Pelemahan Rupiah Kurang Dinikmati Eksportir Mebel

JAKARTA (Pos Sore) – Ketua Asosiasi  Meubel Dan Kerajinan  Indonesia (AMKRI), Rudi Halim mengungkapkan, kendati pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat cukup tinggi, justrtu tidak dinikmati pengusaha di sektor ini yang selama ini melakukan ekspor. Kondisi ini terjadi akibat masih ada ketergantungan terhadap bahan baku impor.Dan diperparah lagi oleh kebijakan pemerintah yang menerapkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)  untuk sektor hilir.

 “Saya malu, sebagai orang Kalimantan yang bekerja di kayu, diam-diam kita makin kalah bersaing dengan  Malaysia, Thailand, China bahkan Vietnam.”

Rudi memaparkan, pelemahan nilai tukra rupiah terhadap dolar tidak serta merta memberikan keuntungan yang siknifikan bagi dunia usaha khususnya mebel derngan bahan baku MDF dan portabel. Namun, bagi industri kerajinan dengan bahan baku lokal diakui menikmati keuntungan cukup siknifikan.

“Kalau di mebel benefit yang kita terima sedikit karena bahan baku impornya mencapai 70-80 persen. Tetapi untuk kerajinan masih untung karena bahan baku lokal. Akan tetapi harga bahan baku juga naik hingga 40 persen jadi cukup berat juga kondisinya,” ungkap Halim di sela Launching Pameran Indonesia Internastional Furnitur Expo (IFEX) 2916 dan Pameran B to C Interior And Decoration (InterDex) 2016, di Kementerian Perdagangan, Selasa (29/9).

Hali mengungkapkan rasa malunya sebagai orang Kalimantan yang selama menggeluti bisnis perkayuan, justru semakin hari Indonesia maskih kalah bersaing dengan negara Asean. “Saya malu, sebagai orang Kalimantan yang bekerja di kayu, diam-diam kita makin kalah bersaing dengan  Malaysia, Thailand, China bahkan Vietnam.”

Kekalahan Indonesia dalam bersaing  menurutnya dipicu pelbagai hal antara lain biaya upay buruh Indonesia yang terlalu mahal, jam kerja yang singkat, tranportasi yang mahal ditambah lagi dengan kebijakan SVLK dari pemerintah yang kurang mendukung. “Saya miris,tetapi saya harus memberi semangat teman-teman dan minta pemerintah mendukung dengan regulasi dan berjuang bersama-sama untuk kelangusngan industri ini.”

Mantan Ketua AMKRI, Soenoto, juga mengungkapkan hal yang sama. Makanya dia mendesak pemerinrtah menghapuskan SVLK sektor hilir.”Saya sudah sering mengungkapkan agar SVLK sektor hilir ini dihapuskan. SVLK bukan masalah besar menengah kecil,tetapi itu urusan di sektor hulu.Silahkan diberlakukan. SVLK sektor hlir tidak perlu. Analogisnya, kami bisa sebagai penjual pisang goreng masa ditanya pisangnya boleh nyolong dimana? Itu urusan produsen hulu. Jadi analoginya simple.”

Dengan pelbagai kebijakan yang kurang mendukung ini, mereka kalangan dunia usaha pesimis target ekspor mencapai US$5 miliar yang dimipikan akan tercapai.Karena berdasarkan data yang ada nilai ekspor meubel dan furnitur terus melorot.Pada 2014 mencapai US$1,87 miliar, padahal pada 2013 sempat menyentuh US$2 miliar. Akan tetapi pada 2015 ini turun kembali menjadi US$1,6 miliar.

Menanggapi hal ini Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak,berjanji dalam waktu dekat akan meluncurkan regulai dalam upaya mendorong ekspor nasional. “Saya kira pelemahan nilai tukar ini menjadi momentum emas bagi dunia usaha  mengambil keuntungan bahkan menambah modal dan juga memperkuat penjualan di domestik. Dalam beberapa hari ke depan akanada paket kebijakan eknomi dan saya harap dunia usaha bisa senyum sumringah dan tetap semangat.(fitri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!