Kebakaran Lahan Sumatera, Kemenkes Bagikan 65 Ribu Masker

Selasa, 8 Sep 2015

JAKARTA (Pos Sore) – Kebakaran lahan di Sumatera sangat berdampak pada kesehatan. Semua bahan pencemar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, seperti dapat terkena infeksi saluran pernapasan atas, pneumonia, asma, iritasi mata, dan iritasi kulit.

Untuk mengurangi masalah kesehatan akibat dampak kebakaran lahan ini, Kementerian Kesehatan menyalurkan masker ke daerah-daerah yang terkena dampak.

Sebanyak lebih dari 65.000 masker dibagikan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Pendistribusiaannya dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten Kota di Riau.

“Ini untuk mengurangi bahaya asap kebakaran yang mengandung partikulat debu dan gas,” kata Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr Imran Agus Nurali, SpKO, di Jakarta, Selasa (8/9).

Ia menjelaskan, partikulat debu jika terhirup bisa menimbulkan iritasi pada saluran napas. Jika tak ditanggulangi, iritasi ini bisa menyebabkan saluran napas membengkak, dan akhirnya membuat penumpukan lendiri yang menjadi sarang kuman penyebab infeksi.

Dikatakan, kebakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan, menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi, gejala menyerupai flu, dan asma di semua kelompok umur. Sementara itu, kelompok rentan yang telah memiliki penyakit pernapasan akan cenderung mengalami serangan yang lebih sering.

“Semakin tinggi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), semakin tinggi pula risiko serangan atau kekambuhan penyakit pernapasan orang bersangkutan,” tambahnya.

Imran menyarankan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah karena asap kebakaran lahan banyak terkonsentrasi di luar ruangan. Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, disarankan mengenakan masker dengan tingkat filtrasi yang tinggi.

Selain itu, masyarakat disarankan mengonsumsi makanan dengan kandungan antioksidan tinggi, misalnya buah-buahan, untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Menurutnya, bahaya partikulat debu bisa ditanggulangi dengan menggunakan masker. Semakin baik kemampuan menyaring atau filtrasi masker, semakin kecil pula risiko bahaya kesehatan.

“Masker paling baik itu kan yang masker N95. Cuma masalahnya tidak semua orang betah pakai masker itu karena sangat menutupi mulut banget. Makanya kita anjurkan pakai masker biasa juga tidak apa-apa daripada tidak pakai masker sama sekali,” ujarnya.

Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, dr Achmad Yurianto, menambahkan, pihaknya memberikan rekomendasi kepada Menteri Kesehatan terkait tren peningkatan kasus gangguan pernapasan di Riau Achmad. Sejak Mei 2015, PPKK Kemenkes sudah bisa ‘membaca’ kebakaran lahan sudah mulai menimbulkan dampak pada masyarakat.

“Hasil kajian tim kami sampaikan kepada pemerintah daerah agar mereka bisa mencegah terjadinya kebakaran lahan. Kalau kebakaran lahan sudah terjadi, diharapkan mereka bisa mengurangi dampak lebih buruk dari kebakaran lahan itu bagi kesehatan masyarakat,” kata Achmad.

Selain memberikan hasil penilaian indikator kesehatan kepada pemerintah daerah, PPKK Kemenkes membantu meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di daerah tempat terjadinya kebakaran lahan agar lebih siap menghadapi dan menangani dampak kesehatan akibat kebakaran lahan. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015