01/06/2020
Aktual

Kementan Bantah Pasokan Jagung Dalam Negeri Langka

JAKARTA (Pos Sore) – Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) melayangkan surat protes kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyusul langkanya pasokan jagung di dalam negeri akibat pengendalian impor yang dilakukan Kementerian Pertanian sejak Agustus 2015.

“GPMT telah menyurati Pak Menteri Pertanian terkait jagung. Soal kelangkaan jagung itu tidak benar. Yang ada produksi jagung tahun ini melimpah, naik 1,6 juta ton dibanding 2014,” kata Direktur Pakan Ternak Kementerian Pertanian, Nasrullah, di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, dari segi data, berdasarkan angka ramalan I Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung hingga Desember 2015 mencapai 20,6 juta ton. Angka ini meningkat dibanding 19 juta ton dibanding tahun lalu.

Dalam hitungannya, produksi 20,6 juta ton itu dapat memenuhi kebutuhan jagung untuk kebutuhan benih tahun ini sebanyak 105.000 ton, untuk konsumsi langsung sejumlah 398.000 ton, untuk kebutuhan pakan ternak sekitar 14,86 juta ton, dan kebutuhan lainnya sejumlah 4 juta ton. Losses produksi jagung diperkirakan 1 juta ton.

“Kalau ditotal semuanya maka kita masih ada surplus 174.000 ton,” tandasnya yang mengaku heran mengapa protes baru dilayangkan sekarang, bukan ketika rapat bersama.

Apa benar pengusaha pakan ternak kekurangan stok jagung? Kementan mendapat laporan dari Pusat Informasi Pasar (Pinsar) pasokan jagung sebenarnya normal, namun habis karena ‎diborong oleh pengusaha pakan ternak.

“Dalam surat disebutkan peternak kesulitan mendapat pakan jagung. Tapi Ketum Pinsar menyebutkan pabrik pakan memborong jagung petani karena takut tidak mendapat pasokan. Ini kan kontradiktif,” ungkapnya.

Ia tidak membantah jagung lokal memang sulit diperoleh ‎meski produksinya melimpah karena sentra-sentranya berada jauh dari industri pakan ternak. Namun, itu bukan alasan kuat untuk mengimpor jagung. Ada baiknya para pengusaha pakan untuk blusukan membeli jagung dari petani ketimbang mengimpor sebagai bentuk dukungan pada cita-cita swasembada pangan.

“Belum ada keseriusan 100% dari pengusaha untuk menyerap jagung para petani Indonesia. Jangan sedikit-sedikit impor. Impor memang lebih mudah, tapi tidak mencerminkan pro terhadap bangsa ini,” tandasnya. (tety)

Related posts

Anis: Stimulus Fiskal Jokowi Tidak Mampu Dorong Daya Beli Masyarakat

Akhir Tanjung

Kemenkop UKM Rilis E-Form Pendataan KUMKM Terdampak COVID-19

Tety Polmasari

Edisi ke-8 Surat Kabar Pos Sore Beredar

Tety Polmasari

Leave a Comment