaja diadakan dengan tujuan mencegah dan menghentikan konflik kesukuan yang ada di kampus.

“Tema yang dipilih sangat tepat sebab kebhinnekaan adalah hal terpenting dalam membangun kebersamaan dan persatuan. Kenyataan itu cocok untuk merekatkan keharmonisan kembali di tengah-tengah mahasiswa UHO dan meningkatkan kesolidannya karena sering selama ini sering terdengar pembicaraan atas nama suku dan bukan atas nama nasionalisme,” kata Lade Sirjon, Kepala bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum UHO.

Ia menegaskan, konflik kesukuan di kampus harus dapat dicegah karena dapat merugikan mahasiswa dan kampus, serta terpecahnya persatuan di kalangan mahasiswa. Oleh sebab itu, perlu dicegah dengan menanamkan nilai-nilai pancasila dan kebhinekaan kepada para mahasiswa.

Selama ini, kata dia, sering kali mahasiswa berbeda pendapat dilatarbelakangi masalah suku dan agama. Untuk itu perlu dicegah dengan menanamkan nilai-nilai pancasila dan moral dengan berdiskusi tanpa membedakan suku dan agama.

“Selain menanamkan nilai-nilai Pancasila dan moral, mahasiswa juga harus dibiasakan melakukan kebaikan dan menolong orang lain tanpa melihat suku, ras dan agama. Juga menggunakan pemikiran yang rasional sehingga hal-hal kecil tidak menyebabkan konflik yang lebih besar,” tegasnya di hadapan 150 mahasiswa yang menjadi peserta seminar, yang berasal dari fakultas teknik mesin, elektro, sipil, informartika, arsitek dan fakultas lainnya.

Tenaga Fasilitator Teknik pada Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP), Arafat Yunus, yang menjadi pembicara dalam seminar yang dimoderatori Al Ghazali, mahasiwa fakultas teknik sipil semester V UHO, itu berpendapat kebhinnekaan adalah hal terpenting dalam membangun kebersamaan dan persatuan.

“Seminar yang digelar UHO ini cocok untuk merekatkan keharmonisan kembali di tengah-tengah mahasiswa UHO dan meningkatkan kesolidannya. Sebab selama ini sering sering terdengar pembicaraan atas nama suku dan bukan atas nama nasionalisme,” ujarnya.

Sementara itu, alumni UGM yang juga Danrem 143/Haluo Oleo, Kolonel Rido Hermawan menyebutkan, untuk mencegah konflik kesukuan diperlukannya membangun lembaga pemasyarakatan yang bertujuan membimbing masyarakat yang berbeda suku, ras dan agama. Dengan begitu, ketika ada konflik dapat diselesaikan secepatnya dan tidak menyebar.

“Perlu juga melakukan sosialisasi kebhinnekaan dan kebangsaan dan bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh agama, pemimpin suku mengenai cara menghindari konflik yang dapat merusak citra khususnya Sulawesi Tenggara dan Indonesia umumnya,” paparnya.

Yang terpenting lagi, perlunya mahasiswa dapat berfikir rasional dalam menyikapi suatu masalah sehingga tidak memicu konflik. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015