26 C
New York
06/07/2020
Aktual

Presiden Harus Selamatkan Krisis Ekologi dan Sosial Pulau Jawa

JAKARTA (Pos Sore) — Lebih dari 200 akademisi, tokoh agama dan kebudayaan serta aktivis sosial menyampaikan keprihatinan terhadap penanganan krisis ekologi dan sosial di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, kepada Presiden Joko Widodo.

Mereka tergabung dalam Forum Pengajar, Peneliti dan Pemerhati Agraria, Lingkungan dan Kebudayan.

“Kami berharap kepada Presiden untuk menyelamatkan lingkungan dan sumber daya alam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dengan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah berlanjutnya krisis social dan ekologis melalui kebijakan yang progresif disertai implementasi yang tepat”, papar Dr. Soeryo Adiwibowo, koordinator Forum yang juga pengajar di Institut Pertanian Bogor.

Menurutnya, proyek-proyek pembangunan di Jawa, secara khusus industri semen, waduk, pembangkit listrik tenaga uap berbasis batubara, dan penambangan mineral lain, masih belum memberikan keadilan lingkungan dan sosial pada rakyat khususnya masyarakat terdampak.

“Bahkan di beberapa tempat masih belum menghormati hak-hak rakyat atas tanah permukiman dan pertanian yang telah dikuasai turun-temurun,” tambah Dr. Soeryo Adiwibowo.

Eko Cahyono, Direktur Sajogyo Institute, menambahkan, salah satu contohnya rencana pembangunan industri semen yang akan menyebabkan krisis ekologi dan menimbulkan ketidakadilan lingkungan.

“Pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara yang menyebar di Kabupaten Rembang, Pati, dan Grobogan, serta di Gombong, Jawa Tengah mengindikasikan hal tersebut,” ungkapnya.

Ia menandaskan, penambangan batu gamping untuk industri semen di Kabupaten Rembang mengancam keberlanjutan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. Padahal CAT tersebut kawasan lindung geologi dan kawasan resapan air terbesar yang memasok sumber-mata air yang ada di sekitarnya.

“Volume air yang dihasilkan oleh mata air-mata air yang ada di pegununungan karst ini dalam satu hari mencapai sekitar 51.840.000 liter air. Sebanyak 10% di antaranya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat dan sisanya didistribusikan ke lahan pertanian,” paparnya.

Profesor Hariadi Kartodihardjo dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor menyatakan semua provinsi di Pulau Jawa mempunyai indeks rawan bencana banjir, longsor dan kekeringan yang tinggi.

Kondisi hutan di Pulau Jawa yang saat ini berada pada titik kritis perlu mendapat perhatian serius. Pulau Jawa hanya memiliki luasan hutan sebesar 3,38% dari seluruh kawasan hutan di Indonesia.

Dari luasan tersebut, sebesar 85,37% dikelola oleh Perum Perhutani. (tety)

Related posts

Jadikan Pemagangan Ke Jepang Sebagai Ajang Belajar

Tety Polmasari

Bango Bagikan Resep Olahan Daging Kambing Warisan Kuliner Nusantara

Tety Polmasari

Dhani : Oposisi Diperlakukan Bak Teroris

Tety Polmasari

Leave a Comment