24.2 C
New York
06/08/2020
Aktual

Kebijakan Kesehatan Harus Berbasis Bukti dan Hasil Penelitian

Kebayoran Baru-20150915-00435

JAKARTA (Pos Sore) — Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, membuka Simposium Internasional ke-2 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bertema ‘Basic Research and Innovation Breaktrough into Product’.

Menkes dalam sambutannya menegaskan, untuk mendapatkan produk informasi dan inovasi yang valid dan terpercaya, sebelumnya harus melalui penelitian dan pengembangan kesehatan yang terjaga mutunya secara ilmiah maupun etik.

“Produk informasi dan inovasi yang valid dan terpercaya tersebut juga sangat berguna dalam rangka pengambilan keputusan berbasi bukti,” tandas menkes pada pertemuan ‘The 2nd International Symposium on Health Research and Development’ itu, di Jakarta, Selasa (15/9).

Simposium selama 2 hari ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini seputar penelitian dan pembangunan kesehatan yang terkait dengan deteksi, pencegahan dan pengobatan (vaksin, obat-obatan, dan peralatan medis). Simposium ini juga dapat dimanfaatkan sebagai forum komunikasi antara ‘produsem riset’ dan ‘konsumen riset’.

Menkes mengatakan, beberapa penyakit telah diamanakan secara global untuk dikendalikan, seerti Tb, Malaria, HIV dalam Millenium Development Goal Post 2015. Di Indonesia pada 2013 telah terindentifikasi 23 penyakit yang berpotensi wabah yang di dalam daftar tersebut terdapat juga penyakit yang harus ditangani dalam MDS’s post 2015.

“Sehubungan dengan itu diperlukan penelitian untuk meneliti dan mengembangkan produk untuk deteksi berupa diagnostik, pencegahan dengan vaksin, penyembuhan dengan obat, dan alat kesehatan untuk mengatasi penyakit tersebut,” katanya.

Dikatakan, sejak 2012, Indonesia telah memulai pendekatan penelitian dan pengembangan produk dilakukan dalam bentuk Korsorsium Riset yang melibatkan akademisi, institusi penelitian milik pemerintah dan industri untuk mempercepat mendapatkan hasil dengan efisien.

Salah satu contohnya, pengembangan bahan baku obat malaria Artemisinin dari tanaman Artemisia annua yang didahului dengan penelitian Riset Tanaman Obat dan Jamu. Untuk 2 jua kasus Malaria di Indonesia, diperlukan obat Artemisinin sebanyak 900 kg yang dihasilkan dari 450 ton simplisia kerting dan diperoleh dari 100 hektar tanaman Artemisis annua.

“Dewasa ini obat Artemisini untuk pengendalian malaria di Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Karenanya, Kemenkes tengah lakukan terobosan untuk mewujudkan kemandirian penyediaan Artemisin,” tambah menkes.

Menkes berharap para peneliti dapat meningkatkan perhatian mereka dan peka terhadap berbagai permasalahan pada masyarakat untuk dicarikan solusinya. Kebijakan kesehatan yang dilaksanakan haruslah berbasis bukti dan berbasi hasil penelitian. (tety)

Kebayoran Baru-20150915-00434

Related posts

Saraswati Learning Center Rayakan Hari Down Syndrome Sedunia

Tety Polmasari

Indonesia Peringkat 4 Pengidap TB Terbesar di Dunia

Tety Polmasari

Protecting Your Website From Online Thieves – Portion Three

Tety Polmasari

Leave a Comment