Dermatitis Atopik, Bagaimana Menanganinya?

JAKARTA (Pos Sore) – Kulit, lapisan pertahanan pertama tubuh terhadap benda asing. Ini bagian organ tubuh terbesar tubuh dengan luas permukaan total 2 meter persegi dan berat sekitar 3,6 kg.

Sayangnya, sebagai bagian terluar dari tubuh manusia, kulit sering terpapar polusi dan radikal bebas. Hal ini tentunya dapat membuat kulit terlihat kusam dan sangat rentan terserang penyakit.

Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Bunda Jakarta dr. Rachel Djuanda, SpKK menyebutkan, salah satu penyakit yang sering menyerang kulit adalah Dermatitis Atopik (DA).

Penyakit yang lebih dikenal dengan eksim atopik yakni radang pada kulit berbentuk ruam yang timbul pada kulit sensitif dan mudah teriritasi.

Dikatakan, gangguan kulit ini terjadi dalam jangka waktu lama, dapat kambuh dan tidak bisa hilang. Umumnya DA dialami oleh anak yang berumur kurang dari 5 tahun dengan prevalensi 9-21 persen.

“Namun juga dapat diderita oleh orang dewasa dengan prevalensi 2-10 persen,” paparnya kepada media dalam SOHO BetterU bertajuk ‘Dermatitis Atopik, Jangan Salah Penanganannya’, yang diadakan SOHO Global Health, di Jakarta, Selasa (15/12).

Rachel menjelaskan, pasien DA memiliki kulit yang sangat kering, karena rendah produksi ceramide, terutama ceramide tipe 1 pada bagian `mortar/semen’ kulit.

“Ini yang mengakibatkan fungsi pelindung kulit berkurang sehingga kemampuan kulit menampung air dan siklus hidup sel korneum epidermis memendek,” ujarnya.

soho

    (ki-ka) Roby Gonaroy (Group Product Manager for Profesional Product SOHO Global Health), Dr. Rachel Djuanda, SpKK. Dermatologist dari Rumah Sakit Bunda, Jakarta) dan Widi Nugroho Sahib (Head of Public Relations and General Services SOHO Global Health) pada diskusi “Dermatitis Atopik, Jangan Salah Penanganannya’, di Jakarta, Selasa (15/12)

Katanya, jika fungsi pelindung kulit berkurang akan mempermudah masuknya berbagai macam benda asing seperti bakteri, dan jamur. Hal ini menyebabkan reaksi inflamasi sehingga memancing penderita menggaruk area tersebut.

Ia menambahkan, penanganan DA umumnya menggunakan steroid topikal karena dapat mengurangi rasa gatal dan mengendalikan ruam. Namun penggunaan steroid topikal dalam waktu lama membuat DA menjadi resisten.

Seharusnya, langkah ini diimbangi dengan penggunaan pelembab untuk mengembalikan kelembaban kulit, memperbaiki fungsi pelindung kulit, mengurangi pruritus, memberikan efek anti inflamasi, memiliki pH yang asam.

“Salah satu pelembab yang memenuhi persyaratan tersebut adalah Noroid pelembab dengan komposisi dan struktur yang sangat mirip dengan struktur lamellar pada kulit,” paparnya. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!