Rotary Club Jakarta Metropolitan Gelar Pengobatan TBC di Joglo

Senin, 16 Nov 2015

rotari 2

JAKARTA (Pos Sore) – Hasil survey menemukan penyakit TBC masih dianggap sebagai hal aib terutama oleh kalangan masyarakat di kampung. Masih banyak yang memilih untuk menderita sakit daripada berobat ke dokter. Dalam keadaan parah baru mereka berobat ke rumah sakit. Karena terlambat tertangani tak jarang penderita TBC meninggal dunia.

Menurut artiket Wall Street Journal 30 Oktober 2015, WHO menemukan TBC membunuh 1,5 juta manusia pada 2014, yang menjadikan TBC sebagai penyebab kematian yang lebih banyak daripada HIV/AIDS (1,2 juta kematian).

Indonesia sendiri negara yang terkena penyakit Tuberculosis nomor 4 di dunia pada 2004. WHO memperkirakan di Indonesia setiap tahunnya terjadi 563.000 kasus untuk semua jenis TBC dan 282.000 kasus baru.

Sejak tahun 1995 pemerintah telah melakukan pemberantasan penyakit TBC dengan melaksanakan strategi yang direkomendasikan WHO dengan harapan dapat memberikan angka penemuan dan kesembuhan yang tinggi. Tujuannya untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit TBC.

Meski demikian, pada prakteknya, pasien dengan penyakit TBC seringkali tidak terobati dikarenakan sedikitnya pengetahuan mengenai penyakit tersebut, rasa malu, atau segan berobat.

Karenanya, demi menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pemberantasan dan pencegahan penyakit TBC, Rotary Club Jakarta Metropolitan menggelar kegiatan Medical Fair atau ‘Project 1000’, di Kampong Betawi, Pertukangan Utara, Joglo, Jakarta Selatan pada 14-15 November 2015.

“Kami jelas sangat terkejut dengan hasil survei tersebut. Karena itu, kami tergerak untuk mengangkat topik stigma sosial ini dengan harapan untuk membantu program kesehatan dari pemerintah untuk mencapai sasaran yang tepat,” kata President Club, Teezar Firmansyah, di sela kegiatan, Minggu (15/11).

Fitri, seorang aktivis lokal dari kampung tersebut mengatakan, orang di kampung ini lebih memilih sakit TBC daripada baru berobat. “Nanti setelah mereka muntah darah sampai sebaskom, mereka baru cari saya untuk minta pertolongan,” kata perempuan berusia 70 tahun ini.

Meski usianya sudah tak muda lagi, Fitri setiap harinya tidak kenal lelah untuk keliling ke tetangganya yang sakit door to door untuk memastikan mereka minum obat. Masyarakat kampung dengan rendahnya tingkat edukasi belum sadar dengan pentingnya makan obat sesuai anjuran.

Ia juga rela menjadi pemulung botol plastik yang hasil penjualannya dapat dipakai untuk memberikan nutrisi bagi bayi yang kekurangan gizi karena orang tuanya tidak mampu.

rotari 8

Mobile Clinic dari Rotary Club Jakarta Metropolitan juga memberikan pemeriksaan USG untuk 20 ibu hamil. Tidak ketinggalan, permainan kreativitas juga disediakan Rumah Edukasi untuk anak-anak yang menemani keluarganya.

Medical Fair ini semakin unik karena masyarakat kampung setempat diikutsertakan dengan menampilkan kebudayaan betawi, seperti kesenian Marawis dari Madrasah setempat dan bazaar makanan betawi asli. Dengan dukungan dari aparat pemerintah setempat, RT/RW dan lurah, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi percontohan untuk pemberantasan TBC di Indonesia.

Perihal keikutsertaan Rotary dalam kegiatan ini, District Governor D3410 Hidayat berkata, “Rotary terbuka untuk siapa pun tanpa memandang ras, agama, ataupun jenis kelamin. Selain itu, slogan Rotary sendiri adalah Service Above Self, yaitu memberikan bantuan tanpa pamrih, oleh karena itu kami sangat antusias untuk memulai Project 1000 ini.”

Seperti yang diutarakan Ketua ‘Project 1000’ Wichard von Harrach, “Sesuai dengan nama Project 1000, diperkirakan sekitar 1.000 masyarakat akan menerima bantuan layanan kesehatan tersebut. Kami berharap melalui kegiatan ini, kami dapat membantu terciptakannya lingkungan yang sehat dan kondusif bagi masyarakat sekitar.”

Anggaran kegiatan Medical Fair ini kurang lebih Rp300 juta, hasil kerjasama Rotary Club Jakarta Metropolitan dengan beberapa korporasi swasta. Di antaranya Thiess Contractors Indonesia and Leighton Contractors Indonesia, Global Alliance, RS Hermina, Rumah Edukasi, PT Johnson & Johnson Indonesia, PT Nira Mas, Yayasan Soedarpo, dan Danone.

“Dengan kerjasama ini, setiap penduduk yang sudah didata mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan standard dengan penekanan di pemeriksaan TBC. Selain itu, penduduk juga mendapatkan edukasi tentang TBC, perawatan bayi, cara-cara hidup sehat dan menjaga kebersihan,” paparnya. (tety)

rotari 5